BERBAHAGIA DENGAN CARA TUHAN

12 October 2024

Sabtu, 12 Oktober 2024

Galatia 3:22-29

Mazmur 105:2-3.4-5.6-7

Lukas 11:27-28


“Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” --- Lukas 11:28


HIDUP BAHAGIA tentu menjadi keinginan setiap orang. Lalu Apa yang menjadi tolak ukur seseorang dikatakan berbahagia? Orang merasa bahagia ketika memiliki harta berlimpah sehingga mau beli apa saja bisa, mau liburan ke mana saja bisa, jabatan bagus, bisnisnya sukses, populer dan terkenal, pendidikan dengan segudang titel, mendapat pekerjaan sesuai harapan, memiliki anak-anak yang taat, saleh dan berhasil dalam pekerjaan dan pendidikannya. Jika semua di atas dicapai semua orang pasti merasa bahagia dan senang. Apakah benar seperti demikian? Faktanya tidak semua orang kaya itu bahagia. Banyak orang kaya yang keluarganya berantakan, anaknya terlibat narkoba, pergaulan bebas dan lain sebagainya. Demikian juga tidak semua yang memiliki jabatan bagus itu bahagia. Kita mendengar di berita banyak yang terlibat korupsi dan tidak jarang banyak yang berakhir di jeruji alias dipenjara. Manusia sering memakai kacamata dunia untuk mengukur kebahagiaan seseorang. Kalau uang berlimpah, jabatan bagus, pekerjaan sukses maka dunia akan mengatakan orang itu berbahagia. Sebaliknya orang tidak banyak uang, pekerjaannya biaya-biasa saja hanya cukup untuk makan hari lepas hari bagi dunia dianggap tidak bahagia. Padahal belum tentu bagi yang mengalaminya. Kalau yang mengalami pandai bersyukur maka dia akan merasa bahagia dengan apa yang dimilikinya.

Hari ini Tuhan Yesus berkata yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Tuhan dan memeliharanya. Berdasarkan firman ini kita golongkan ada dua kelompok orang. Kelompok pertama Orang yang mendengarkan firman Tuhan adalah orang yang mau mendengar firman Tuhan dan melakukannya bahkan memeliharanya. Orang yang demikianlah yang disebut Tuhan Yesus orang yang berbahagia. Dalam Matius 7:24-25 dikatakan “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu”. Kelompok kedua adalah orang yang hanya mendengar firman saja tetapi tidak melakukannya. Ditegaskan dalam Matius 7:26-27 bahwa “Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Mendengarkan firman Tuhan dan memeliharanya memang gampang diucapkan tapi pelaksanaannya begitu sulit. Mengapa demikian? Karena kita cenderung menuruti keinginan daging dan manusiawi kita yang justru bertentangan dengan firman Tuhan. Sahabat Kristus pilihan ada di tangan kita. Mau Pilih yang mana melakukan firman Tuhan atau melakukan keinginan daging kita? Setiap pilihan ada konsekuensinya. Mari sahabat Kristus Kalau kita mau Bahagia maka pilihlah mendengarkan firman Tuhan dan melakukannya. (Nai Li)

 

DOA: ”Ya Bapa, curahkan Rahmat-Mu untuk memampukan setiap kami mendengarkan firman-Mu dan melakukannya serta memeliharanya agar kam? menjadi orang-orang yang berbahagia di dalam-Mu Tuhan, Amin.”

JANJI: “Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya.” - Mazmur 105:4-5

PUJIAN: Santo Wilfridus, Uskup dan Pengaku iman. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Roma, ia kembali ke Lyon. Ia menetap di sana selama tiga tahun lebih sambil melancarkan perlawanannya terhadap adat istiadat dan liturgi Keltik. Pada tahun 660 ia memberanikan diri kembali ke Inggris untuk menyapu bersih adat istiadat kafir yang ada di sana. Beliau ditahbiskan menjadi imam oleh Santo Agilbertus, seorang uskup berkebangsaan Prancis yang bekerja di wilayah Saxon Barat. Wilfridus dengan gigih memperjuangkan penerimaan dan pemakaian tata cara liturgi Romawi. Pada tahun yang sama (664), Wilfridus ditahbiskan menjadi uskup untuk dioses York di Compiegne, Prancis oleh Santo Agilbertus. Tetapi karena ia terlambat datang ke York setelah pentahbisannya, Raja Oswy mempercayakan keuskupan York kepada Chad. Wilfridus tidak mau mempermasalahkan hal ini; sebaliknya ia pergi ke biara Ripon sampai Santo Theodor, Uskup Canterbury, mendesak Chad turun dari takhta pada tahun 669. Sejak itu, Wilfridus menduduki takhta keuskupan York dan giat melaksanakan tugas kegembalaannya.

Ia giat memperkenal-kan dan menerapkan tata cara liturgi Romawi di seluruh keuskupannya. Tetapi dalam usahanya itu, ia terus menerus menghadapi berbagai masalah. Namun akhirnya mencapai kesepakatan yaitu bahwa Ripon dan Hexham dipercayakan kepada pelayanan Wilfridus. Wilfridus meninggal dunia sementara dalam suatu kunjungan pastoral di biara Santo Andreas, di Oundle, Northamtonshire pada tahun 709.

Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.