APA YANG ADA DALAM PIKIRAN KASIH
17 January 2020
SATU PERJAMUAN
JANUARI 2020
Jumat, 17 Januari 2020
St. Antonius
1 Samuel 8:4-7
Mazmur 89:16-19
Markus 2:1-12
“Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu ‘Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni” ---Markus 2:5
MAKSUD HIDUP kita ini adalah guna menembanglan relasi yang semakin mendalam dengan Yesus, sehingga kita akn mempersembahkan hidup kta ini seutuhnya kepada-Nya. Upama saja, apa yang paling penting dalam pikiran Yesus. Ia melihat orang lumpuh itu, diturunkan dalam suatu papan dari atap rumah yang dibuka, Yesus berkata, “Anak-Ku, dosamu diampuni!” Pikiran Yesus berpusat pada pengampunan dosa-dosa kita. Ia wafat di kayu salib tiada lain guna mengambil dosa (1 Ptr 2:24).
Dan lagi sewaktu Yeus melihat empat orang menurunkan orang lumpuh itu pada papan, Yesus melihat iman mereka (Mrk 2: 5). Yesus mencari-cari iman, sebab karena iman kita memperoleh rahmat pengampunan atas dosa-dosa kita, dan karena pengampunan dosa ini, kita akan dapat tumbuh berkembang dalam iman. Dan makna nama “Yesus” sendiri adalah “Yahwe menyelamatkan”. Maka baiklah kita mengharapkan bahwa Yesus akan selalu memikirkan apa saja yang masuk ke dalam aspek-aspek ekselamatan, conotoh saja, rahmat, iman, pengampunan dosa dan hidup kekal.
Untuk langsung merujuk kepada Yesus, kita perlu memiliki “budi pikiran Yesus sendiri” (1 Kor 2:16) dan juga memiliki apa yang diunggulkan. Sewaktu kita berpikir-pikir akan upaya supaya semakin serupa Yesus, kita akan semakin dalam mengasihi Dia dan datang memuji menyembah-Nya, kalau kita mengasihi Dia dengans egenap hati kita dan pikiran kita (Luk 10:27).
Mari kita tergerak unytuk lebih mengenal Yesus lagi. Menemrima Dia selaras kehendak-Nya. Mengasihi Dia serta mempersembahkan diri kita seutuhnya kepada-Nya.
DOA: Bapa, kami mohon rubahlah pikiranku ini agar aku benar-benar bisa mengasihi-Mu lebih lagi!
JANJI: ”Engkaulah kemuliaan kekuatan mereka, dan karena Engkau berkenan, tanduk kami menunggu
PUJIAN: Kita rayakan St. Antonius, pelopor hidup bertapa dalam Gereja. Ia menghayati secara radikal kemiskinan Injili (Mat 19:21). Dia tinggal di padang gurun Mesir. Pola hidup miskinnya justru menarik banyak orang. Mulailah di awal abad 4, corak hidup pertapa dalam Gereja, atau Monastik. Dan dia-lah Bapa Monasticisme.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ