DENGAN IMAN DAN KERENDAHAN HATI KITA MEMOHON
10 February 2022
Kamis, 10 Februari 2022
Santa Skolastika, Perawan
1 Raja-Raja 11:4-13
Mazmur 106:3-4.35-36.37.40
Markus 7:24-30
… “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang dibawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” --- Markus 7 : 28
PEREMPUAN SIRO-FENISIA dalam Injil Matius (15: 21-28) disebut juga sebagai perempuan Kanaan. Bangsa Yahudi merasa diri sebagai bangsa pilihan Allah, sehingga mereka bersikap arogan terhadap bangsa non-Yahudi serta meremehkan mereka, bahkan mereka disebut anjing yang diartikan sebagai najis. Siro-Fenisia atau Kanaan ini salah satu bangsa yang mereka anggap najis. Padahal pada masa Yesus berkarya, saat itu, peradaban Siro-Fenisia dalam Sastra dan Politik telah lebih maju dari bangsa Yahudi.
Dalam bacaan Injil hari ini, diceritakan seorang perempuan Siro-Fenisia datang tersungkur di depan kaki Yesus, mohon agar Yesus menyembuhkan anak perempuannya yang kerasukan roh jahat. Yesus menjawab permohonannya itu dengan mengatakan bahwa tidak layak roti yang disediakan untuk anak-anak dilemparkan kepada anjing. ( - Yesus bukan ikut-ikutan rasis, melainkan Ia menguji iman perempuan itu, mungkin juga sekaligus ingin menyindir kearoganan bangsa Yahudi -).
Mendengar jawaban Yesus itu, ia meskipun datang dari bangsa yang peradabannya lebih maju dari bangsa Yahudi tidak menjadi tersinggung. Perempuan itu menyadari bahwa ia tidak disukai dan dipandang rendah oleh bangsa Yahudi. Dengan rendah hati ia menerima dianggap sebagai bangsa yang lebih rendah dan dianggap najis bahkan disebut ‘sederajat anjing’. Ia tetap tersungkur di hadapan Yesus dan mengatakan bahwa apa yang diucapkan Yesus itu benar, namun anjing-anjing yang di bawah meja itu juga makan remah-remah roti yang dijatuhkan anak-anak.
Perempuan ini menunjukkan kerendahan hati dan iman percayanya yang kuat kepada Yesus, bahwa Yesus sajalah yang bisa menyembuhkan anaknya. Ia pastinya telah mendengar bahwa Yesus tidak pernah menolak orang yang datang meminta tolong pada-Nya. Yesus pasti peduli dan berbelas kasih, maka dia terus berharap kepada-Nya. Sikapnya berkenan kepada Yesus, membuat anaknya disembuhkan-Nya.
Sikap perempuan Siro-Fenisia atau Kanaan ini patut kita teladani. Banyak di antara kita, merasa diri sebagai anak-anak Allah, bahkan ada yang menyebut diri sebagai aku anak Raja sehingga merasa layak dan pantas memohon dan mengklaim janji-janji-Nya namun lupa untuk introspeksi :
- Apakah dengan mengaku sebagai anak-Nya kita telah bersikap benar sebagai anak-Nya dan melakukan sesuai apa yang Bapa perintahkan ?
- Apakah kita telah merendahkan diri juga hati kita di hadapan Allah Bapa ketika kita datang kepada-Nya?
Marilah kita mengingat bahwa tidak ada seorang pun yang layak di hadapan Allah. Jadi ketika kita merasa diri layak, maka kita telah meninggikan diri di hadapan-Nya, patut Ia akan menolak kita. Mari kita belajar rendah hati. Tanpa kerendahan hati, tidak seorang pun dapat memandang wajah Allah, Bapa kita. (Amanda)
DOA: Bapa, ampuni kami bila selama ini kami telah bersikap lalai sebagai anak-Mu. Bimbinglah kami agar kami dapat belajar terus untuk menjadi rendah hati, agar dapat memandang wajah-Mu.
JANJI: “Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan daripadanya, satu suku akan kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih.” - 1 Raja-Raja 11:13
PUJIAN: Ibu Teresa dari Kalkuta, diludahi oleh seorang bapak pemilik toko roti, ketika ia datang memohon agar pemilik toko sudi memberikan roti-roti yang tidak habis terjual hari itu untuk dibagikan kepada orang-orang miskin dan kelaparan. Sementara para suster yang menyertainya merasa marah atas perlakuan dan penghinaan pemilik toko roti tersebut, Ibu Teresa malah berlutut di hadapan pemilik toko dan tanpa kemarahan beliau berkata, “Tuan, ludah itu untuk saya, tetapi berikanlah roti itu untuk mereka yang kelaparan.” Sikap Ibu Teresa yang menerima penghinaan itu membuahkan pertobatan bagi pemilik toko roti tersebut. Malah dia menjadi berkat bagi orang-orang miskin tersebut. Bukan roti sisa yang diberikan, tetapi sejumlah besar roti baru dan hangat diberikan pemilik toko tersebut. Dia juga menggalang donasi bersama para pemilik toko roti lainnya.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ