ADA KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN

07 June 2023

Rabu, 7 Juni 2023

Yakobus 3 : 13-18       

Mazmur 25 : 2-4,4b-5ab,6-7bc,8-9  

Markus 12 : 18-27


“Ia bukanlah Allah orang mati melainkan Allah orang hidup.“ --- Markus 12 : 27


KAUM SADUKI mengajukan pertanyaan nyeleneh kepada Yesus, mereka berandai-andai ada seorang perempuan Yahudi yang menikah dengan 7 laki-laki bersaudara ( hukum Levirat ) dan tidak dikaruniai seorang pun keturunan. Kalau perempuan itu sudah mati, seandainya mereka dibangkitkan siapakah diantara 7 pria itu yang akan jadi suaminya?  Orang-orang Saduki adalah kelompok Imam Yahudi yang tidak percaya akan kebangkitan.

Yesus menjawab dengan mengatakan bahwa orang-orang Saduki itu sesat. Mereka tidak mengerti Kitab Suci, dan mengkerdilkan kuasa serta kebesaran Allah. Sebenarnya mereka menciptakan kisah  perempuan bersuami 7 bersaudara  ini untuk mendukung keyakinan  mereka bahwa tidak ada hidup kekal sesudah kematian. Mereka mencoba mencari pembenaran melalui tradisi praktik kawin mawin dalam hukum Levirat (Ulangan 25 : 5-6).  Kaum Saduki hanya berpegang dan mempercayai 5 Kitab Taurat Musa. Yesus menunjukkan kegagalan paham kaum Saduki tentang kebangkitan/hidup kekal justru melalui ayat dari kitab Musa, Ia mengingatkan mereka tentang  peristiwa dimana Allah berfirman kepada Musa sebelum mengutus Musa membebaskan bangsa Israel dari Mesir : ”Akulah Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub” (Keluaran 3:6).   Yesus menegaskan bahwa Allah yang dikenal oleh bangsa Yahudi adalah Allah orang hidup dan bukan Allah orang mati! 

Pada saat berbicara dengan Musa, saat memperkenalkan Diri-Nya kepada Musa, saat itu (dalam ucapan tata bahasa present tense) Allah menyebut diri-Nya sebagai Allah dari tiga bapa bangsa yang telah meninggal tersebut. Ini  mengungkapkan bahwa mereka bertiga, Abraham, Ishak, Yakub, saat itu tetap ada dan hidup di hadapan Allah, dan Allah adalah tetap Allah mereka.  Kematian tidak bisa mengalahkan kuasa Allah, kematian tidak bisa melenyapkan orang-orang dari hadapan Allah Sang Pencipta.  Semua orang, entah masih hidup di dunia atau sudah tidak ada di dunia, mereka semua ada di hadapan Allah,  abadi.  ( Injil Sinopsis, Lukas 20 : 38 ).  Dalam hal ini, orang-orang Saduki meyakini bahwa jiwa mati bersama dengan kematian badan.

Bagi kita, umat Katolik, jelas paham Saduki bukanlah bagian dari iman kita. Kita dengan lantang mengungkapkan iman percaya kita dalam Credo “Aku Percaya”.  Kita yakin dengan iman kita, yakin akan adanya kebangkitan dan kehidupan kekal karena kita telah mengetahui kebenaran-Nya. Yesus Kristus, telah membuktikan kepada umat manusia, Ia wafat dan telah bangkit dan naik ke surga. Ia ada bersama Bapa-Nya, dan seperti yang dijanjikan-Nya kelak Ia akan datang kembali membawa semua orang percaya tinggal bersama-Nya. (VLB).

 

­­­­­­­­­DOA:  ”Allah Bapa Yang Mahabaik, curahkanlah Roh Kudus-Mu atas kami, bimbinglah supaya kami dapat menjaga hidup kami berkenan di hadapan-Mu sehingga kami kelak boleh hidup dalam kebahagiaan kekal bersama-Mu. Amin.”

JANJI: “Tuhan itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati."  Mazmur 25 : 8-9

PUJIAN: Raja Daud, seorang Raja yang pernah hidup dalam kesesatan, Ia membunuh Uria demi mendapatkan istri Uria. Namun karena hati Daud yang selalu mencari Allah ketika ia sedang sukacita maupun ketika dia dalam kesukaran, dan ia senantiasa merendahkan hatinya di hadapan Allah, maka Allah pun membimbing Daud dalam perjalanan hidupnya,        mengampuni kesalahannya, dan tetap janji-Nya kepada Daud.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.