BAYI YESUS DISAMBUT OLEH YANG LANSIA

30 December 2021

Kamis, 30 Desember 2021 

1 Yohanes 2: 12-17 

Mazmur 96: 7-10

Lukas 2: 36-40

 

“Di situ (Bait Suci) ada Hana, … Ia sudah sangat lanjut umurnya. …dan sekarang ia janda berumur delapan puluh empat tahun” Lukas 2: 36-37

 

KEMARIN KITA  merenungkan Simeon yang sudah siap dipanggil Tuhan kalau telah berjumpa dengan Bayi Yesus, sang Mesias. Dan sekarang kita berjumpa dengan Hana, anak Fanuel dari suku Asyer, yang kebetulan ia juga datang ke Bait Suci berjumpa dengan Bayi Yesus, sang Mesias atau Yang Terurapi.

Lukas mengangkat nabi wanita Hana guna membantu kita bisa menangkap keajaiban-keajaiban kalau kita memandang Wajah Allah dalam Diri Kristus.

Di sini Lukas tidak berkisah tentang Hana bagaimana dia ber-relasi dengan Bayi Yesus dan  dengan orangtua-Nya, sebagaimana Lukas bercerita bahwa Simeon  menyambut dan menatang Bayi Yesus, serta bernubuat peristiwa depan yang akan menimpa Bayi Yesus dan Ibu-Nya.

                  Kita akan menggunakan tehnik tafsir model Jawa, yakni, “Othak-athik gathuk!”. Maksudnya, kita menafsir dengan ‘merekayasa’ dengan nalar sehat, hal-hal  seputar Hana.

  • Pertama, dalam Lukas, Hana dikenal sebagai “anak putri Fanuel” (Luk 2:36) – nama yang secara harafiah dari “Fanuel” berarti “wajah Allah”. Maka dapat dikatakan sejak lahir Hana itu secara kiasan dapat dikatakan memandang wajah Allah. Dan sekarang di Bait suci, dia mendapat ‘kehormatan khusus’ menatap wajah ‘Dia yang benar-benar Allah’.
  • Lukas juga mengatakan bahwa Hana itu dari suku Asyer. Asyer itu anak Yakub dari Zilpa, budak perempuan Lea. Dikatakan tentang Lea, istri Yakub, “Aku ini berbahagia! ‘Tentulah perempuan-perempuan akan menyebutkan aku berbahagia’. Maka  ia menamai anak itu Asyer” (Kej 30:13).

Jadi, nama Asyer juga berarti ‘bahagia’. Tentu akan lebih berbahagia lagi ‘seorang dari suku Asyer ini’ mendapatkan dirinya dalam hadirat Allah dalam Diri Bayi Yesus !

  • Akhirnya, usia Hana juga sangat memiliki makna khusus. Ia telah berusia 84 tahun. Ia menjadi wakil dari suku Israel yang berjumlah 12. Dan angka 12 itu dikalikan dengan ‘angka yang sempurna dalam adat budaya Israel, yaitu angka 7. (Dalam adat Jawa angka sempurna itu 5). Maka kalau 12 dikalikan dengan 7, kita memperoleh angka 84 ! Angka ini mengungkapkan  kesempurnaan atau  ‘kepenuhan’ – kepenuhan dari segala janji Allah.
  • Dalam Bahasa Lukas, ini berarti kalau kita menemukan Yesus – memandang Yesus, berarti kita mendapatkan pemenuhan dari ‘kesetiaan janji Allah’.  Melihat Yesus adalah suatu perwujudan yang sangat bermakna bahwa Allah tidak berkenan disembah dari kejauhan, tetapi Dia ingin berada bersama kita, secara pribadi dan dapat ditangkap oleh indera kita.

Dalam hal ini kita dapat menafsir bahwa melihat dan memandang wajah Yesus di saat Natal ini bisa membawa kita ke rasa syukur yang mendalam, rasa kagum dan rasa damai.

Meneladan Hana, kita membayangkan diri bagaimana bila sewaktu melihat Bayi Yesus dan mengenal bahwa diri kita ada di hadirat Allah sendiri , Dia yang memenuhi janji-janji kepada kita. Janji-Nya tiada lain keselamatan yang terpenuhi dalam Diri Yesus. Ini tidak hanya untuk Hana, tetapi untuk kita, untuk semua umat manusia. (S.Widjojo)

 

DOA  :    Ya Tuhan, terima kasih atas kesetiaan-Mu memenuhi Janji-Mu guna menyelamatkan kami semua. 

JANJI : ”Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-kamanya!”- 1 Yohanes 2: 17 

PUJIAN:  Seorang pengajar Evangelisasi mengatakan bahwa Natal adalah perwujudan bukti nyata dari kesetiaan Allah kepada kita. Maka, menurutnya, kitapun diminta menanggapi pesan Natal dari palungan itu dengan kesetiaan dari kita sendiri: setia akan Janji Baptis, setia akan Janji Nikah, setia akan Janji Kaul.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.