ANAK DOMBA DI TENGAH SERIGALA

03 October 2024

Kamis, 3 Oktober 2024

Ayub 19:21-27

Mazmur 27:7-8a.8b-9abc.13-14

Lukas 10:1-12


”Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” --- Lukas 10:3


PERNYATAAN YESUS yang mengutus murid-Nya untuk pergi mewartakan Kerajaan Allah menggambarkan sesuatu yang kontras, karena murid Yesus diminta seperti anak domba yang pergi ke tengah-tengah serigala. Hal ini terasa kontras sebab anak domba melambangkan sifat kelemah-lembutan, ketidak-berdayaan atau ketergantungan sedangkan serigala lambang ancaman atau bahaya. Dua hal yang jauh berbeda.

Dengan perumpamaan ini Yesus ingin menggambarkan dan mengingatkan kepada para murid-Nya bahwa tugas perutusan itu akan menghadapi banyak tantangan dan kesulitan, namun para murid diharapkan dapat bersikap rendah hati, lemah lembut dan mengandalkan Tuhan bukan mengandalkan kemampuannya  sendiri. 

Pesan yang disampaikan oleh Yesus ini berlaku bagi kita yang juga sebagai murid-Nya. Pesan ini tampak begitu mendalam terutama dengan kondisi dunia saat ini yang penuh tantangan, ketidakpastian dan konflik. Kita seringkali menghadapi situasi atau kondisi yang serupa dengan  serigala. Tantangan selalu ada dalam kehidupan keluarga, dalam pekerjaan atau dalam kehidupan bermasyarakat yang tidak mendukung atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani. Seringkali kita dihadapkan dengan konflik, ketidakadilan atau penolakan prinsip iman yang kita percayai.

Menghadapi situasi seperti ini, kita hendaknya dapat bersikap rendah hati, lemah lembut dan penuh kasih. Sama halnya dengan anak domba yang mengandalkan gembalanya, kita juga diingatkan untuk bergantung kepada Tuhan. Melalui doa yang kita naikkan dengan sepenuh hati, itulah kunci agar mendapatkan bimbingan dan kekuatan dalam hidup yang penuh tantangan.

Hubungan yang lebih baik dengan sesama dapat kita jalin melalui hidup sederhana dan belas kasih. Hal ini dapat  membawa pengaruh positif di lingkungan sekitar kita. Kegagalan atau penolakan tidak membuat kita patah semangat tetapi memberikan kita kesempatan untuk belajar dan bertumbuh dalam iman. 

Sanggupkah kita untuk bersikap rendah hati, lemah lembut dan penuh kasih serta tetap mengandalkan Tuhan dalam menghadapi setiap tantangan dalam kehidupan kita? (Aviarini)

 

DOA: ”Tuhan Yang Maha Baik, kami bersyukur panggilan-Mu untuk menjadi saksi-Mu dalam dunia yang penuh tantangan ini, ingatkanlah aku untuk selalu mengandalkan-Mu dan mampukanlah aku untuk dapat bersikap rendah hati, lemah lembut dan teguh dalam iman, Amin.”

JANJI: ”Hatiku mengikuti firman-Mu: "Carilah wajah-Ku"; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN.” - Mazmur 27: 8 

PUJIAN: Dua orang kudus bernama Ewald berasal dari daerah yang sama yaitu Northumbria, Inggris, yang satu dikenal dengan sebutan Ewald the black karena ia memiliki rambut berwarna hitam dan yang satunya disebut  Ewald the fair karena memiliki rambut pirang. Mereka melanjutkan studi di Irlandia bersama-sama hingga ditahbiskan menjadi imam dan berkarya sebagai misionaris bersama Santo Willibrodus. Semula mereka berkarya di Antwerpen, Belgia kemudian mewartakan Injil kepada suku-suku bangsa yang masih kafir di wilayah-wilayah sekitar. Kedua Ewald ini tiba di wilayah bangsa Saxon di Westpalia tahun 690. Mereka diterima baik oleh kepala suku disitu dan dengan penuh tanda tanya.  Penduduk setempat memandang mereka dengan penuh cemas dan curiga. Mereka dicurigai sebagai orang-orang jahat yang membahayakan kemerdekaan bangsa Saxon. Oleh karena itulah maka keduanya diserang dan dipukuli dengan gada. Ewald si pirang tewas seketika, sedangkan Ewald yang berambut hitam tak mau menyerah. Ia berbicara menjelaskan maksud kedatangan mereka. Namun ia tetap disiksa lebih mengerikan hingga tewas mengenaskan. Tubuh kedua orang ini dilemparkan ke Sungai Rhine, tetapi secara ajaib kedua jasad tersebut dipindahkan sejauh 40 km sebelah hulu ke tempat di mana teman-temannya sedang berkemah. Keduanya dimakamkan di tempat pemakaman yang sama. Pada tahun 1121, Santo Nobertus memindahkan Relikwi Santo Ewald the Black dan Santo Ewald the Fair ke biara Premonstratensian di Namur. Tahun 1534 Relikwi kedua orang martir ini dihancurkan oleh kaum Anabaptis ketika terjadi penyerbuan biara. Kedua orang kudus ini dihormati Gereja sebagai misionaris dan martir yang mati terbunuh dalam karya pewartaannya di kalangan orang kafir.

Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.