DARI MENGHUKUM KE BERBELA RASA
23 May 2022
Rabu, 25 Mei 2022
Kisah Para Rasul 17: 15, 22--18:1
Mazmur 148: 1-2, 11- 14
Yohanes 16: 12-15
“Aku melihat barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: ‘Kepada Allah yang tidak dikenal’. Apa yang kamu sembah dengan tanpa mengenalnya,
itulah yang kuberitakan kepadamu”
Kisah para Rasul 17: 22
SIAPA YANG TIDAK mengenal Saulus yang namanya berubah menjadi Paulus, sebelum berjumpa dengan Yesus dalam perjalanan ke Damaskus ? Dengan penuh nafsu ia, seorang Farisi yang fanatik, dengan semangat menyala ingin membabat habis umat kristiani, orang-orang Yahudi yang tersebar di kota-kota di luar Israel yang telah menerima Yesus sebagai sang Juru selamat. Paulus serang, seret masuk penjara orang-orang yang menjadi penganut ‘jalan baru’ yang tidak sejalan dengan penghayatan agamanya. Dua puluh tahun kemudian, seputar tahun 56-57, dalam perjalanan misionernya yang-ke 3 ia berada di ujung timur benua Eropa di daerah Makedonia.
Dan salah satu kota yang masyur di sana waktu itu Atena. Di kota itu ia jalan-jalan dan melihat banyaknya kuil dewa-dewi. Betul mereka ini menyembah berhala, tetapi di balik itu Paulus merasa orang-orang Atena itu religius. Mereka percaya dan rindu akan realitas yang di luar alam atau adi-kodrati . Keyakinan ini diungkapkan dengan mendirikan kuil-kuil dan beribadah kepada patung-patung itu. Orang Atena begitu religiusnya sampai takut-takut, jangan-jangan ada dewa yang belum memperoleh penghormatannya dari orang-orang. Dan orang Atena lalu mendirikan satu kuil tanpa nama. Di kuil itu tertulis ‘Kepada Allah yang tidak dikenal’. Paulus dalam hal ini tidak melihat dari segi negatifnya -menyembah berhala, lalu mempersalahkan mereka, menghakimi serta mengutuk mereka -, tidak. Tetapi justru Paulus melihat semangat rohani mereka. Dan kuil tanpa patung tanpa nama, bagi Paulus lalu menjadi pintu masuk bagi pewartaan, karena dia sangat berbela rasa dengan mereka dan ingin menyelamatkan mereka. Dengan kepandaian dalam pewartaan ia mulai berkatekese, bahwa Yesus berkenan mewahyukan Allah yang tak dikenal itu, sebagai Allah yang mahakuasa, mahacinta dan pengampun. Ia Bapa kita semua. Ia menghendaki agar semua diselamatkan dalam Diri Yesus sang Juru Selamat. Tetapi ia ditolak dan dibunuh dengan digantung di kayu salib, meninggal, tetapi pada hari Ia bangkit. Sewaktu ia mewartakan Yesus bangkit dari maut dan tentang kebangkitan orang mati, orang-orang Atena yang mendengarkannya geleng-geleng kepala, tidak percaya dan meninggalkan tempat kerumunan. Paulus ditinggal sendirian. Ia gagal total dalam mewartakan Injil di Atena.
Di sini kita bisa meneladani Paulus dalam memiliki semangat yang tinggi dalam penginjilan, yang cerdas mempelajari situasi masyarakat untuk mencari pintu masuk untuk mewartakan Kristus. Juga kita kagum akan Paulus, yang biasanya keras dan galak, tetapi di Atena kita berjumpa dengan Paulus yang sabar, berwawasan luas serta berbela rasa dengan orang-orang setempat. (S.W)
DOA: Tuhan, tiap orang rindu dan haus akan Dikau. Perhatikan orang-orang yang menaruh harapan mereka pada dunia ini. Angkatlah pandangan mata mereka ke atas, kepada-Mu, ya Allah yang maharahim dan mahakasih. Tuntunlah mereka menemukan damai dan sukacita sejati yang memuaskan kerinduan mereka.
JANJI: “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya!” Yohanes 17: 12
PUJIAN: Dengan adanya Sila Pertama dari Pancasila, ‘Ketuhanan Yang Mahaesa’, iman kristiani mendapatkan tempat dan kesempatan serta perlindungan untuk mewartakan Injil dan beribadah selaras dengan iman kristiani.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ