BUNDA MARIA PERAWAN SUCI, TELADAN KETAATAN
08 December 2018
Sabtu, 8 Desember 2018
HR Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda
Kejadian 3:9-15, 20
Mazmur 98:1,2-3ab,3 bc-4
Efesus 1:3-6,11-12
Lukas 1:26-38
“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus” ---- Lukas 1:31
BAHAGIA DAN BANGGA. Itulah yang pasti dirasakan oleh setiap wanita saat mengetahui bahwa dirinya telah mengandung. Bagi mereka yang memang menginginkan panggilan hidup berkeluarga, harapan untuk dapat mengandung buah hati akan menjadi pelengkap kesempurnaan hidup panggilannya. Anak menjadi idaman pasangan suami istri, dan menjadi bukti cinta kasih mereka. Maka, tidak aneh jika seorang suami yang mengetahui istrinya akan mengandung, dia akan menjadi sangat bersemangat untuk mempersiapkan segala hal yang berhubungan dengan kelahiran anaknya. Seperti menyiapkan nama, mengharapkan jenis kelamin tertentu, mengubah cara hidupnya agar lebih baik, lebih memperhatikan kesehatannya, dan juga mempersiapkan fisik dan mental dalam menyambut kedatangan anaknya.
Terkadang, besarnya harapan untuk mendapatkan anak, membuat pasangan suami istri menjadi gelisah, dan tak jarang menimbulkan ketegangan apabila sang buah hati yang begitu dinantikan tak kunjung tiba. Bisa saja lalu mereka saling menyalahkan satu sama lain. Saling tuduh mengenai siapa yang bermasalah dalam hal kesuburan di antara mereka kerap terjadi di antara pasangan suami istri. Bahkan, tak jarang hal ini juga menjadi sumber perselisihan dalam keluarga besar. Dalam keluarga, kehadiran anak memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan perjalanan sebuah keluarga. “Kapan aku bisa mulai momong cucu”, harapan seorang calon oma.
Bacaan Injil hari ini menyajikan situasi yang sangat luar biasa, yakni peristiwa yang dialami Bunda Maria, yang saat itu belum bersuami, tetapi telah bertunangan engan Yusuf, seorang keturunan Daud. Saat itu Maria mendapat Kabar Gembira dari malaikat Gabriel. Kehadiran malaikat Gabriel ke rumah Maria saja sudah membuatnya terkejut. Dan kabar yang dibawa oleh malaikat Gabriel semakin menambah keterkejutannya. Sebagai pribadi yang rendah hati, Maria merasa dirinya tak pantas. dan bingung ketika malaikat Gabriel memberinya salam sebagai orang yang dikaruniai (diberkati khusus oleh) Tuhan. Siapakah dia, sehingga ia menjadi seorang wanita yang diberkati Allah di antara wanita yang ada di dunia ini?
Berita yang disampaikan oleh malaikat Gabriel bahwa dirinya akan mengandung anak laki-laki tentu semakin mengejutkan hatinya. Apalagi bahwa anak yang akan dilahirkannya, yakni Yesus (Luk 1:31) akan disebut sebagai Anak Allah Yang Mahatinggi, dan pewaris dan penguasa takhta Daud, bapa leluhur-Nya (Luk 1:32), yang akan menjadi raja atas keturunan Yakub selama-lamanya, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk 1:33).
Dari perspektif manusia, keterkejutan yang dialami oleh Maria ini merupakan hal yang wajar. Maria mempertanyakan bagaimana mungkin ia yang belum bersuami dapat mengandung dan melahirkan anak? Dan jika itu memang benar, bagaimana ia bisa menyampaikan hal tersebut kepada Yusuf, yang adalah tunangannya? Belum lagi kekhawatirannya pada reaksi dan tanggapan orang-orang di sekitarnya, mengingat keadaannya yang belum bersuami. Ini merupakan situasi yang sangat sulit untuk dijalani oleh Maria.
Maka, wajar jika Maria merasa sulit untuk mempercayai berita yang dibawa oleh malaikat Gabriel. Akan tetapi, setelah Gabriel menyampaikan bahwa yang akan dikandungnya adalah dari Roh Kudus, dan atas kuasa Allah Yang Mahatinggi, serta anak yang dilahirkan nantinya disebut kudus, Anak Allah, barulah Maria mulai terbuka hatinya. Sikapnya yang selalu taat, dan imannya yang kuat membuatnya bersedia dan mau menerima tugas yang sangat berat tetapi sangat mulia itu. Imannya pulalah yang membuka hatinya bahwa, bagi Tuhan tak ada yang mustahil dan tak mungkin. Apa pun dapat terjadi menurut kehendak-Nya.
Apalagi ketika Gabriel menyatakan bahwa sanaknya, Elizabeth, seorang wanita yang sudah tua dan mandul, ternyata juga sedang mengandung seorang anak laki-laki (Luk 1:37). Hal ini semakin meyakinkan Maria untuk menanggapi dan menerima tugas mulia, yakni menjadi Bunda yang mengandung dari Roh Kudus, dan menjadi perantara kejelasan bagi kelahiran Yesus di dunia ini. Yesus yang akan menjadi Juru Selamat dunia. Ketaatan Maria, sang perawan suci, sang perawan tak bernoda, yang kita peringati dan rayakan hari ini, telah menjadi teladan ketaatan yang tanpa cela, sehingga ia dipakai Allah untuk menjadi saluran berkat bagi seluruh umat manusia. (THONNY)
Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami agar dapat membuka hati kami sehingga selalu semangat melayani Engkau dengan talenta yang kami punyai, baik di tempat kerja maupun Gereja.
Janji: “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib, keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus TUHAN telah memeperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa ---- Mazmur 98:1-2
Pujian: Albertus adalah seorang pemuda yang iba melihat seorang gadis yang sedang hamil ditinggalkan kekasihnya yang tidak mau bertanggung jawab. Bermula dari rasa iba, ia selalu mendampingi gadis tersebut, dan akhirnya jatuh hati. Meskipun di awal pernikahannya ditentang keluarganya, namun dengan membuktikan kesungguhan cinta dan merawat anak yang telah lahir, membuat mereka mulai diterima oleh keluarganya.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ