ANAK KESAYANGAN
11 December 2018
Selasa, 11 Desember 2018
Yesaya 40:1 11
Mazmur 96: 1–3. 10ac. 11 – 13
Matius 18 : 12 – 14
“ Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang." ---- Matius 18:14
KETIKA MASIH KECIL, orangtua saya suka mengajak saya untuk liburan bersama saudara. Setiap liburan Natal atau tanggal merah pasti kami manfaatkan untuk bermain dan berkumpul bersama dengan keluarga. Setiap saya bermain dengan saudara-saudara, saya selalu melihat satu sosok yang selalu sigap dan penuh perhatian mengawasi kami bermain. Sosok itu adalah kakek saya. Beliau selalu menjaga kami saat kami bermain, seakan-akan kami adalah harta berharga di matanya. Ketika ada salah satu dari kami terjatuh, kakek dengan sigap menghampiri dan mengulurkan tangannya dan langsung memeluk kami. Seolah-olah pelukannya adalah obat yang menenangkan kami di kala itu. Hal sederhana yang dilakukan kakek namun sangat berarti bagi kami.
Hal seperti inilah yang dilakukan Allah untuk kita anak-anakNya. Kita anak kesa-yangan Allah yang diciptakan serupa dengan Allah. Tidak ada perbedaan bagi Allah. Semua ciptaanNya adalah sama. Lalu apa keuntungan kita sebagai anak Allah? Bukannya sama saja dengan yang lain?
Hidup sebagai anak Allah, membuat kita merasakan betul kasih Allah dalam hidup kita. Yesus hadir sebagai penyelamat kita, menebus dosa kita karena kita begitu berharga sebagai ciptaan Allah. Kita dijadikan oleh Allah seperti kawanan domba dan Allah adalah gembalanya, seperti dalam Yesaya 40:11, “ Seperti seorang gembala menggembalakan kawanan ternakNya dan menghimpunkannya dengan tanganNya; anak-anak domba dipangkuNya, induk-induk domba dituntunNya dengan hati-hati.”
Namun seringkali kita lupa dengan-Nya dan menjauhkan diri dari Allah melalui ketidak patuhan kita, dengan melakukan apa yang kita ingini bukan yang Allah kehendaki. Meski dosa kita telah ditebus oleh Yesus, dan diampuni kalau kita bersalah, kadang kita masih mengulangi lagi dosa-dosa itu. Kadang kita menganggap sepele dosa yang kita buat, dan berpikir bahwa dosa yang kita buat akan terhapus jika kita mengakui dan bertobat di hadapan Allah.
Walaupun kita menjauhkan diri dari Allah, Ia tetap rela membuka tanganNya untuk menerima kita pada saat kita ingin kembali kepadaNya. Tanpa ada rasa marah sedikitpun terhadap kita yang telah mengecewakanNya. Bahkan Allah rela turun tangan sendiri untuk mencari kita yang merasa sudah terlalu enak hidup jauh dariNya. Dan apa sabda Yesus dalam hal ini ? “Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.“ (Mat 13:13), ditegaskan seberapa berharganya kita di mata Allah, sehingga dia rela mencari kita untuk kita kembali kepadaNya.
Marilah kita mulai melihat kembali ke dalam diri kita, apakah selama ini yang kita perbuat telah mendekatkan diri kita kepada Allah yang sangat menyayangi kita atau malah sebaliknya, menjauhkan diri dari Allah. Semoga dalam menjalankan setiap aktivitas kita, kita bisa lebih beriman kepada Allah dan bisa lebih dekat lagi denganNya. (CEM2)
Doa: Ya Bapa, kami bersyukur untuk kasiMu yang kau limpahkan kepada kami, anak-anakMu. Semoga apa yang kami lakukan dan kami kerjakan mulai dari sekarang bisa berkenan padaMu dan bisa lebih menyenangkanMu.
Janji: “Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang”. ---- Matius 18:14
Pujian: Santa Monika, selalu mendoakan anaknya Agustinus, agar anaknya mengubah hidupnya dengan bertobat dan menjadi lebih murid Yesus. Doa yang tidak putus seorang ibu untuk anaknya.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ