BUKA HATI

17 September 2020

Kamis, 17 September 2020 

St. Robertus Bellarminus

1 Korintus 15:1-11

Mazmur 118:1-2.16ab-17.28

Lukas 7: 36-50

 

“Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." --- Mazmur 118:1

 

KESELAMATAN DARI ALLAH hanya mendatangi orang, yang membuka hati atas kenyataan dosa dan perlunya pertobatan. Inilah warta utama kisah “Yesus diurapi oleh perempuan berdosa, di rumah seorang Farisi yang bernama Simon (Luk 7:36-50).

Dikisahkan, Simon mengundang Yesus untuk datang ke rumahnya. Ia ingin mendengar ajaran Yesus, karena merasa pengetahuannya belum lengkap. Ia menganggap Yesus sebagai ‘sumber pengetahuan’ belaka; honor-nya adalah jamuan makan. Maka, ia merasa tidak perlu “memberikan air untuk membasuh kaki Yesus“ (ay. 44), atau “meminyaki kepala Yesus dengan minyak” (ay. 46), sebab Yesus adalah ‘orang luar’, bukan tamu yang dihormati sebagai sesamanya. Baginya, yang penting adalah ajaran Yesus, bukan pribadi-Nya.

Sikap Simon, orang Farisi itu, sangat berbeda dengan sikap dan keyakinan “perempuan yang terkenal sebagai pendosa”, yang masuk tanpa diundang, ke rumah Simon. Bagi perempuan itu, pribadi Yesus beserta ajaran dan karya-karya-Nya, merupakan kesatuan utuh. Maka, ketika ia ‘nyelonong’ masuk ke perjamuan makan itu, langsung dia “menangis, pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya, serta menyekanya dengan rambutnya; kemudian ia mencium kaki-Nya, dan meminyakinya dengan minyak wangi” (ay. 38). Pengakuan akan kedosaannya, serta tindakan kasih dari perempuan itu untuk memuliakan Sang Juruselamat, mendorong Yesus berkata, “Hai perempuan, dosamu telah diampuni! … Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat” (ayat 48.50).

Melalui sabda Yesus, perempuan pendosa itu menerima tiga anugerah, yaitu pengampunan dosa, keselamatan, dan kedamaian jiwa raga yang utuh. Ketiganya dianugerahkan karena imannya besar!

Lalu apa yang didapat oleh Simon, yang sudah keluar biaya untuk mengundang makan Yesus? Tampaknya, Lukas mau menunjukkan bahwa Simon, orang Farisi itu, masih belum beranjak dari pola pikir kelompok para Farisi (dan para ahli Taurat), yang “menolak maksud Allah terhadap mereka” (Luk. 7:30). Mereka masih tinggi hati, dan tidak mau bersikap rendah hati seperti anak kecil. Karena itulah, mereka tidak mampu mengakui ‘Hikmat’ yang diwartakan oleh Yesus (Luk. 7: 35). Hikmat itu adalah kasih, yang sudah diterima oleh setiap orang sejak kelahirannya. Melalui kasih itulah, kita semua dihubungkan dengan Allah, sumber segala Kasih. Sebagai kebajikan Ilahi, kasih hanya bisa diterima dan bekerja aktif dalam diri manusia, bila ada keterbukaan hati.  (WIT).

 

DOA: “Ya Tuhan, kurniakanlah kami, hati yang terbuka, agar rahmat yang telah Kau sediakan bagi kami, dapat bekerja dan mengubah diri kami untuk menjadi makin dekat dengan Kerahiman-Mu.”

JANJI: “Karena kasih karunia Allah, aku adalah sebagaimana aku sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku, tidak sia-sia” --- 1 Korintus 15:10

PUJIAN: Semula, ayah St. Robertus Bellarminus (1542-1621), menginginkan anaknya menjadi  dokter, agar kelak dapat merawat raja-raja dan pangeran. Namun, hati Robertus lebih terbuka masuk ke dalam Serikat Yesus. Keterbukaan hatinya itu membawa Robertus menjadi seorang penolong bagi para Paus di zamannya, terutama dalam memecahkan berbagai persoalan iman dan masalah keselamatan umum. Kesetiaan dan baktinya kepada Gereja membuat dia dikenal sebagai teolog, yang gigih membela Gereja dan jabatan ke-Paus-an, dalam kemelut zaman Reformasi Protestan.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.