BERDAMAI DULU BARU BERIBADAT
11 March 2022
Jumat, 11 Maret 2022
Yehezkiel 18:21-28
Mazmur 130:1-2.3-4ab.4c-6.7-8
Matius 5:20-26
“… , tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu …” --- Matius 5 : 24
KHOTBAH DI BUKIT yang ada di Matius bab 5-7, adalah Khotbah Yesus yang paling terkenal. Di situ Yesus -sang Guru - sebagai Pribadi yang penuh kuasa dan wibawa mengajarkan tentang bagaimana orang bisa menjalani hidup yang terarah kepada Allah dan berkenan pada-Nya. Hidup beribadat dengan ber-integritas, tiada kemunafikan, berhikmat, bijak dan penuh peduli dan cinta kepada sesama.
Injil hari ini berbicara bagaimana Yesus mencoba mengingatkan supaya kita menjauhi hati yang pemarah, berpikiran negatif, buruk-sangka terhadap sesama. Yesus menyatakan bahwa membawa damai dan berdamai dengan sesama dengan meminta maaf dan mengampuni itu lebih utama dari persembahan dalam Ibadat kita kepada Allah (Mat 5: 20-26).
Memberi seringkali jauh lebih mudah ketimbang mengupayakan damai dengan sesama. ‘Memberi persembahan’ kita berhubungan dengan ‘barang’, sedang ‘mengupayakan damai’, kita langsung bersentuhan dengan ‘sesama pribadi’. Relasi dengan pribadi lain ini menyangkut perasaan serta harga diri kita. Pengalaman berjumpa dengan sesama bisa meneguhkan damai atau merusak damai di hati. Yesus menekankan perlunya mendahulukan perbaikan relasi dengan sesama yang membuahkan damai sebelum ber-relasi dengan Tuhan dengan ‘persembahan’. Yesus meminta kita untuk meninggalkan persembahan dan lebih dulu berinisiatif mencari saudara-teman-yang kita sadari hati mereka ‘tidak damai’ karena sikap, kata atau ulah kita. Kita minta maaf dan berdamai dulu (Mat 5:24) .
Kalau ‘orang tersebut’ tidak berkenan menerima permintaan maaf kita, kita tak perlu ambil pusing, karena itu adalah urusannya sendiri dengan Allah. Yang terpenting adalah diri kita telah berinisiatif mengupayakan hidup berdamai dengan sesama. Dengan demikian Allah berkenan kepada kita: ibadat, doa dan persembahan kita. Mari mulai sekarang kita tambahkan kebiasaan baik kita dengan berinisiatif mengupayakan hidup dalam damai dengan sesama. (Amanda)
DOA: “Tuhan Yesus, Raja Damai. Curahkanlah Roh Kudus-Mu atas kami agar kami beroleh hati bijak dengan selalu mengupayakan hidup damai dengan sesama. Amin.”
JANJI: “Jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.” Yehezkiel 18:21
PUJIAN: Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Mehmet Ali Agca, orang yang telah menembaknya, di penjara. Paus dengan tulus memberikan pengampun -annya yang tulus, yang membuat hati penembaknya itu merasa damai dan akhirnya memberikan diri menerima Yesus dan dibaptis sebagai seorang Katolik. Setelah bebas ia pun menyempatkan mengunjungi makam Santo Yohanes Paulus II.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ