CIRI SEBUAH PANGGILAN
16 November 2020
Senin, 16 November 2020
St. Gertrudis
Wahyu 1:1-4;2:1-5a
Mazmur 1:1-2.3.4.6
Lukas 18: 35-43
“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Mazmur 1:1-2.
PANGGILAN MENGIKUTI YESUS adalah anugerah. Sering tak terencana. Itulah yang terjadi pada pengemis buta yang duduk “di pinggir jalan” dekat kota Yerikho (Luk 18:35). Ketika tahu Yesus sedang lewat, ia segera minta tolong untuk dikasihani. Ia memanggil Yesus dengan nama “Putra Daud” (ay. 38.39), padahal orang banyak menyebut-Nya, “Yesus orang Nazaret” (ay. 37).
“Putra Daud” adalah nama yang memiliki nuansa mesianis (2 Sam. 7). Sedangkan “Yesus orang Nazaret” adalah nama yang diteriakkan oleh roh jahat (Luk. 4:34), dan disebut oleh hamba yang mengenali Petrus, saat Yesus diadili di Mahkamah Agung (Mat 26:71).
Sejak awal, sudah tampak perbedaan karakter keyakinan antara si buta dan orang banyak. Tak salah, bila orang banyak lalu menegornya (ay. 39).
Sikap Yesus berbeda. Bagi Yesus, seruan “Putra Daud” itu, justru membuat-Nya “berhenti, dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya” (ay. 40). Yesus menilai, pengemis itu seperti sosok dalam Mzm 1: 1-2, yaitu, “orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang siang-malam, merenungkannya”.
Karena tekun pada Tuhan, si buta itu mampu menyapa Yesus sebagai Kurios (tuan). Ini menunjukkan, ia mengakui Yesus sebagai Pribadi yang memiliki kekuasaan (Luk 19:33).
Dalam KS, nama kurios banyak dipakai untuk Yahwe, dan untuk mereka yang diurapi-Nya menjadi hristos (yang terurapi), atau Messiah (Yes 61:1.2; Kis 2:36). Di sini, si buta itu memiliki pemahaman yang dalam mengenai perutusan Mesias. Ia sadar, salah satu misi penting kedatangan Mesias, adalah menyembuhkan orang buta (Yes 29:18; 35:5; 42:7.15). Kualitas iman si buta inilah, yang membuat Yesus mengatakan: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau” (ay 42).
Yang unik, setelah disembuhkan, pengemis itu lalu “mengikuti Dia (Yun. ?kolouthei aut?) sambil memuliakan Allah” (ay 43). Makna ungkapan akoloutheó adalah “berada dalam keleuthos (jalan) yang sama”. Dalam keikutsertaan pada ‘jalan Yesus’ itu, ia “memuliakan Allah”. Dampaknya, “seluruh rakyat memberi pujian kepada Allah!”
Tindakan pengemis itu telah membuka ‘jalan baru’ bagi orang lain untuk percaya. Ia menjadi rasul, “seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya” (Mzm. 1:3).
Penyembuhan si buta dekat Yerikho ini menggambarkan proses sebuah panggilan. Awalnya, di ‘pinggiran (secara sosiologis maupun ritual)’; kemudian, berkat ‘ketekunan imannya yang benar’, ia dipanggil untuk ‘mengikuti jalan Yesus’. Akhirnya, panggilan penuh ketulusannya itu, membawa orang lain untuk ikut memuji Allah!
Si buta itu adalah profil murid sejati, yang selalu mengajak lingkungannya untuk mengupayakan segala sesuatu “ad maiorem Dei gloriam”, ‘agar kemuliaan Allah menjadi lebih besar. (WIT)
DOA: “Ya Bapa, bukalah mata kami agar mampu melihat kasih kebaikan-Mu. Keluarkanlah diri kami dari jalan cinta-diri,tuntunlah kami menjadi rasul kerahiman-Mu, sehingga di mana-mana hanya kemuliaan-Mu sajalah, yang diwartakan”.
JANJI: “TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.” – Mazmur 1:6
PUJIAN: St. Getrudis (1256-1302) dari Hefta, Jerman, dikenal sebagai biarawati berpendidikan tinggi dan cerdas. Ia fasih berbicara dalam Bahasa Latin, yang zaman itu hanya monopoli ilmuwan dan rohaniwan pria. Namun, ia tidak silau dengan talentanya. Berkat anugerah penampakan Yesus, Getrudis mencurahkan seluruh jiwa-raganya pada hidup kontemplatif. Segala daya tarik pengetahuan duniawi pun, dikuburnya. Perhatiannya dicurahkan kepada Kitab Suci, karya para pujangga Gereja, dan perayaan ibadat.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ