BAGAI MUTIARA DALAM LUMPUR
13 September 2021
Senin, 13 September 2021
St. Yohanes Krisostomus
1 Timotius 2:1-8
Mazmur 28:2, 7, 8-9
Lukas 7:1-1
“Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Lukas 7:9
I MAN KUAT ditunjukkan oleh seorang perwira Romawi di Kapernaum. Ketika ia mendengar keberadaan Yesus di kota itu, ia teringat hambanya yang sedang sakit. Ia telah mendengar di kota lain Yesus membuat mukjizat penyembuhan. Sebagai penghormatan kepada Yesus, ia mengutus beberapa orang tua-tua Yahudi menemui Yesus supaya datang menyembuhkan hambanya (Luk 7:3). Perwira itu tidak merasa layak untuk dikunjungi Yesus, karena dirinya orang Romawi yang dipandang kafir oleh orang Yahudi, meski di mata orang Yahudi perwira itu sangat baik dan murah hati (Luk 7:4-5), maka pantas ditolong. Dan Yesus menanggapinya dengan bersedia mau datang ke rumahnya. Tetapi perwira itu mencegah-Nya. Baginya Yesus cukup bersabda saja, maka hambanya akan sembuh. Ia mengungkapkan imannya dengan membuat perbandingan bahwa kata-katanya dituruti oleh bawahannya. apalagi sabda perintah Yesus (Luk 7:6-7).
Iman sang perwira–meski di mata orang Yahudi dia dianggap kafir–tetapi sebaliknya di mata Yesus begitu besar. Yesus tidak pernah menjumpai orang dengan iman yang sedemikia sangat heran dan berkata bahwa imannya yang besar seperti itu, belum pernah Ia jumpai di antara orang Israel (Luk 7:9). Yesus pun lalu mengabulkan permohonan perwira itu dengan menyembuhkan hambanya.
Peristiwa iman perwira tersebut dapat menjadi pertanyaan juga bagi kita.
? Apakah kita memiliki iman kepada Yesus sebesar iman perwira Romawi yang dianggap kafir itu?
? Apakah kita juga memiliki kepedulian dan cinta kepada sesama khususnya orang-orang yang memandang rendah diri kita, sebagaimana perwira Romawi bersikap kepada orangorang Yahudi di kota Kapernaum dan kepada hambanya?
? Apakah kita ingat akan kerendahan hati dan tingginya rasa hormat sebagai ungkapan iman sang perwira kepada Yesus, sewaktu kita mau menyambut Komuni Kudus dengan mengucap ‘Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh?’ (THON)
DOA: “Ya Yesus, mampukanlah aku supaya selalu menghadirkan iman dan kasihMu dalam kehidupanku.”
JANJI: “TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepadaNya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepadaNya.” Yosua 28:7
PUJIAN: Rio sangat tertekan saat dokter menyatakan dirinya menderita gagal ginjal. Dalam kesedihannya, ia melakukan doa Yesus, yakni dengan terus menerus mengucap nama Yesus. Perlahan-lahan, ia akhirnya dapat mengerti kehendak Tuhan dan menerima sakit yang dideritanya. Setiap menghadiri Ekaristi ia memohon kesembuhan.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ