BAHAGIA BERSAMA BAPA DI SURGA
27 May 2020
Rabu, 27 Mei 2020
Hp Hari 6
Kisah Para Rasul 20:28-38
Mazmur 68:29-30, 33-36
Yohanes 17:11b-19
“Tetapi sekarang Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih di dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka” - Yohanes 17:13
ITULAH DOA YESUS, sewaktu sesudah Perjamuan dan sebelum Dia ditangkap. Sabda-sabda-Nya Ia sampaikan, itu tertuju kepada kita, agar kita ikut serta bersukacita dengan Yesus, yang mau kembali menghadap Bapa, yang mengutus-Nya. Apa yang terjadi pada Yesus juga akan terjadi pada diri kita. Dan Kebangkitan-Nya membawa kepenuhan hidup.
Misa Requiem atau Misa peringatan Arwah umat beriman, adalah Misa Kebangkitan. Sebagai Injil pilihan-Nya adalah berita kebangkitan, entah Lazarus, pemuda dari Naim anak seorang janda, atau juga kebangkitan dari mati puteri Yairus, ataupun malahan juga kebangkitan Yesus sendiri dari alam maut, dengan penampakan-penampakan-Nya.
Seorang ibu yang mengundang Pastor untuk Misa Peringatan tiga hari kematian suaminya, meski dia tetap sedih karena kehilangan suami tercinta, tetapi ia juga menegaskan dari iman yang dalam, bahwa ‘suaminya telah kembali ke rumah Bapa’, seperti Yesus, dan telah bertemu dengan Yesus, dan telah menerima hidup yang penuh’.
Kata-kata ibu tadi penuh dengan harapan, dan menjadi pegangan sukacita dalam hidup selanjutnya. Di tengah duka, ia tetap dapat merasakan secercah sukacita karena suaminya telah hidup baru, dengan cara yang berbeda yakni yang sama sekali baru, bersama Bapa.
Allah itu sangat sayang dan mengasihi kita . Ia kehendaki agar kita-kita ini bersama Dia selalu. Hidup kita berubah bukannya dimusnakan. Itulah yang menjadi sumber sukacita dan kegembiraan kita.
DOA: Ya Tuhan, saya ucapkan terima kasih untuk angerah hidup kepada saya, dan hidup ini tak pernah binasa.
JANJI: “Firman-Mu adalah kebenaran. Kuduskan mereka dalam kebenaran” - Yohanes 17:17 b,a
PUJIAN: Dalam Misa Peringatan Arwah, sayang, masih ada umat yang sering lebih mengedepankankesedihan dan pengampunan atas kesalahan dan dosa bukannya sukacita kebangkitan dan hidup bahagia bersama Allah. Seorang Pastor Paroki mengalami sewaktu dia diminta ujud Misa untuk memperingati arwah anggota keluarga yang telah dua puluh atau dua puluh lima tahun meninggal.