ANAK MANUSIA ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT?

16 January 2024

Selasa, 16 Januari 2024

1 Samuel 16:1-13

Mazmur 89:20.21-22.27-28

Markus 2:23-28


“Hari sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.“ --- Markus 2:27b-28


SABAT (SHABBAT) berarti ‘istirahat’ atau ‘berhenti bekerja’ dalam bahasa Ibrani, sesuai terjemahan dari Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Dijelaskan pula dari kata ini muncul konsep ‘sabatikal’ yaitu berhenti bekerja pada Sabat. Orang Yahudi menganggap peringatan Sabat sebagai hari ke-7 setiap pekannya, dipercayai saat Allah menciptakan alam semesta, dimana manusia diciptakan pada hari keenam, dan hari ke-7 Tuhan beristirahat (Kejadian 2:2-3). Dikatakan di ayat 2: “…pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh…“ Ayat 3 dikatakan Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya.

Dari Kitab Kejadian kita bisa mengetahui bahwa Tuhan tidak mengatakan kata tidak  boleh bekerja. Bahkan Tuhan sendiri memberkati hari ketujuh yang selanjutnya dikenal sebagai hari Sabat. Tuhan berhenti dan beristirahat karena Ia telah menyelesaikan pekerjaan-Nya menciptakan alam semesta. Bukankah itu yang wajar dikerjakan setelah kita selesai untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan lagi untuk memulai pekerjaan selanjutanya? Namun dengan berjalannya waktu, umat Israel menjadikan hari ‘Tuhan beristirahat” itu sebagai hukum yang MENGHARUSKAN orang TIDAK BOLEH MELAKUKAN apapun YANG DIANGGAP PEKERJAAN bahkan hingga melanggar Sabat. Itu sungguh menyimpang dari niat Tuhan bahkan menjadikan Sabat seperti lebih tinggi posisinya dari manusia sendiri. Dimana awalnya untuk beristirahat yang berguna untuk membantu manusia dan bukan untuk mempersulit. Juga ada yang penting yang terlewatkan atau dilewatkan oleh orang Yahudi, dimana Tuhan beristirahat karena Ia telah menyelesaikan pekerjaan-Nya. Sehingga jika kita memang perlu “bekerja” pada hari itu karena belum selesai ataupun perlu dikerjakan, tidak ada larangan untuk melakukannya. Kita yang menentukan, apakah perlu atau bisa ditunda dan berhenti sejenak dari kegiatan rutin kita. Untuk membantu kita dan bukan untuk mempersulit. Namun pada masa itu, Sabat dijadikan sebagai Hukum yang lebih membebani daripada membantu. Menjadikan Sabat sebagai sandungan dan alasan untuk mempersalahkan yang tidak bersalah.

Yesus mengingatkan kembali makna Sabat dengan mengatakan “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Markus 2:2). Bahwa Sabat hanya untuk membantu manusia dalam mengatur hari-harinya sehingga kita tidak hanya bekerja dan bekerja tanpa beristirahat sehingga merusak tubuh kita. Tubuh ciptaan-Nya, yang sungguh sangat baik saat diciptakan Tuhan. Yesus mengingatkan bahwa manusia lebih tinggi nilainya dari Sabat sehingga bisa mengunakan Sabat sesuai kebutuhannya dan bukan kebutuhan manusia yang menyesuaikan sabat.

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Namun pada masa itu, umat Israel menjadikan nilai manusia lebih rendah dari Sabat, yang sesungguhnya hanyalah cara yang Tuhan berikan untuk membantu manusia mengatur hari-harinya. Cara untuk mempermudah hidup kita dan menjadikan hidup kita lebih nyaman dan bukan sebaliknya. Kita adalah ciptaan berharga dimata Tuhan. Bahkan kita ditinggikan dari sekedar ‘ciptaan’ Nya menjadi anak-Nya. Sebagai anak Tuhan, kita harus bisa menempatkan diri kita dengan layak dan benar. Bukan dengan harta kekayaan, ketenaran ataupun kekuasaan, namun dengan mengikuti teladan Putra-Nya, Yesus Kristus. Menempatkan diri kita sesuai dengan nilai yang diberikan pada kita dengan mengenal pribadi Bapa melalui Sang Putra. Dan menempatkan diri kita pada tempatnya sesuai tuntunan Terang cahaya Roh yang kudus. (Beatrix Tanet).

 

DOA: “Bapa, terima kasih atas kasih-Mu yang tiada pernah habis. Ajari aku untuk mengerti cara mengisi hari-hari di dalam kehidupan ini sesuai dengan rencana-Mu. Yesus-ku, sungguh aku bersyukur memiliki sahabat seperti-Mu, yang tak pernah meninggalkan daku. Biarpun aku terlalu sering berbuat dosa, namun kasih-Mu terus menyelamatkanku. Roh yang Kudus, terangi setiap langkahku, setiap sudut gelap di hatiku. Terangi seluruh keberadaanku, sehingga tidak ada lagi yang tersembunyi bagi-Mu, Amin.”

JANJI: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” -  1 Samuel 16 : 7b

PUJIAN: Santo Paus Marcellus I – Paus Gereja Katolik ke-30. Kemartiran Paus Marselinus (paus ke-29) di tahun 304M mengakibatkan kekosongan kepemimpinan tahta suci selama empat tahun. Gereja mengalami pembantaian umat Kristen oleh kaisar Diokletianus (284-305), Pada tahun 308 setelah tiga tahun kematian kaisar Diokletianus, imam Marsellus terpilih menjadi paus ke-30. Tidak banyak info tentang beliau sebelum terpilih menjadi paus. Walaupun masa kepausannya cuma berlangsung  selama tujuh bulan (27 Mei 308 - 16 Januari 309), namun memiliki pengaruh besar pada perkembangan gereja. Ia memimpin umat ditengah situasi yang kacau balau. Ia berusaha menata kembali administrasi Gereja kedalam wilayah-wilayah pelayanan, yang sekarang dikenal sebagai Paroki di bawah kepemimpinan seorang imam. Para imam bertugas memimpin  umat terutama katekumen; melayani sakramen pengakuan, mendoakan dan turut menguburkan jenazah orang-orang Kristen yang meninggal; dan bersama umat merayakan upacara untuk mengenang para martir. Upaya Marsellinus I menata kembali gereja bukan tanpa halangan dimana puncaknya terjadi bentrokan berdarah. Sehingga kaisar Maxentius (306-312) menangkap dan mengasingkan Marsellus I ke luar kota Roma. Ia meninggal sebagai martir pada Januari 309 tidak lama setelah tiba di tempat pengasingannya.

Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.