BERKIBLAT KE GEREJA PERDANA DALAM ‘KEDERMAWANAN’ !

26 April 2022

Selasa. 26 April 2022

Kisah Para Rasul 4:32-37

Mazmur 93: 1c-2,5

Yohanes 3: 7-15

 

“Tidak ada seorang pun  yang berkekurangan

di antara mereka” 

Kisah Para Rasul 4: 34

 

        SANGATLAH MENAKJUBKAN apa yang terjadi di kalangan Umat Gereja Perdana dalam hidup bersama. Mereka berpeduli satu sama lain. Digerakkan oleh cinta mereka kepada Tuhan dan sesama, umat yang lebih berkecukupan di antara sesama umat berbagi apa yang mereka miliki. Mereka menganggap kelebihan dan kelimpahan yang mereka terima adalah berasal dari Allah. Karenanya mereka  menyadarinya untuk berbagi dengan sesama daripada mereka menumpuk harta untuk diri mereka sendiri. Ini antara lain dilakukan oleh Yusuf – dari Siprus, yang dikenal dengan nama Bernabas –  ia menjual ladang miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkan di depan kaki para rasul (Kisah 4: 34-37).

        Apa yang dilakukan oleh Barnabas, mengingatkan kita akan seorang muda yang kaya yang sangat rindu agar nanti bisa masuk surga yang ditantang oleh Yesus. Ia diminta untuk menjual harta kekayaannya dan dibagi-bagi kepada orang miskin (Mrk 10:21; Mat 19:21; Luk 10:21). Sayang ia mundur , karena ia merasa mahal sekali pengorbannya untuk dapat masuk surga.

        Berkiblat pada kedermawanan umat Gereja Perdana – dan melihat realitas banyak umat yang miskin karena struktur politik dan sosial, lahirlah Ajaran Sosial Gereja. Dan secara karitatif muncullah Komisi atau Seksi Sosial Ekonomi di tingkat Keuskupan dan di Paroki-paroki kita.

        Saat ini kita sebagai umat pengikut Yesus hidup tersebar, tidak tinggal saling berdekatan seperti Umat Gereja Perdana, sampai mereka dapat hidup ‘sehati sejiwa dan tidak seorangpun yang berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama’ (Kisah 4: 32). Sekarang belum pernah terdengar ada umat yang melakukan seperti yang Barnabas lakukan – yakni menjual segala harta miliknya dan menyerahkan hasilnya kepada Gereja.

        Tetapi Allah tetap memanggil kita semua untuk menjadi saksi-saksi-Nya dalam hal kepedulian dan perhatian terhadap yang miskin. Kita masing-masing dipanggil menjadi saksi dalam kedermawanan guna membantu, tidak hanya orang-orang seiman melainkan kepada siapapun yang memang membutuhkan bantuan entah karena bencana alam ataupun sebab-sebab yang tak-terduga.

        Roh Kudus berkenan membuka mata hati kita melihat kebutuhan orang-orang seputar kita. Tidak perlu seperti Barnabas lakukan. Sedikit bantuan, entah finansial, barang, waktu dan perhatian serta kepedulian kita, akan membuat suasana dan keadaan tentu  berbeda. (S.Widjojo)

 

DOA   :  Tuhan, tunjukkan kepadaku bagaimana aku dapat   berbagi berkat yang telah kuterima dari-Mu !

JANJI  :  “Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya   kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” Yohanes 3: 14b-15

PUJIAN: Umumnya Yayasan-yayasan Sosial Katolik dikelola oleh Yayasan milik Kongregasi Hidup Bhakti, tetapi ada juga “Panti Wredha” untuk Lansia, yang didirikan oleh umat kita, dan pengelolaan selanjutnya oleh keluarga dengan semangat kedermawanan.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.