DIA MENDERITA DAN WAFAT KARENA CINTANYA KEPADA KITA
15 April 2022
Jumat, 15 April 2022
Jumat Agung - Puasa dan Pantang
Sengsara Tuhan : Liturgi Sabda,
Penghormatan Salib dan Komuni
Yesaya 52:13--53:12
Mazmur 31:2.6.12-13.15-16.17.25
Ibrani 4:14-16;5:7-9
Yohanes 18:1--19:42
“Kata Yesus kepada Petrus:…, bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku. ” --- Yohanes 18:11
PENDERITAAN YESUS telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya (bacaan pertama), bahwa anak manusia harus menderita untuk menanggung dosa banyak orang dan wajah serta tubuhNya menderita penuh luka karena siksaan. “…dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak” (Yes 53:12c). “Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia - begitu buruk rupanya, bukan seperti anak manusia” (Yoh 52:14).
Seperti dikisahkan oleh Yohanes, bahwa Yesus dengan berani dan patuh menghadapi pasukan prajurit yang menangkap dan membelengguNya. “Jawab Yesus: “Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi” (Yoh 18:8). Kasih Yesus kepada para muridNya begitu mendalam, Yesus tidak ingin para muridNya menderita karena membela diriNya, bahkan menyuruhnya pergi agar tidak mengalami penderitaan yang akan dialamiNya.
Sebagai manusia, hati Yesus tentu merasa sangat sedih, karena dalam penderitaan ini tidak seorang muridpun dengan berani berkorban mendampingi dan membelaNya. Malah Petrus menyangkal-Nya bahwa dirinya murid-Nya sampai tiga kali. Juga sewaktu Dia dibawa ke pengadilan, sedangkan setiap hari Yesus bersama para muridNya dan mereka menyaksikan betapa kasihNya Yesus kepada orang-orang menderita, sakit dan tiada harapan. Mereka semua ditolongNya dan disembuhkanNya. Semua murid lari tunggang langgang ketakutan ketika menghadapi ancaman dan penderitaan, dan Yesus ditinggal sendiri menghadapi penghakiman dan siksaan dari para prajurit.
Dan bagaimana kita sendiri sebagai murid dan pengikut Kristus ?
Yesus tidak lagi akan sengsara dan wafat di Salib lagi. Ia telah mulia di surga. Yang dapat kita lakukan ialah mengenang Sengsara dan Wafat-Nya seperti hari ini, di hari Jum’at Suci. Kita kenang juga dengan penuh syukur lewat ‘Doa Jalan Salib’ dan lewat Doa Rosario dalam ‘Peristiwa Sedih’. Kita juga bisa ‘berpantang dan berpuasa serta bermatiraga’ meski di luar Masa Pra-paska, karena cinta kita kepada-Nya dan ingin meneladan-Nya. Karena cinta kita kepada-Nya, kita juga dapat mewujudkannya dalam bentuk kepedulian kita kepada sesama kita yang menderita. Dengan doa devosi kepada Sengsara dan Wafat Yesus ini, kita dimampukan untuk ‘Semakin rajin mengasihi - semakin menjadi orang yang berpeduli dan semakin berani dalam bersaksi’ ! (SIW)
DOA: Tuhan Yesus, ampunilah segala sikap dan perbuatan kami yang pengecut. Mudah menyalahkan Engkau jika mengalami permasalahan hidup. Maka ubahlah kami dengan Roh KudusMu untuk menjadi pribadi berani dan penuh percaya dalam setiap permasalahan, Amin.
JANJI: “Terpujilah TUHAN, sebab kasih setia-Nya ditunjukkan-Nya kepadaku dengan ajaib pada waktu kesesakan ! Aku menyangka dalam kebingunganku: "Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu." Tetapi sesungguhnya Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong” - Mazmur 31:21-22.
PUJIAN: Para Martir sejak Stephanus -martir pertama- sampai zaman sekarang, adalah orang-orang beriman yang berani menderita sengsara kematian demi membela iman dan moral kristiani. Mereka bersaksi akan iman mereka akan Tuhan Yesus Kristus yang sengsara dan wafat bagi kita semua.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ