AKULAH ROTI HIDUP
06 June 2021
Minggu, 6 Juni 2021
HR Tubuh & Darah Kristus
Keluaran 24:3-8
Mazmur 116:12-13, 15, 16bc, 17-18
Ibrani 9:11-15
Markus 14:12-16, 22-26
“… Ambillah, inilah tubuh-Ku!” ---- Markus 14:22
TIDAK DIPUNGKIRI mamon (uang) menjadi fokus utama manusia di dunia ini. Mengapa uang begitu penting ? Dengan uang orang dapat membeli apa saja yang diinginkannya. Akibatnya orang berjuang mati-matian, banting tulang siang malam, bahkan meninggalkan orang-orang yang dikasihi hanya untuk mencari yang namanya “Uang”. Manusia digiring ke pemikiran seolah-olah uang adalah raja dan kunci kebahagiaan. Apakah betul dengan harta dan uang melimpah orang merasa bahagia? Kenyataannya banyak orang kaya yang keluarganya hancur. Istrinya atau suaminya berselingkuh, anak-anaknya terlibat narkoba dan pergaulan bebas. Setiap hari hanya cekcok dan pertengkaran yang terjadi. Ini membuktikan uang bukan segala-galanya dan sumber kebahagiaan sejati. Uang memang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Tetapi ada satu ruang kosong di hati mereka yg tidak bisa diisi oleh harta dan uang.
Manusia lupa bahwa hidup bukan hanya soal makan dan minum, atau soal uang saja. Tetapi seperti jawaban Yesus, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat 4:4)
Hari ini Tuhan Yesus sendiri secara khusus menawarkan kepada kita, “Ambilllah, inilah tubuh-Ku!” Mari kita mengisi satu ruang kosong yang ada di hati kita dengan Sang Roti Hidup – ya Yesus sendiri -, yang akan memberikan kebahagiaan sejati yang dunia tidak bisa berikan sekalipun harta dan uang kita berlimpah. Terimalah Sang Roti Hidup! (NL)
DOA: Ya Bapa, ingatkan kami bahwa hidup bukan hanya soal makan, minum dan uang saja. Lepaskan kami dari ikatan-ikatan duniawi untuk mengisi hati kami dengan Roti Hidup, sumber kebahagiaan sejati. Amin.
JANJI: “Aku hamba-Mu, anak dari hamba-Mu perempuan! Engkau telah membuka ikatan-ikatanku.” ---- Mazmur 116:16bc
PUJIAN: Beato Didakus Carvalho (1578-1624), baru saja dinyatakan “Beato” oleh Gereja. Terinspirasi oleh kisah para misionaris di Jepang, yang ia baca dan dengar, ia tertarik menjadi misionaris. Keluarga pindah ke Goa India. Usia 22 th ia masuk Yesuit di Goa, studi dan theologi di Macau, ditahbiskan imam (1612), belajar bhs Jepang. Ia diutus ke Jepang mewartakan Injil dan berhasil. Di zaman Shogun Tokugwa, semua misionaris diusir dari Jepang. Ia bersama 100 yesuit mengungsi ke Macau. Th 1617, ia kembali ke Jepang, berkarya di Hokaido, menginjili suku asli Jepang, Ainu. Tahun 1624, ia ditangkap , dibenam di air beku, lalu dibunuh, tanggal 22 Februari, 1624. Sebagai martir, bergelar Beato, ia diperingati tanggal 22 Februari dalam Gereja.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ