BENAR KARENA BENAR
25 June 2023
Minggu, 25 Juni 2023
Minggu Biasa XII
Yer 20: 10-13;
Mzm 69: 8-10. 14, 33-35;
Roma 5: 12:15;
Matius 10:26-33
“Janganlah takut akan mereka yang memusuhimu!” --- Mat 10:26
Berani karena benar. Inilah pesan Bacaan Pertama dan Injil hari ini. Yang benar itu pasti dari Allah sebab Yesus sendiri bersabda, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup” (Yoh. 14:6). Artinya, bila kita memperjuangkan kebenaran, sebetulnya kita sedang membela Allah sendiri. Kalau kita tidak berani menyuarakan kebenaran dan membiarkan kebohongan (hoax, fake news) merajalela, berarti kita tidak berani mewartakan Allah dan justru membiarkan kejahatan meraja. Jika kita mewartakan Allah, Dia sendirilah jaminan kita sehingga kita tidak perlu takut. Inilah keyakinan Yeremia yang diutus Allah untuk menggemakan kebenaran, “Tetapi Tuhan menyertai aku seperti pahlawan yang gagah” (ay. 11).
Kita hidup pada zaman yang semua orang bisa memiliki akses (media sosial: Facebook, YouTube, dan lain-lain) untuk bersuara. Tidak jarang yang lebih trending adalah berita yang miring, opini yang menghasut, atau informasi kontroversial dan berpotensi memecah-belah kesatuan bangsa. Kita dipanggil untuk menjadi Yeremia-Yeremia baru pada era digital untuk menyuarakan kebenaran yang mendatangkan harmoni dan rekonsiliasi. Mengunggah sesuatu yang negatif dan sensasional memang lebih mudah viral daripada mengunggah sesuatu yang positif dan edukatif. Namun, Tuhan meminta kita berani mewartakan pesan-Nya: “Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang!” (ay. 27). ‘Dalam gelap’ di sini artinya ‘dalam doa dan keheningan.’ jadi, kita tidak sembarang mem-posting, tetapi hanya mem-posting apa yang benar yang sudah kita renungkan terlebih dahulu. (Obor)
DOA: Jangan sampai kami menyebarkan berita yang memecah belah!, Amin.
JANJI: “Barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, Akupun akan menyangkalnya di depan Bapa”. - Mat 10: 33.
PUJIAN: Awam. Dalam Gereja kita ada dua kelompok umat, Tertahbis dan tidak tertahbis atau Awam.Yang Tertahbis ada Tiga Jenjang. Yang pertama, Tahbisan Diakon, kedua, Tahbisan Imamat, dan ketiga Tahbisan Uskup.. Di luar itu semua adalah tak tertahbis atau AWAM, termasuk para Suster, Bruder dan Frater. Memang dalam Gereja ada kelompok yang hidup membiara dengan mengucapkan Kaul. Dan di antara mereka ada yang tertahbis menjadi Imam, dan lainnya tak tertahbis atau tetap awam. Umumnya umat yang belum terbiasa dengan pengertian itu. Bagi mereka. Kaum yang berjubah itu rohaniwan, jadi bukan awam.Dalam pengertian dipersempit, yang dimakaud dengan kelompok ‘Rohaniwan’ adalah para tertahbis, yakni khususnya para imam dan Uskup. Dalam perjalanan hidup dan tugas pelayanan, ada imam -dengan alasan yang kuat meminta dibebas-tugaskan sebagi imam, dan pembesar yakni Uskup bisa memintakan izin kepada Paus. Dan bila surat pembebasan dari Vatikan sudah turun, dia dapat menjadi orang awam biasa. Sebaliknya, ada beberapa awam, seizin Uskup setempat ditunjuk menjadi ‘Pro-Diakon’, artinya seolah-olah diakon, tepatnya telah diinzinkan oleh Uskup melalukan tugas-tugas sebagaimana Diakon lakukan, upama membantu ‘penerimaan Sakramen Mahakudus kepada umat dalam Ibadat tau di luar Ibadat, memimoin Ibadat Sabda, melayani Sakramen Baptis, dalam kedaan darurat, diizinkan menjadi Saksi resmi Gereja dalam ‘Perkawian katolik’. *****
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ