BERKAT DARI KATEKESE PERWAHJUAN ILAHI

18 February 2023

Sabtu, 18 Februari 2023 

Ibrani 11: 1-7

Mazmur 145: 2-3.4-5.10-11.

Markus 9:2-13

  

“Karena iman, Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah”. --- Ibrani 11:5

 

EPISODE “YESUS DIMULIAKAN di atas gunung’ ini, terjadi enam (6) hari setelah Yesus mengajarkan bahwa ‘Jalan-Nya’ adalah sebuah ‘Jalan Salib’. Dalam budaya religi Yahudi, angka 6 (enam) adalah lambang berkat dan rahmat Allah. Pada kisah Rut, misalnya, diceritakan bahwa setelah tertidur dekat kaki Boas, orang kaya di Betlehem, Rut menerima “enam (6) takar jelai dari dalam selendangnya” (lih. Rut 3:15). Jumlah enam takar itu adalah pertanda awal berkat dari Yahwe. Perempuan asing asal Moab itu, memang kemudian menikah dengan Boas, dan melahirkan Obed, kakek Daud, yang dari keturunannya lahir seorang Mesias (lih. Rut 4:18-22. Kini, berkat Ilahi berbentuk perwahyuan identitas Yesus sebagai Mesias, diberikan kepada Petrus, Yakobus, dan Yohanes, enam (6) hari setelah pernyataan mengenai ‘Jalan Salib’. Untuk kedua kalinya, Allah mewahyukan identitas Yesus sebagai ‘Putra yang Kukasihi’ (Mrk. 9:7; bdk. 1:11). Inilah berkat tesebut! ***

KEHADIRAN Elia, yang hidup sembilan abad sebelum Kristus, serta Musa, yang hidup 12 abad sebelum Kristus, dipakai untuk menunjukkan bahwa keduanya adalah sosok yang menderita. Pewartaan dan karya mereka sering ditolak oleh umat dan bangsa Yahudi. Namun, menurut kepercayaan Yahudi, Musa maupun Elia, karena kesetiaan dan intensitas pergaulan mereka dengan Allah— mereka sering ‘bertemu’ dengan Yahwe di ‘gunung tinggi’--, juga diangkat ke Surga dengan tubuh mereka (lih. Ul. 34:5-6 dan 2 Raj. 2:11-12). Tokoh Musa dan Elia dinilai sama dengan Henokh, yang ‘mencapai usia 365 tahun’ (lih. Kej. 5;23), dan juga telah “hidup bergaul dengan Allah, dan karena itu, ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah” (Kej. 5:24).***

DI SINILAH, Petrus, Yakobus, dan Yohanes menerima sebuah katekese mengenai perwahyuan Yesus sebagai Mesias, yang seperti Musa dan Elia telah menderita karena penolakan umat, namun kemudian ‘ditinggikan’ oleh Allah seperti Henokh, Musa, dan Elia. Katekese itu ditutup dengan pernyataan Allah sendiri: “Inilah Putra yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mrk. 9:7).

Perwahyuan tersebut memang sulit dipahami. Maka, belum boleh diceritakan kepada siapa pun, “sebelum Putra Manusia bangkit dari antara orang mati” (Mrk. 9:9). Kelak, hanya setelah kebangkitan Yesus Kristus, perwahyuan itu menjadi sungguh nyata bagi para murid-Nya, dan karena itu, justru harus diwartakan. ***

DALAM KEKRISTENAN, rahmat pemahaman mengenai identitas pribadi dan perutusan Yesus, menjadi salah satu kunci eksistensi dan kehidupan iman kristiani. Melalui Paulus, diwartakan bahwa Yesus adalah “Allah yang telah mengosongkan Diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia, merendahkan Diri-Nya, dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib” (lih. Fil. 2:7-8).

Pewartaan ini menunjukkan, Yesus Kristus hadir dan menyelamatkan justru ‘dalam dan melalui’ situasi kemanusiaan yang paling rendah dan hina. Artinya, rahmat penebusan itu hadir dalam semua sisi kehidupan manusia, entah yang mulia maupun yang hina. Keyakinan ini menjadi dasar pengharapan, yang membuat kekristenan tetap bertahan hidup, karena ada nilai Ilahi yang ditanamkan pada kemanusiaan. Inilah makna “manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah” (lih. Kej. 1: 26).

St. Thomas Aquinas (1225-1274) menjelaskan, melalui penciptaannya, manusia itu ditarik dan diberi kekuatan untuk mengarah kepada Allah Sang Mahacinta. Cinta Ilahi, yang diwujudkan dalam inkarnasi Yesus Kristus itulah, yang memberi keabadian bagi kemanusiaan. (WIT).

 

DOA: “Ya Allah yang Mahabaik, terima kasih atas pewahyuan kasih-Mu melalui kedatangan Yesus Kristus. Bukalah mata kami agar mampu memahami dan mengimani seluruh hidup Putra-Mu, dari Inkarnasi, pengajaran, karya-karya-Nya, sengsara, wafat, sampai kebangkitan-Nya, sebagai pedoman jalan kehidupan kami”.

JANJI: “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya”. - Mazmur 145: 8-9

PUJIAN" Karya Tuhan sering diwartakan melalui orang yang sedang sakit. Itulah yang terjadi pada seorang ibu muda, yang terkena penyakit yang membuat dirinya hanya bisa berkomunikasi lewat mata dan tangan kanannya. Namun, ibu itu justru banyak ‘membawa’ mereka yang mengunjunginya di rumah sakit, ‘bertobat’ dan makin dekat dengan Allah. Penderitaan seorang yang sakit sering menjadi saksi dari karya “Allah ‘membetulkan’ seseorang” (lih. Ayb. 33:19). Apakah kita bersedia menerima katekese tersebut?

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.