CORAK PENGADILAN AKHIR
21 October 2021
Kamis, 21 Oktober 2021
St. Ursula
Roma 6:19-23
Mazmur 1:1-4.6
Lukas 12:49-53
“Sama seperti kamu telah menyerahkan anggota -anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan, yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikiah hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu ke kekudusan"
KETIKA KEDATANGAN YESUS ditolak oleh sebuah desa Samaria, Yohanes dan Yakobus, yang disebut juga sebagai Boanerges (=anak-anak guruh), minta agar “api diturunkan dari langit untuk membinasakan mereka“ (lih. Luk 9:51-56). Mereka ingin, Yesus bertindak seperti nabi Elia, yang dua kali menurunkan api dari langit untuk membinasakan 50 utusan Raja Ahazia yang menyembah Baal-Zebub (lih. 2 Raj 1:10.12). Tetapi, Yesus menegur mereka. Permintaan itu hanya mencerminkan kesombongan diri kedua Boanerges itu, karena menilai diri mereka sebagai yang paling suci dan paling benar.
Namun, dalam Lukas 12:49 ini, mengapa Yesus kemudian mengatakan: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi, dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!“. Apakah Yesus telah mengubah sikap-Nya? Apa makna, Yesus mengharapkan datangnya api?
Perikop ini memang harus ditempatkan dalam konteks pengajaran Yesus kepada para murid-Nya, sepanjang perjalanan-Nya menuju Yerusalem (lih. Luk 9:51-19:41). Para murid diajak untuk melihat ’bumi‘ yang konkret ini, beserta arah eskatologisnya. Warta eskatologis adalah arah pengajaran dan karya Yesus. Itu sudah dinyatakan oleh Simeon, saat memberkati Keluarga Kudus di kenisah. “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel, dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan“ (Luk 2:34).
Kedatangan-Nya itu seperti “kapak yang tersedia pada akar pohon, untuk menebang dan membuang ke dalam api setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik.", begitu khotbah Yohanes Pembaptis (lih. Luk 3:9). Untuk itu, “Dia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.“ (Luk 3:16). Api Ilahi itulah yang akan membersihkan manusia dari dosanya, dan menguji kemurnian iman, agar pantas menyambut Hari Kedatangan Tuhan (lih. 1 Ptr 1:7).
Dari kerangka zaman eskatologis, pengajaran dan kehadiran Yesus memang menimbulkan pemisahan dan pemilahan, di mana kesatuan keluarga pun terkena dampaknya. Loyalitas tunggal kepada Kristus memang menjadi inti kekristenan; ia berada di atas semua loyalitas lainnya. Menempatkan sebuah loyalitas di atas Allah adalah penyembahan berhala, seperti yang dilakukan oleh Raja Ahazia. Melalui perikop Lukas 12:49-53, kita diajak merefleksikan kembali loyalitas kita masing-masing.
DOA: “Ya Bapa yang Maharahim, bersihkanlah hati kami dengan api Roh Kudus-Mu, agar menjadi murni di hadapan-Mu”.
JANJI: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil”. Mazmur 1: 1-3.
PUJIAN: Hari ini adalah perayaan mengenang Santa Ursula, seorang putri Raja Inggris, yang hidup pada Abad IV. Kehidupannya tidak banyak diketahui. Namun, ia dikenal sebagai seorang perempuan yang membela iman dan mempertahankan kemurniannya. Demi imannya, ia menolak dinikahi oleh pangeran kafir. Demi iman dan kemurniannya, ia rela memilih menjadi martir di Koln, Jerman. Di kota itu, Ursula bersama para pembantunya, dibunuh oleh suku Hun, pengembara dari Asia Tengah, yang menguasai Eropa sepanjang Abad IV. Orang-orang Kristen kemudian memakamkan jenazah para martir itu di kuburan dekat gereja Koln. Kepribadian St. Ursula inilah yang mendorong St. Angela Merici (1474-1540) memilih St. Ursula sebagai pelindung tarekat yang didirikannya di Brescia, Italia, pada th. 1535. Tarekat itu kini dikenal dengan nama "Tarekat Suster-suster Ursulin" (OSU), yang kini juga berkarya di beberapa keuskupan di Indonesia.
Oleh : H. Witdarmono
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ