BEDA : KUASA DI DUNIA DAN DI KERAJAAN ALLAH !
16 March 2022
Rabu, 16 Maret 2022
Yeremia 18:18-20
Mazmur 31:5-6.14.15-16
Matius 20:17-28
“Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan…. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin jadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu dan barangsiapa ingin jadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” --- Matius 20:25-27
SETIAP LIMA TAHUNAN kita mengadakan Pemilihan Kepala Daerah atau Pemilihan Presiden. Banyak orang yang ingin jadi pemimpin. Motif mereka pun bermacam-macam. Ada yang sebatas ingin mendapatkan prestise, fasilitas, kehormatan, nama besar, dapat melakukan segala sesuatu yang diinginkan, bahkan dapat merasakan nikmatnya dilayani oleh orang banyak. Namun ada juga yang benar-benar tulus, ingin membuat perubahan agar masyarakatnya menjadi lebih baik. Dalam waktu kampanye berbagai cara dilakukan oleh para calon pemimpin tersebut supaya dia dipilih. Ada yang memberikan janji-janji perubahan, menyebarkan uang, memberikan sumbangan, blusukan ke tempat-tempat kumuh dan sebagainya.
Dan ketika dia sudah terpilih menjadi pemimpin, dia bisa lupa melaksanakan janji kampanyenya. Ada yang memerintah dan menguasai orang lain untuk kepentingan membesarkan diri sendiri atau kelompoknya; ada juga wakil rakyat yang memanipulasi rakyat dan memanfaatkan jabatan demi keuntungan pribadi, korupsi nepotisme dan sebagainya.
Dalam bacaan Injil kita hari ini Yesus mengatakan bahwa di dalam Kerajaan Surga, mereka harus melihat dengan sudut pandang yang berbeda untuk menjadi seorang Pemimpin. Tuhan Yesus memperkenalkan konsep dan pola pemimpin di bumi dengan semangat Kerajaan Allah, yakni pemimpin itu gembala yang rela merendahkan diri dan rela berkorban . Mereka bersikap saling melayani sebagai sikap yang terbesar (ayat 26). Bahkan dalam bahasa yang lebih ekstrem, sikap menghamba juga harus menjadi ciri dari para pengikut Tuhan Yesus (ayat 27). Di dalam Kerajaan Allah, kebesaran tidak akan diukur dengan kekuasaaan kita atas orang lain tetapi dengan sejauh mana kita memberikan diri dalam pelayanan. Yesus Kristus menjadi contoh teladan bagi kita para murid-Nya dan semua pemimpin Yesus datang untuk melayani bukan untuk dilayani.
Sebelum meninggalkan para murid, setelah Perjamuan Malam, Ia meninggalkan wasiat , yakni Hukum yang baru, dan juga memberi tanda ciri-ciri khas bahwa kita murid-murid-Nya. “Inilah Perintah-Ku yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15: 12,17).
Siap sediakah kita memraktekkan Perintah-Nya yang baru ?
* dengan berpeduli akan sesama, khususnya yang tertinggal ?
* untuk hidup dengan saling menolong dan membantu;
*untuk saling menghargai dan menghormati sesama anak-anak Bapa ?
*untuk mengunjungi mereka yang butuh dihibur dan didoakan ?
Kalau kita tetap ingin dikenal sebagai murid-murid-Nya, kita perlu mentaati perintah ‘kasih’ yang baru dari Tuhan Yesus Yang telah terlebih dahulu mengasihi kita. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kita adalah murid-murid Tuhan Yesus yaitu jikalau kita saling mengasihi (Yoh 13:34-35).(HendryWigin).
DOA: “Allah Bapa yang murah hati, berikanlah kepada kami hati seorang hamba, yang mampu melayani sesama dan yang mampu mengasihi sesama seperti Engkau telah mengasihi kami lebih dulu”
JANJI: “Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku, Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia.” - Mazmur 31:6
PUJIAN: Paus Fransiskus kita menunjukkan kepeduliannya terhadap kaum terpinggirkan. Misalnya ia mengunjungi orang miskin di daerah kumuh di Buenos Aries; di Penjara Casa de Marmo, ia membasuh kaki 12 orang narapidana (ada perempuan dan dua di antaranya beragama Islam). Ia juga tampil sebagai penyeru perdamaian dan kesejahteraan, mengkritik korupsi endemik dan sistem ekonomi global yang mengacu pada pasar bebas. Paus Fransiskus dinobatkan sebagai “Person of The Year 2013” oleh Majalah Time.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ