DI KAKI SALIB YESUS
19 September 2019
Kamis, 19 September 2019
1 Tim 4:12-16
Mzm 111:7 – 10
Lukas 7:36-50
“Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak sudah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” ---- Lukas 7:47
PERNAHKAH KITA melihat seseorang yang bersalah berat dan banyak, dengan penuh percaya diri dan keberanian luar biasa datang mendekati Yesus? Nah, ini orangnya! Lukas tak menyebut nama wanita itu. Ia tahu bahwa Yesus, yang ia cari itu, baru berada dalam pesta makan perjamuan bersama di rumah Simon. Yesus bersama orang-orang “tersuci” di kota itu. Wanita tahu dan sadar pula bahwa orang-orang ‘suci’ itu akan menghukum dirinya. Tetapi ia tetap percaya teguh bahwa Yesus mempunyai kuat kuasa mengampuni dan dan berkenan mau mengampuninya. Dia kesampingkan rasa malu, demi mencari Yesus.
Dengan sikap tubuh yang menyatakan kerendahan hatinya, ia dekati Yesus dengan membawa sesuatu, yang ia miliki, sebagai hadiah bagi Yesus, yakni sebotol wewangian ‘alabaster’ – minyak wewangian yang paling baik dan mahal saat itu. Ia berlutut dekat Yesus. Apa yang ia lakukan? Ia membasuh kaki Yesus yang kotor berdebu dengan air matanya. Dan ia mengeringkannya dengaan rambutnya.
Dan menurut para ahli, minyak wangi yang ia bawa itu adalah sama seperti yang dipakai untuk jenasah yang mau dikubur. Kisah meminyaki kaki Yesus itu sebagai gambaran penyaliban: dosa yang menyalib mati Yesus.
Kita merasa sangat sedih dan penuh penyesalan, karena dosa-dosa kita, kita telah ikut ambil bagian dalam penyebab kematian Yesus. Maka mari kita datang ke kaki salib Yesus. Kita memohon pengampunan. Dan di kaki salib itu kita memohon dipulihkan kembali.
Doa: Bapa bantulah diriku agaraku selalu depat menemukan ungkapan bertobat.
Janji: “Jadilah teladan dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetianmu dan ketekunanmu” --- 1 Timotius 4:12
Pujian: Sri Wulandari sesudah ikut retret panggilan, memutuskan mempersembahkan diri untuk hidup tidak-bekeluarga demi Kerajaan Allah (‘single for God’).
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ