BAGAIMANA BERPUASA
04 March 2022
Jumat, 4 Maret 2022
Yesaya 58:1-9a
Mazmur 51:3-4.5-6a.18-19
Matius 9:14-15
"Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" --- Matius 9:14
PERINTAH KELIMA dari Kelima Perintah Gereja – perintah-perintah yang mencakup kehidupan kesusilaan dan kehidupan kristen dipupuk dalam Liturgi (KGK 2047) – berbunyi “Engkau harus menaati hari puasa wajib” (KGK 2043) . Bagi kita umat beriman puasa adalah merupakan salah satu ‘laku tobat’ untuk menyucikan batin kita menyongsong Hari Kebangkitan Tuhan, Paska.
Sementara itu, bagi kalangan orang Yahudi, terdapat tiga hal yang berkaitan dengan praktik keagamaan yang dianggap sangat penting yaitu, bersedekah, berdoa dan berpuasa. Oleh karena itulah Tuhan Yesus menjadikan ketiga hal dimaksud sebagai inti kritik akan praktek keagamaan sekaligus pelurusan bagaimana seharusnya menghayatinya. Itulah bagian dari ajaran-Nya dalam Kotbah di Bukit (Mat 6:1-18).
Orang Yahudi memiliki kebiasaan saleh berpuasa dua kali sepekan, di hari Senin dan Kamis. Meskipun demikian, entah apa sebabnya, justeru murid-murid Yesus tidak berpuasa. Dan murid-murid Yohanes-lah mempertanyakan hal itu kepada Yesus. Akan tetapi Yesus menjawab sembari bertanya, "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang, mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa" (Mat 9: 15).
Melalui metafora iman yang demikian ini, Yesus memberikan gambaran akan diri-Nya sebagai ‘mempelai laki-laki’ dan umat-Nya sebagai ‘mempelai wanita’. Dalam suasana pesta nikah, Yesus pun bertanya, apakah layak mempelai wanita bermuram durja saat pesta perkawinan berlangsung ? Semua pihak sudah tentu tahu bahwa, dalam sebuah pesta, kedua mempelai harus membuka pintu rumahnya untuk para tamu dan suasana sukacita pasti terlihat dalam pesta itu. Dalam pesta itu tentu tak ada seorangpun yang berpuasa.
Melalui perumpamaan ini, Yesus mengajarkan agar kalau kita berpuasa seharusnya wajah dijaga tetap cerah ceria dan hati yang bersukacita. Kita tidak hanya berpuasa di Masa Puasa saja, di hari Rabu Abu, awal Masa Puasa dan di hari Jum’at Agung. kita bebas (bukan wajib) berpuasa selama Masa Puasa, dan di hari-hari lain di mana kita menginkannya dengan suatu intensi tertentu. Berpuasa tidak perlu diketahui orang lain tidak untuk pamer bahwa dirinya baru berpuasa. Itu suatu kesombongan rohani. (Goris Lewoleba)
DOA: “Ya Bapa, terangilah hati dan budi kami, supaya kami dapat menjalani laku tobat dengan berpuasa, agar hidup kami berkenan pada Tuhan dan dimampukan menghayati kesalehan.”
JANJI: ”Apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah wajahmu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa , melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” Mat 6:18
PUJIAN: Atas Terang Ilahi, Pangeran Kasimirus dari Polandia (1458-1484) telah meninggalkan cara hidup yang mewah dan kehormatan duniawi, lalu memusatkan perhatiannya pada doa, puasa dan tapa. Banyak waktu dihabiskan dengan berdoa.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ