DI ATAS BATU ATAU DI ATAS PASIR ?
07 December 2023
Kamis, 7 Desember 2023
Minggu Adven I
Yesaya 26:1-6
Mazmur 118:1.8-9.19-21.25-27a
Matius 7:21.24-27
“Bukan setiap orang yang berseru-seru kepada-Ku; “Tuhan-Tuhan!”, akan masuk Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di Surga.” --- Matius 7:21
DI SETIAP PERJALANAN pewartaan-Nya, Yesus seringkali menyampaikan kepada murid-murid-Nya dan orang-orang yang mendengar pewartaan-Nya, Yesus menyebutkan apa yang menjadi tugas-Nya: “Sebab aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia (Allah Bapa) yang telah mengutus Aku” (Yoh 6:38). Seperti pada firman-Nya hari ini, Tuhan menegaskan kembali bahwa tidak setiap orang yang berseru-seru kepada-Nya akan masuk surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga. Tentu yang menjadi pertanyaan bagaimana caranya melakukan kehendak Allah Bapa? Apakah saya sudah melakukan kehendak Allah Bapa di surga? Jangan-jangan selama ini saya hanya melakukan kehendak yang baik menurut saya, bukan sesuai dengan kehendak Allah Bapa?
Sebagai kata kuncinya, Yesus mengatakan bahwa orang yang melakukan kehendak Allah Bapa seperti orang bijak mendirikan rumah di atas batu, sedangkan sebaliknya yang tidak melakukan kehendak Allah seperti orang bodoh mendirikan rumah di atas pasir. Dan ketika turun hujan, rumah yang di atas batu tidak roboh, sedangkan rumah di atas pasir, roboh dan hebat kerusakannya.
Makna dari perumpamaan ini, batu dan pasir adalah dasar atau pondasi dalam mendirikan rumah. Maka imanpun akan menjadi kuat dan kokoh di dalam hidup kita jika kita mampu memahami kehendak Allah dalam kehidupan kita. Sehingga ketika ujian datang dalam kehidupan kita, kita tidak mudah goyah dan selalu ada harapan bahwa Allah senantiasa mengasihi kita dan memberikan jalan terbaik dalam mengatasi ujian.
Iman yang diperoleh pada awalnya dapat berupa iman warisan dari orang tua, atau karena kehendak sendiri atau dorongan dari berbagai pihak yang kita percayai, kita memilih iman sebagai orang Katolik. Dengan seiring waktu, iman akan tumbuh dan kokoh, jika kita mulai ikut pelayanan, atau ikut komunitas kitab suci seperti KPKS, KEP, Emmaus Journey dsb, setelah itu dipratekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, agar orang lain diselamatkan, kita dapat menjalankan tugasnya dengan mewartakan sabda Yesus dengan mengajak orang-orang yang ingin mengenal Yesus ke gereja, mengantar mereka mendaftar sebagai katekumen, sehingga mereka dapat belajar dan akhirnya dibaptis. Contoh berikutnya, Yesus minta kita melakukan perbuatan kasih, seperti memberi makan orang kelaparan, menengok orang sakit dan di penjara. Kita dapat menjalankan sendiri atau bersama-sama komunitas di gereja dengan mendatangi orang-orang yang tidak mampu, orang-orang sakit dan di penjara. Jadi apa yang Tuhan Yesus teladankan, kita tinggal mengikuti-Nya. Walaupun belum sempurna, itu sesuatu yang wajar karena setiap orang mempunyai bakat dan talenta masing-masing, tetapi perbuatan kasih yang dilakukan karena mengikuti teladan Yesus, bukan untuk mencari nama, bukan untuk kemuliaan sendiri. Ini menjadi perbuatan kasih yang dikehendaki Allah.
Jadi melaksanakan kehendak Allah adalah sederhana yaitu adanya kemauan untuk berkorban baik waktu, tenaga, pikiran, dan dana, dsb, karena Allah telah mengasihi kita terlebih dahulu, maka kasih-Nya kita teruskan kepada sesama, maka hidup iman kita seperti orang bijak mendirikan rumah di atas batu. (S. Indra Wahyu).
DOA: ”Allah Bapa di surga, firman-Mu mengajarkan kepada kami agar kokoh seperti mendirikan rumah di atas batu. Semoga melalui kegiatan dan komunitas yang dapat kami ikuti dalam pelayanan di gereja di paroki dan wilayah kami, iman kami semakin kokoh, Amin.”
JANJI: ”Dalam kesesakan aku telah berseru kepada TUHAN. TUHAN telah menjawab aku dengan memberi kelegaan. TUHAN di pihakku Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” - Mazmur 118:5-6.
PUJIAN: Santo Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja. Ambrosius lahir pada tahun 334 di Trier, Jerman dari sebuah keluarga Kristen. Ia mendapat pendidikan yang baik dalam bahasa Latin, Yunani dan ilmu hukum. Di kemudian hari ia terkenal sebagai seorang ahli hukum yang disegani. Keberhasilannya di bidang hukum menarik perhatian Kaisar Valentinianus; ia kemudian dinobatkan menjadi Gubernur Liguria dan Aemilia, yang berkedudukan di Milano, Italia Utara. Ketika Auxentius, Uskup kota Milan meninggal dunia, terjadilah pertikaian antara kelompok Kristen dan kelompok penganut ajaran sesat Arianisme. Ketika mereka berkumpul untuk memilih uskup baru, Ambrosius dalam kedudukannya sebagai gubernur datang ke basilika itu untuk meredakan perselisihan antara mereka, tetapi mereka secara aklamasi memilih Ambrosius menjadi Uskup Milano. Ambrosius enggan menerimanya karena ia belum dibaptis. Selain itu ia merasa jabatan uskup itu terlalu mulia dan meminta pertanggungjawaban yang berat. Tetapi akhirnya atas desakan umat, ia bersedia juga menerima jabatan uskup itu.
Kotbah-kotbahnya Amrosius sangat menarik dan kemudian diterbitkan menjadi bacaan umat. Salah satu kemenangannya yang terbesar ialah keberhasilannya mempertobatkan Santo Agustinus. Ambrosius meninggal dunia pada tahun 397 dan digelari Pujangga Gereja. Ia termasuk salah seorang dari 4 orang Pujangga Gereja yang terkenal di lingkungan Gereja Barat.
Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)