BERPUASA SAMPAI DIRASA PERUT LAPAR
28 February 2020
SATU PERJAMUAN
FEBRUARI 2020
Jumat, 28 Februari 2020
Yesaya 58: 1-9a
Mazmur 51: 3-6, 18-19
Matius 9: 14-15
“Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikan juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahlannya juga?” — Yesaya 58:3
HARI INI kita memasuki hari ketiga Masa Puasa. Masa untuk Berpuasa dan Berpantang. Sudah sejak dulu Umat Katolik di dunia Barat Berpantang daging selama Masa Puasa. Setiap hari mereka makan roti dan daging. Berpantang dari daging bagi umat di dunia barat sangat dirasa pantang mereka.
Bagi kita Umat Katolik di Timur atau Asia ini, kita tidak tiap hari makan daging – mungkin umat di kota-kota besar pantang daging. Maka jangan heran kalau Gereja di sini lalu memodifikasi. Tidak makan daging, diganti: tidak merokok, tidak makan ‘snack’ atau kue-kue ataupun ‘cemilan’. Kita diingatkan Masa Puasa bukanlah hanya ‘berpantang’, tetapi benar-benar ‘berpuasa’, yakni mengurangi jumlah makanan (nasi atau roti) yang kita makan dan mengurangi banyaknya jatah yang biasa kita minum. Peraturan dalam Gereja di negeri kita kiranya cukup jelas: Hanya makan kenyang satu kali saja dalam sehari; dan inipun hanya diwajibkan pada Hari Rabu Abu dan Jum’at Suci, tetapi kalau mau berpuasa setiap hari Jum’at selama Masa Puasa, ini bebas atau manasuka –tak wajib- (banyak umat katolik yang menjalankannya), silahkan !
Masa Puasa kita adalah selama empat-puluh hari. Ini kita lakukan sebagai tanda ‘tekad kita’ untuk mengikuti jejak Kristus, dalam puasa-Nya di padang gurun selama empat-puluh hari-empat-puluh malam (Mat 4:2).
Berpuasa kita haruslah kita jalani dengan semangat yang benar, tidak seperti kebiasaan berpuasa yang dikritik oleh nabi Yesaya: “Sesungguhnya kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelai serta memukul tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini, suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi” (Yes 58:4). Tetapi semangat yang benar bukan lalu mengganti berpuasa, melainkan memurnikannya. Upama saja, berpantang dari ng-‘gossip’-i orang, nonton TV, ‘smartphones’, pantang dari ‘cari senang diri yang egois’. Hal-hal itu sepantasnya menemani sewaktu kita berpuasa , tetapi itu semua bukan berpuasa, sebab kalau kita berpuasa selalu kita maknai dengan mengurangi ’jatah makan dan minum’. Jangan sekali-kali kita ‘merohanikan’ berpuasa dan lalu membuang unsur yang pokok dari berpuasa. Juga jangan sampai kita me-rohani-kan Kekristenan kita dan melupakan apa yang menjadi unsur dasar dan fundamental dari kekristenan kita. Ingat apa kata Paulus dalam hal ini: “Yang mula-mula datang bukanlah yang rohani, tetapi yang alamiah, kemudian barulah datang yang rohaniah” (1 Kor 15:46).
Marilah kita menjalani Masa Puasa dua-duanya, baik yang alami dan rohani. Biar kita rasakan puasa alami dengan merasakan perut ‘kroncongan’ dan berkurangnya berat badan. Biarkan kita hayati Masa Puasa secara rohani, seperti pertobatan, rekonsiliasi dalam hubungan dengan sesama, lebih-lebih dengan keluarga atau teman dekat serta komitment total kepada Tuhan. Paulus menasehati kita untuk “mempersembahkan tubuh (kita) sebagai persembahan yang hidup dan kudus” serta “berubahlah oleh pembaharuan budi (kita)” (Rm 12: 1-2).
DOA: Bapa, berilah daku kesempatan menjalani Masa Puasa ini secara lahirian penuh!
JANJI: “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar, dan lukamu akan pulih dengan segera.” — Yesaya 58:8
PUJIAN: Sewaktu diadakan Kebangunan Rohani Katolik (KRK) di Istora Senayan tahun 2019 lalu dalam kesempatan Pelayanan Doa Penyembuhan, Sri Suwarni, salah seorang peserta KRK dari sepuluhan ribu peserta KRK, memperoleh pulihnya pendengaran satu telingannya yang tuli. Sekarang dua telinganya, kiri kanan, berfungsi normal.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ