ADA KEMUNAFIKAN FARISI DI HATI KITA
25 August 2021
Rabu, 25 Agustus 2021
1 Tesalonika 2:9-13
Mazmur 139:7-12
Matius 23:27-32
“Kamu seperti kuburan, yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran” Matius 23:27
KATA ‘CELAKALAH KAMU’ sampai tujuh kali disabdakan Yesus kepada para alim ulama Yahudi (Mat 23: 13-30), sebenarnya juga menjadi pertanyaan bagi kita: Bagaimana mungkin ada orang yang luar nampaknya alim dan saleh, ternyata di dalamnya busuk dan bobrok. Apakah mereka tidak menyadari diri betapa jauhnya diri mereka dari Tuhan? Atau mereka sendiri itu yakin bahwa diri mereka itu tak berdosa sewaktu bergaya agar nampak saleh?
diri. Jangan sampai kita hanya memperhatikan kumanfikan orang dari jauh, seakan-akan hal itu hanya milik mereka. Ada penulis kondang dari Rusia, bernama ‘Alexander Solzhenitsyn’, mengatakan, yang membedakan ‘baik’ dan ‘buruk’ , bukan antara kelompok atau geng ataupun masyarakat tertentu, tetapi itu membelah hati setiap orang. Maksudnya, ada unsur ‘kefarisian’ dalam diri kita masing-masing. Kita bisa saja buta akan dosa-dosa kita sendiri. tak merasa senang kalau ada orang mengritik atau memberi masukan demi kebaikan kita. Kita cenderung untuk membenarkan diri kita sendiri. Lebih banyak energi kita habiskan untuk menutup-nutupi kesalahan kita dan untuk memberi kesan yang bagus-bagus diri kita bagi orang, daripada dengan rendah hati mengakui kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya.
Terpujilah Allah yang tak pernah berhenti memanggil kita untuk keluar dari kubur yang kita bangun untuk diri kita. Kalau kita mau berpaling kepada-Nya, Tuhan akan memberi kita keberanian untuk mencari dan meneliti hati kita, mau dengan rendah hati mengakui dosa-dosa kita, dan mohon berkat melangkah ke luar ke terang cahaya Kristus. Ia tidak hanya mengampuni dan menghapus dosa, tetapi juga ‘mengurapi kita dengan aroma Kristus’. (SW)
DOA: “Tuhan, berkenanlah membuat kami rendah hati dan membuat kami kuat.”
JANJI: “Kita mengucap syukur, ...Allah dari semula telah memilih kamu untuk diselamatan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.” 1 Tesalonika 2:13
PUJIAN: Menurut ‘Google’, “Munafik memiliki arti suka menampakkan sesuatu yang sejalan dengan kebenaran di depan orang banyak, namun sebetulnya tidak sesuai dengan kondisi pada batinnya serta perbuatannya. Ciri orang munafik biasanya yaitu suka berubah-ubah karakternya. Terutama saat interaksi dengan sesama manusia, baik itu tidak sesuai antara percakapan maupun dengan perbuatan mereka.”
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ