BERKENAN MENDENGARKAN DOA KITA
25 June 2021
Jumat, 25 Juni 2021
Kajadian 17:1,9-10, 15-22
Mazmur 128:1 – 5
Matius 8:1-4
“Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu, Ia akan Kuberkati!” ---Kejadian 17:20
DIAWALI DENGAN ‘Janji Allah’, bahwa Abraham akan mempunyai keturunan sebanyak bintang di langit (Kej 15: 5-6). Tetapi sampai usia 80 tahun lebih Abraham dengan istrinya Sarai tak memperoleh keturunan. Atas saran istrinya, Abraham mempunyai anak dengan Hagar, pelayan Sarai, yakni Ismail.
Allah telah berjanji akan memberkati keturunan Sara, tetapi sampai saat itu Abraham tak tahu bagaimana itu dapat terlaksana karena Sara sampai tua tak mungkin bisa mengandung.
Mulailah kisah baru: Abraham mengutarakan usul kepada Allah untuk ‘memberkati Ismail’. Tetapi Allah tetap pada ‘janji’ yang semula, yakni anak Sara-lah yang diberkati. Maka Allah memperbaharui janji-Nya lagi, meski keduanya telah lanjut usia dan Sara telah menjadi mandul (Kej 18: 10-14). Dan benar Sara mengandung di masa tuanya, dan lahirlah Iskak (Kej 21:1-7).
Sewaktu sebelumnya, tiada tanda pada Sara akan mempunyai anak, pusat perhatian Abraham pada Ismail. Karena itulah ia meminta berkat bagi Ismail. Jelas Allah tak setuju, tetapi dengan halus Allah menolaknya, dengan bersedia mendengarkan permintaan Abraham, untuk memberhati Ismail.
Allah tetap pada janji-Nya yang pertama tetapi Ia menghormati permohonan Abraham memberkati Ismail. Dari sini kita dapat pelajaran yang sangat berharga tentang ‘doa’. Bila kita berdoa, sebenarnya, kehendak kita itu bertemu dengan kehendak Allah. Dan di sini bisa terjadi perubahan: Kehendak Allah menjadi kehendak kita – dan juga kehendak kita menjadi kehendak Allah ! Jadi doa itu menjadi saat kita berbincang dengan Allah tentang kehendak-Nya mengenai hidup kita. Allah menginginkan ‘ke-kawanan’ bukan ‘kediktatoran’, doa-doa kita yang kita haturkan bisa memiliki dampak. Ini sangat menarik ! Allah tidak hanya berkenan bekerja sama dengan kita, tetapi Allah juga suka akan proses ini.
Allah tahu kalau ‘kekawanan’ itu semakin mendalam, rencana-rencana kita juga akan semakin selaras dengan kehendak-Nya. Maka baiknya berani saja kalau kita menghadap-Nya dan berdoa kepada-Nya. Boleh saja dalam doa kita memohon kejelasan kepada-Nya dan menghaturkan permohonan khusus kepada-Nya. Asal rendah hati seperti Abraham, Tuhan akan mendengarkan doa kita itu. Mungkin tak langsung Tuhan mengabulkannya. Kita mungkin bergumul. Tuhan tentu akan mengarahkan hati agar semakin selaras dengan kehendak-Nya.
Tuhan Allah mempunyai segudang hal-hal yang agung tersimpan untuk kita – meski kita merasa telah tua seperti Abraham. (SW)
DOA: Ya Tuhan Allah kami, saya benar-benar kagum bahwasannya Tuhan berkenan memilih aku menjadi teman sekerja dalam membangun Kerajaan-Mu.
JANJI: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat menyembuhkan aku’. Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: ‘Aku mau, jadilah tahir’” -- Matius 8:2-3
PUJIAN: Dalam suatu Seminar tentang ‘Doa’ di Gedung Shekinah, Duta Merlin Jakarta, beberapa tahun yang lalu, nara sumber mengatakankan gunanya ‘renungan harian dalam hidup rohani kita’.
Bukan panjang pendeknya doa, bukan lama tak lamanya renungan, tetapi keteraturan renungan tiap hari membuat hati semakin mengenal dan peka akan kehendak Tuhan dan diri kita lebih bersedia diolah dan dipola oleh Tuhan lewat renungan.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ