“CLASH OF CHARACTERS”
16 March 2021
Selasa, 16 Maret 2021
Yehezkiel 47:1-9.12
Mazmur 46:2-3, 5-6, 8-9
Yohanes 5:1-16
“Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ, dan karena Ia tahu bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” Yohanes 5:6
KARAKTER, KEPRIBADIAN, seseorang, sering bisa dideteksi melalui concern terhadap penderitaan orang lain. Kisah penyembuhan di kolam Betesda di hari Sabat adalah gambaran sebuah clash of characters, atau ‘benturan karakter’.
Pasti, para pemimpin Yahudi tahu kebiasaan orang sakit ‘ngumpul’ di kolam Betesda (artinya: ‘rumah pencurahan kasih’) menunggu Malaikat Tuhan menggoncangkan air kolam, dan menyembuhkan siapa saja, yang paling dulu ‘nyebur’.
Secara normal, seharusnya, para pemimpin Yahudi ikut bersyukur, saat kemurahan Tuhan menyembuhkan seseorang. Tetapi, ini hari Sabat. Concern utama mereka adalah mengawasi aturan, bukan pada karya ‘pencurahan kasih Allah’, seperti yang ditunjukkan oleh nama kolam itu. Maka, ketika melihat si lumpuh, yang baru disembuhkan oleh Yesus, membawa matras, yang sudah ditidurinya selama hampir sepanjang hidupnya, segera para pemimpin Yahudi itu menegor keras. Inilah awal drama clash of characters, antara Yesus dengan para pemimpin agama Yahudi.
Identitas dan karakter Yesus memang berbeda. beda. Tampaknya, Yesus hanya secara kebetulan lewat dekat kolam Betesda. Tetapi, mata dan hati kasih-Nya tersentuh melihat orang lumpuh, yang sudah menderita selama 38 tahun. Angka itu mengingatkan lamanya pengembaraan bani Israel di gurun pasir dari Mesir ke Tanah Terjanji, di mana mereka menerima Hukum Taurat. Di sinilah concern Yesus terhadap orang lumpuh, yang sudah bergelut dalam derita selama hampir 38 tahun, menjadi nyata. Orang lumpuh itu pantas diberi ‘torah baru’, yaitu kasih yang menyembuhkan. Dan, Sabat adalah hari yang pas untuk itu.
Ungkapan Ibrani ‘torah‘ (Taurat) memiliki akar kata yang sama dengan ‘yareh’ (panah). Maka, dalam pengertian torah (arahan, ajaran, doktrin) selalu terkandung sebuah target. Sasaran torah adalah ‘kebenaran mengenai Allah, dan bagaimana orang berrelasi denganNya’.
Allah itu adalah Kasih, demikian diwartakan oleh Yesus. Karena “Allah adalah Bapa-Nya” (ay.18), maka Yesus pun juga menjadi sebuah ‘kasih’ bagi si lumpuh. Dan, karya kasih itupun tidak pernah mengenal batas waktu. “BapaKu bekerja sampai sekarang (termasuk hari Sabat), maka Akupun bekerja juga” (ay.17). Karakter dan identitas Yesus inilah, yang menjadi kulminasi clash. Kasih-Nya tidak pernah berbatas. Sebaliknya, hukum dan aturan manusiawi selalu memiliki limitasi.
Lalu, siapa yang akan kita tiru dalam drama clash of characters ini? Jawabannya sangat tergantung pada sikap kita sehari-hari (habitus) terhadap mereka yang menderita. (WIT)
DOA: “Ya Bapa yang Mahakasih, ke hadapanMu, kami bersyukur atas karya kasih-Mu yang tidak berbatas. Curahkanlah Roh-Mu agar kami pun mampu memberikan kasih kami kepada sesama tanpa batasbatas buatan kami sendiri.”
JANJI: “Ke mana saja sungai itu mengalir, di sana semuanya hidup.” Yehezkiel 47:9
PUJIAN: Ini kisah mengenai seorang suami dan ayah, yang kecanduan ekstasi, dan akhirnya membuat dirinya dan keluarganya hancur. Istrinya sangat terpukul. Hanya demi anak-anak, ia tidak minta cerai. Namun, batin sang suami sudah terlanjur patah. Dalam kekalutannya, ia berniat bunuh diri dengan pergi ke sebuah hotel sambil membawa obat tidur. Tetapi, dompetnya tertinggal. Ia terpaksa menginap di rumah sahabatnya. Dalam dialog dengan sahabatnya, yang punya iman kokoh itu, sang suami bertobat. Di sekitar kita, kasih Yesus memang selalu hadir lewat iman umat-Nya.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ