DI MANA POSISI KITA?

17 April 2021

Sabtu, 17 April 2021

Kisah Para Rasul 6: 1-7

Mazmur 33: 1-2.4-5.18-19

Yohanes 6:16-21

 

“Aku ini, jangan takut!” Yohanes 6:20

 

SEBAGAI ORANG YAHUDI, apalagi sebagai seorang nelayan, sangat mengherankan bila para murid Yesus begitu takut menghadapi “laut yang bergelora akibat angin kencang” (Yoh 6: 17-19). Seharusnya mereka mengimani apa yang dikatakan oleh Mzm 46:1-2, “Allah itu bagi kita (merupakan) tempat perlindungan dan kekuatan. Sebab itu, kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah” (lih juga Mzm 107:29-30).

Penginjil Yohanes menjelaskan ketakutan para murid itu melalui dua ungkapan.

Yang pertama, melalui konteks kegelapan malam: “saat hari sudah mulai malam” (ay 16). Ungkapan khas Yohanes itu menandai adanya situasi kegelapan spiritual, yang dialami oleh para murid, karena dari mana-mana, berbagai kuasa jahat sedang mengintai mereka.

Yang kedua adalah konteks laut/air. Dalam PL--khususnya dalam Kitab Yesaya--, laut atau air merupakan lambang kefasikan dan kekacauan. “Orang-orang fasik itu adalah seperti laut, yang berombak-ombak, sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah, dan lumpur” (Yes 57:20).

Berhadapan dengan situasi yang melampaui kemampuan manusia itu, Yesus tampil seperti Yahwe saat menemui Musa pada Kel 3:14, yaitu dengan mengatakan, “Aku ini (Yun. egó eimi), jangan takut!” (ay 20). Dalam sabda Yesus ini jelas sekali makna kewibawaan dan kekuasaan Ilahi, yang ditunjukkan oleh Yesus; sama seperti tampak pada pernyataan-Nya mengenai Roti Hidup: ”Aku ini (Yun. egó eimi) Roti Hidup” (Yoh. 6: 35.41.48.51).

Seperti Yahwe, yang tampil kepada Musa’, ungkapan “egó eimi” pada kisah ‘Yesus berjalan di atas air’ ini, juga menjadi penanda bahwa telah terjadi sebuah teofani, ‘penampakan Allah’. Lalu, bila pada PL, setiap teofani selalu menuntut jawaban sikap, demikian pula teofani pada kisah ‘Yesus berjalan di atas air’ ini, menuntut sebuah keputusan dan tindakan. Ada dua corak keputusan yang ditunjukkan oleh Yohanes. Yang pertama, “banyak murid-murid Yesus mengundurkan diri, dan tidak lagi mengikuti Dia” (ay. 66). Yang kedua, sebaliknya, kedua belas murid-Nya, termasuk Yudas, tetap mengikuti Yesus (lih. ay. 67-71).

Kita bisa bertanya, di mana posisi dan sikap kita saat Allah menampakkan Diri-Nya lewat kehidupan sehari-hari kita? (WIT).

DOA: “Ya Allah yang Mahakuasa, kami percaya akan perlindungan-Mu di masa gelombang pandemi dan bencana mengancam kehidupan kami. Kuatkanlah iman kami, agar kami tidak tergoda untuk mencari kekuatan lain di luar Diri-Mu.”

JANJI: “Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka, yang takut akan Dia, kepada mereka, yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari maut, dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan”---Mazmur 33:18

PUJIAN: “Tuhan, Engkau di mana?” Suatu ungkapan protes campur putus asa. Ini sering membuat orang terlalu cepat memutuskan nasib dirinya sendirian. Di sinilah makna Gereja sebagai Umat Beriman menjadi sangat penting seperti diceritakan pada Kisah Para Rasul 6, di mana dalam iman Yesus Kristus, umat saling melayani, berbela rasa, sehingga mereka tidak merasa sendirian. Tetapi, bagaimana hal ini dapat dipraktikkan di masa pandemic zaman Covid 19, ketika harus jaga jarak?

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.