CINTA KASIH BAPA

14 September 2020

Senin, 14 September 2020 

Bilangan 21:4-9

Mazmur 78:1-2, 34-35, 36-37, 38

Filipi 2:6-11

Yohanes 3:13-17

 

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."  ----  Yohanes 3:16

 

PESTA SALIB Suci dirayakan Gereja tiap tanggal 14 September. Pesta ini bermula   dengan diketemukannya Salib asli Kristus oleh Santa Helena,355-430, Ibu dari Kaisar Konstatinus, yang memindahkan ibukota Kerajaan Romawi dari Roma ke kota Konstatinopel, kota yang didirikannya, di mana nantinya ada Gereja ‘Hagia Sofia’ (Hikmat Kudus). Sebagai syukuran, Helena berziarah ke Tanah Suci. Di Yerusalem , Helena dan para peziarah itu ,  menemukan tiga salib. Dari tiga salib , ada satu salib yang memberikan mukjizat penyembuhan pada seorang wanita yang sakit tak-tersembuhkan. Sejak saat itu di Yerusalem, dirayakan ‘Penemuan Salib Suci itu’ tanggal 14 September, dan diabadikan Gereja sampai sekarang dalam Liturgi.

Salib mengingatkan kita akan Yesus yang rendah hati dan patuh kepada kehendak Bapa. Sebab Ia “tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:6-8).

Salib - tanda kepatuhan Yesus kepada rencana keselamatan - dari Allah Bapa: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16). Allah sungguh mencintai kita dan ingin kita semua selamat lewat Salib Yesus Kristus.

Salib bukan sekedar ‘Simbol’ kekristenan kita. Salib bukanlah sekedar ‘hiasan’ dinding rumah dan meja bila kita berdoa bersama. Pesta Salib Suci hari ini menantang dan menuntut tanggapan pribadi kita masing-masing!

Bagaimana kita sewaktu tiap kali ‘Membuat Tanda Salib’ mengawali dan menutup doa-doa dan Ibadat kita? Itu kita lakukan asal-asalan tanpa makna dan hormat?

Pernahkah ‘Berdoa Jalan Salib’ pribadi dan berdevosi pada Salib ?

Apakah kita menyatukan derita kita dengan Salib (penderitaan) Kristus ?

Apakah Salib menggerakkan hati kita untuk mewartakan Yesus Yang Tersalib kepada orang yang belum mengenal-Nya, agar mereka terselamatkan oleh Salib. (RIC)

 

DOA:  Ya Yesus, “dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia”, kasihanilah kami.

JANJI: “Allah itu penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan amarah-Nya dan tidak melampiaskan keberangan-Nya”---Mazmur 78:38

PUJIAN: Nikodemus, malam-malam datang kepada Yesus untuk berbincang dengan-Nya. Yesus bersabda, “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga anak Manusia harus ditinggikan” (Yoh 3:14).  Sewaktu Yesus ditinggikan di Kalvari (wafat disalib), ia membawa  rempah-rempah untuk membubuhi tubuh-Nya. Ia ikut mengkafani dan mengubur Yesus.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.