BEREBUT KEDUDUKAN

30 October 2021

Sabtu, 30 Oktober 2021 

Roma 11:1-2a, 11-12, 25-29 

Mazmur 94: 12-15. 17-18

Lukas 14: 1, 7-11

 

“Apabila kamu diundang, pergilah duduk yang paling rendah” Lukas 14:10

 

PERISTIWA KECIL – orang menjamu tamu-tamu dalam undangan perjamuan menjadi bahan rujukan pengajaran Yesus bagi para murid-Nya mengenai kerendahan hati.

Dalam peristiwa tamu-tamu yang diundang ini, nampaknya berebut tempat, kita dapatkan beberapa catatan.

  • Yesus dan para murid datang lebih awal sehingga mereka dapat mengamat-amati perilaku tamu-tamu dalam mencari tempat duduk.
  • Tentu waktu itu belum ada kebiasaan ‘resepsi berdiri’, semua tahu yang diundang datang dan dipersilahkan mencari tempat sendiri-sendiri. Jelas tidak ada tanda ‘tempat ini untuk siapa-tempat itu untuk siapa’.
  • Yang ada ialah semacam hirarki tempat duduk, yang sebelah atas bagi undangan VIP upamanya. Dan di sini tentu tamu ingin duduk di tempat VIP itu, biar dikira dirinya masuk kelompok terhormat. Di sini letak kesombongan hati. Memang status pribadi orang dapat dilihat di mana tuan rumah menyediakan tempat duduk bagi tamu bersangkutan.

Peristiwa kecil ini menjadi bahan pengajaran-Nya: “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan….tetapi duduk di tempat yang paling rendah” (Luk 14: 8a, 10a). Mengapa ?  Katanya, “Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: ‘Sahabat, silahkan duduk di depan’ . …. engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain’ (Luk 14:10b).

Watak sombong mencari tempat yang terhormat inipun pernah terjadi di antara murid-Yesus sendiri. Para murid berebut, siapa yang terbesar di antara mereka ? Yesus tegaskah kepada para murid-Nya yang berebut disebut yang ‘terbesar’ , bahwa “Yang terkecil  di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9: 46-48). Juga Yakobus dan Yohanes meminta nanti boleh duduk di sebelah kiri dan kanan dalam kemuliaan-Nya (Mrk 10:35). Dan “mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah besar  kepada Yakobus dan Yohanes” (ayat 41).

Pilihan tempat duduk di surga bukanlah berdasar jasa dan usaha pribadi kita, melainkan hak prerogatif Allah Bapa. “Hal duduk di sebelah kanan-Ku atau sebelah kiri-Ku. Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya” (Mat 20: 23). Lalu? [Oleh: S. Widjojo]

 

DOA: Tuhan, berilah aku kerendahan hati dengan tidak mencari kehormatan diri, supaya dipuji orang. Pujian hanya kuharap dari-Mu saja!

JANJI: “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” Lukas 14:13

PUJIAN: S. Ignatius dari Loyola mengajarkan tiga tingkat kerendahan hati. Tingkat pertama yaitu benci terhadap dosa berat dan bertekad tidak mau melalukan dosa berat lagi;  kedua, benci dan tidak melakukan dosa kecil, dan kerendahan hati tingkat tiga, kalau yang mau dipilih dan dilakukan itu sama nilainya di hadapan Allah: memiliki harta banyak atau sedikit, kita memilih memiliki sedikit; diutus melakukan pelayanan pewartaan di perkotaan atau di pedesaan – dan keduanya sama di hadapan Tuhan – kita akan memilih diutus di pedesaan, yang saya rasa akan lebih ada salibnya.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.