DALAM PERJALANAN HIDUP TUHAN SETIA MENYERTAI
21 June 2021
Senin, 21 Juni 2021
St. Aloysius Gonzaga
Kejadian 12:1-9
Mazmur 33:12-13. 18–20.22
Matius 7:1-5
“Sesudah itu, Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb” ---Kejadian 12:9
ZAMAN ABRAM belum ada kendaraan kecuali berjalan kaki dan naik onta. Sukakah kita bepergian jauh? Mungkin kita tertarik, sebab dengan bepergian, kita diperkaya dengan pengalaman baru, melihat daerah dan tempat yang g baru. Tetapi bagi yang sering melakukan perjalanan jauh-jauh, itu bisa membuat bosan.
Dan dalam bacaan pertama, dikisahkan Abram telah menempuh perjalanan dari Ur ke Haran; itu berjarak 1000 km atau jarak antara Merak ke Banyuwangi. Sekali lagi Abram jalan kaki bersama onta. Dan Allah ternyata memanggil Abram untuk pergi lebih jauh lagi, ke tanah Kanaan.
Allah menuntun Abram dalam perjalanan itu dengan beberapa pemberhentian: Istirahat di Bethel, Damaskus, lalu tak langsung ke Kanaan melainkan menjauh lagi, yakni ke Mesir. Itu semua dilakukan karena ia patuh mendengarkan petunjuk Tuhan. Tentu dalam perjalanan yang panjang, ia merasa letih, bosan lewat padang gurun. Itulah tahun-tahun yang panjang hanya untuk mendengarkan suara Tuhan. Bergunakah, bermanfaatkah itu semua ?
Hal itu juga dialami oleh para kudus yang besar-besar. Kitapun demikian juga. Kita lewati campuran masa-masa pesta dan masa-masa biasa seperti dalam Penanggalan Liturgi. Ada waktunya kita terinspirasi lalu menyala dan menggebu-gebu. Ada kalanya kita merasa sepi dan tak ada rasa, membuat bosan, seperti dalam perjalanan di pada gurun.
Tetapi dalam saat yang galau itu, kita diingatkan oleh Sabda suci bahwa Allah itu setia dalam menyertai perjalanan hidup kita. Ia kuasa membuat sumber air di tengah padang pasir, air keluar dari padas.
Baiklah kita hening sejenak, kita kenang adanya berkat-berkat Tuhan, entah itu adanya suatu persahabatan atau janji-janji yang meneguhkan dari ayat-ayat Alkitab. Perjalanan hidup yang berat dan kering, seperti melewati padang gurun, tidak berarti bahwa Tuhan meninggalkan kita. Ini sama sakali tidak mungkin. Tuhan Allah sangat mencintai kita, mencintai anda. (SW)
DOA: Tuhan, bila aku dalam keadaan kesepian atau kegembiraan, tunjukkan kepadaku kedermawan-Mu!
JANJI: “Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dia-lah Penolong kita dan Perisai kita”--- Mazmur 33: 20
PUJIAN: Tanggal 21 Juni adalah pesta St. Aloysius Gonzaga (1568-1591). Seorang frater Yesuit, mahasiswa, mati muda dalam usia 23 tahun. Selain saleh ia menjadi relawan setia di suatu Rumah Sakit di Roma, karena saat itu ada wabah pes, (seperti sekarang ada wabah Covid-19). Ia terpapar sendiri oleh penyakit pes itu dan meninggal karena kasih akan sesama. Ia dijadikan ‘idola’ oleh kaum muda katolik baik pelajar maupun mahasiswa. Umumnya santo santa itu sudah usia lanjut, dengan adanya orang kudus muda, anak-anak muda tertarik mengidolakannya sebagai ‘pelindung’.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ