BERTANDINGLAH DALAM PERTANDINGAN IMAM YANG BENAR
22 September 2023
Jumat, 22 September 2023
1 Timotius 6:2c-12
Mazmur 49:6-7.8-9.17.18-20
Lukas 8:1-3
“Bertandinglah pada pertandingan imam yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi” --- 1 Timotius 6:12
BERTANDINGLAH DALAM pertandingan imam yang benar. Jika hidup diibaratkan sebuah pertandingan, maka menangkanlah. Dalam kehidupan kita hal ini adalah pertandingan imam yang benar.
Sebagai orang yang percaya kita sebenarnya dipanggil untuk masuk dalam suatu pertandingan selama hidup ini. Kita diselamatkan karena kasih dan karunia dan itu harus direspon dengan iman. Seperti dikatakan dalam Efesus 2:28, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman….”. Jelas sekali ada 2 unsur yang terlibat dalam keselamatan kita, yakni kasih karunia, dan iman. Kasih karunia menjadi bagian Tuhan dan iman merupakan bagian kita yang ditebus oleh pengorbanan Kristus di mana iman merupakan wujud respon kita terhadap kasih dan karunia yang Tuhan berikan. Hidup kekristenan ibarat berada di arena pertandingan, namun "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!" (1 Korintus 9:24).
Bertanding dalam iman. Kita tidak akan tahu seberapa kuat iman kita sebelum kita masuk dalam pertandingan yang sesungguhnya. Di tengah ujian dan penderitaan yang ada, tetaplah kuat! Jangan sampai kita undur di tengah jalan. Mari kita belajar dari Paulus. Meski dihadapkan pada aniaya, penderitaan, ancaman dan segala bentuk kesukaran dia tetap maju, karena dia tahu bahwa Tuhan telah menyediakan upahnya yaitu mahkota kehidupan bagi setiap orang yang setia sampai akhir. "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." (2 Timotius 4:7). Dengan mengimani bahwa Allah senantiasa mengetahui dan mendampingi kita, maka akan membuat kita tidak khawatir. Dia yang selalu merajut hidup kita sejak dari kandungan Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. Dia tahu ketika kita memikirkan suatu masalah, dan Dia tetap menuntun kita dengan sabar. Kemahatahuan Allah sepatutnya menimbulkan ketenangan sekaligus keseganan dalam diri kita agar hati-hati melangkah dalam hidup. Kita memohon kepada Allah agar Ia senantiasa membawa kita kepada jalan-Nya yang mengarah kepada hidup kekal, dan menegur ketika kita mulai berbelok dari-Nya. Sebagai penghormatan kita kepada Allah Yang Mahatahu, kita akan tetap bersyukur dan menjaga hidup di jalan-Nya.
Allah yang menentukan segala hal yang akan terjadi pada kita, semuanya sudah diketahui-Nya. Kita sering mengkhawatirkan masa depan hanya karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi, namun bagi-Nya semua sudah jelas dan pasti. Dia lah yag mengatur setiap langkah kita, tangan Maha perkasa-Nya senantiasa menuntun kita, memegang kita agar kita tiba dengan selamat digaris akhir hidup kita dan bersuka cita karena berjumpa dengan-Nya, bahkan bersatu kembali dengan-Nya. Kebenaran ini akan membuat kita lebih bersemangat dalam melakukan segala perintah-Nya dengan kuasa dan dengan dipimpin oleh Roh Kudus, sehingga kita selalu berada dalam jalur kehidupan yang Allah perintahkan bagi kita dan kita akan bahagia karena menjadi berkat dan keselamatan bagi orang lain. (VJWW).
DOA: “Tuhan dampingilah hidupku, gengamlah selalu tanganku dan tuntunlah aku agar selalu berada di jalan-Mu. Kuatkan imanku saat melalui rintangan-rintangan dalam hidup dan ingatkan aku selalu bahwa Engkau tidak pernah meninggalkanku, karena aku percaya akan kasih karunia-Mu yang besar, Amin.”
JANJI: “Tidak seorang pun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya.” - Mazmur 49:8.
PUJIAN: Pada waktu itu Yesus berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu Bapa Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-KU dan tidak seorangpun mengenal anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain anak dan orang yang kepadanya anak itu berkenan menyatakannya. Maksud Yesus dalam sabda ini adalah kita tidak mungkin menjadi manusia yang sepenuhnya bebas dari beban kehidupan. Namun ketika kita mengalami beban hidup kita itu dengan kacamata iman, kita akan merasakan beban hidup tersebut dengan cara yang berbeda. Kristus memberi kelegaan atas beban berat kehidupan kita. Beban kehidupan itu menjadi ringan. Bahkan beban yang kita miliki itu, bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk selalu bertumbuh dalam iman.
Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)