ATURAN EMAS DALAM PENGAMPUNAN
14 March 2023
Selasa, 14 Maret 2022
Tambahan Daniel 3:25,34-43
Mazmur 24:4b-5b.6.7c.8-9
Matius 18:21-35
”Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” --- Matius 18:22
PENGAMPUNAN ITU perlu kita lakukan secara terus menerus, karena hal ini merupakan salah satu sifat Allah yang perlu kita tiru. Manusia pada umumnya sulit untuk memberi pengampunan, tetapi mudah untuk meminta pengampunan, seperti yang diuraikan dalam bacaan Injil hari ini. Tetapi Tuhan Yesus menekankan bahwa kita perlu untuk memberi pengampunan secara tidak terbatas. Dalam hidup sehari-hari, kita sering melakukan kesalahan, setelah itu kita dengan mudah dan ’enteng’ untuk meminta maaf kepad orang itu. Demikian juga terhadap Tuhan, kita dapat meminta ampun dengan mudah. Tetapi setelah minta ampun kita tidak boleh lupa untuk memberikan janji bahwa hal itu tidak akan kita ulangi lagi, seperti yang kita katakan dalam doa tobat saat kita menerima sakremen pengakuan dosa. Hal yang sama kita perlu lakukan juga terhadap orang lain yang bersalah kepada kita. Hal ini tertulis dalam Matius 7:12, yang dikenal sebagai ”aturan emas” dan bunyinya ‘Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.’ Jadi bila kita ingin diampuni, maka marilah kita pun memberi pengampunan terlebih dahulu kepada orang yang bersalah kepada kita. Aturan emas ini merupakan penerapan dari hukum Kasih yang diajarkan sendiri oleh Tuhan Yesus. Marilah kita terapkan dalam kehidupan kita seharihari. (DAG).
DOA: ”Tuhan Yesus, terimakasih atas hukum kasih yang Kau ajarkan kepadaku. Bimbing aku untuk menerapkannya dalam kehidupan ini, terutama dalam memberikan pengampunan kepada orang lain.”
JANJI: ”Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!” Mazmur 79:9
PUJIAN: Santo Petrus telah menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali, dengan menyatakan bahwa ia tidak mengenal-Nya saat Tuhan Yesus sedang diadili di pengadilan agama. Tetapi ia segera menyadari kesalahannya dan memohon ampun kepada-Nya, dan hal inilah yang tetap membuatnya menjadi murid utama Tuhan Yesus, dan menjadi batu karang untuk mengembangkan gereja Katolik dengan diangkat menjadi Paus yang pertama.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ