DALAM PERJAMUAN AKHIR
30 March 2021
Selasa, 30 Maret 2021
Yesaya 40:1-6
Mazmur 71:1-6, 15,17
Yohanes 13:21-33, 36-38
“Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna” Yesaya 49:4
PERJAMUAN AKHIR, secara Luturgi, baru kita rayakan dua hari lagi, di hari Kamis Putih. Saat ini kita ingin mempersiap-kan diri untuk peristiwa itu. Dengan melakukan upacara nanti, kita tidak akan ada waktu untuk merenungkan dan memetik apa yang terkandung dalam peristiwa Perjamuan Akhir.
Mau tak mau Yesus tentu mempunyai alasan banyak untuk kecewa dan merasa sia-sia atas jerih payah-Nya. Tiga tahunan Yesus memberikan diri-Mya untuk berkotbah dan memberi teladan pengorbanan Diri serta kasih yang tanpa syarat. Dengan mukjizat-mukjizat-Nya Ia tunjukkan kemenangan dengan menyembuhkan penyakit banyak orang, Ia usir setan dari orang kerasukan, memberi makan yang lelah kelaparan karena mengikuti-Nya untuk mendengarkan ajaran-Nya. Betapapun keras dan capai Ia bekerja, Kerajaan Allah yang Ia wartakan, terasa masih dalam impian.
Para tokoh politik bangsa-Nya ingin melenyapkan-Nya. Para pimpinan agama atau alim ulama Yahudi sangat cemburu akan ketenaran-Nya yang berujung pada usaha membunuh-Nya. Para pengikut-Nya yang semua begitu antusias, makin lama makin pudar dan ingin balik ke kampung halaman mereka.
Dalam Perjamuan Paska, Yesus memandang kiri kanan-Nya sahabat-sahabat terdekat-Nya. Ia tahu bahwa salah satu akan berkhianat. Dan lagi murid yang dipercayai-Nya yang telah bersumpah mati membela-Nya, beberapa jam kemudian, menyangkal-Nya dan mengatakan tak pernah kenal. Murid-murid lain nampak bengong saja. Yesus merasa kecewa berat. Dan kita?
Mungkin juga kita menghadapi kekecewaan. Keputusan-keputusan kita banyak yang tidak kita pertimbangkan masak-masak dan hasilnya berakibat fatal. Relasi kita dalam keluarga atau dalam komunitas karya, terasa tidak harmonis, di sana sini, terselip konflik.
Karya pastoral di paroki lebih menekankan organisasi, tata peraturan, merancang proposal yang muluk-muluk. Itu semua dirasa jauh lebih penting dari pada kotbah yang menyapa dan mengubah, lebih penting daripada pelayanan kepada yang miskin dan terpinggirkan dalam paroki. Dan relasi kita sendiri dengan Tuhan terasa lemah dan asal-asalan berdoa.
Kita kecil hati dan mau mundur? Jangan! Lihat Yesus! Ia tabah dan tak pernah menyerah. Kekecewaan-kekecewan kita bila dibanding yang Yesus alami di Kamis Putih malem, itu kecil dan tak berarti. Tetapi kalau kita meniru rasul Yohanes, bersandar di dada Yesus, kita akan merasakan bahwa Yesus begitu bersandarnya pada Bapa dengan penuh kepasrahan. Yesus tahu benar bahwa nanti sebentar lagi Ia akan menang atas kuasa kegelapan. Yesus tahu benar bahwa dirinya ditentukan untuk menang atas dosa, iblis dan ‘ego’- sendiri. Dan Yesus lakukan itu semua untuk kamu dan saya, untuk kita, ya untuk kita semua. (SW)
DOA: “Yesus, terima kasih sekali atas kemenangan-Mu di Salib.”
JANJI: “Jadikanlah bagiku, gunung batu tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku, sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku. ...sebab Engkau harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa mudaku.” Mazmur 71:3, 5
PUJIAN: Hari Rabu, umumnya, dijadikan waktu ‘gladi resik’ bagi Lektor, mempersiapkan ‘Bacaan Kisah Sengsara” dan Drama Penyaliban Yesus oleh OMK Paroki.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ