DIKASIHI  YESUS – ATAU MENGASIHI YESUS?

27 December 2018

Kamis, 27 Desember 2018

St. Yohanes

1 Yohanes 1:1-4

Mazmur 97:1-2,5-6,11-12

Yohanes 20:2-8

 

“... Apa yang telah kami lihat dengan mata kami, apa yang telah akmi saksikan... Firman hidup- itulah yang kami tuliskan kepadamu!”--- 1 Yohanes 1:1

 

KALAU KITA BANDINGKAN, di antara para rasul, Yohanes-lah – rasul yang mendapat hak istimewa dalam relasinya dengan Yesus. Yohanes hadir:

  • Dalam peristiwa Yesus berubah rupa di Tabor;
  • Di Taman Getsemani, saat Yesus mengalami sakratul maut;
  • Duduk di samping kanan Yesus sewaktu Perjamuan malam;
  • Dan satu-satu rasul yang berdiri di bawah salib bersama Bunda Maria sewaktu penyaliban.

 

Ia menulis dirinya sebagai “murid yang dikasihi-Nya” (Yoh 13:23). Sebenarnya Yohanes boleh saja menyebut dirinya sebagai murid “yang mengasihi Yesus”. Kedekatannya dengan Yesus itulah yang memberi apa yang dikatakan Yohanes itu menjadi sangat berbobot. Dapat kita bayangkan, bagaimana bila apa yang dikatakan Yohanes itu hanya dari orang lain, apalagi orang itu juga dari orang lain lagi. Puji Tuhan. Semunya berangkat dari pengalaman perjumpaan pribadi. Kita bisa membacanya dari kesaksian hidup dari pribadi Yohanes yang menyaksikan dan mengalami sendiri tentang diri pribadi Yesus.

Seperti Petrus, Yohanes bukanlah orang yang pandai mengkisahkan dongeng (2 Ptr 21:16) atau cerita khayalan. Kata-katanya berasal dari kisah nyata atau kebenaran, dari pengalaman pribadi – sang Sabda yang menjadi Manusia.

Injil tidaklah berhenti dengan kesaksian tertulis dari Yohanes. Sebagaimana dia diterangi dan dibimbing Roh Kudus, demikian pula Roh Kudus tetap berkarya. Kita masing-masing dapat mengalami pribadi Yesus secara mendalam. Ini terjadi, bila kita membaca dan merenungkan Kitab Suci. Mengapa? Karena sabda yang ada dalam Kitab suci bukanlah kata-kata melulu. Itu adalah Sabda Allah sendiri. Sabda Allah diinspirasikan oleh Roh Kudus. Maka sabda-sabda itu kuat dan hidup, berkuasa membawa diri kita berjumpa dengan Yesus sendiri (Ibr 4:12). Oleh karenanya, Kitab suci memiliki kuat-kuasa menjadikan kisah peristiwa Transfigurasi, Getsemani dan drama Penyaliban di Kalvari benar-benar hidup kembali dan mengubah hati kita.

Kalau kita mau menyelam lebih dalam ke dalam Kitab suci, jadikan Yohanes  sebagai titik awal. Injilnya menebus dalam kedalaman keilahian pribadi Yesus dan ke dalam perutusan-Nya – dan merasuk ke dalam diri kita sehingga Yesus bisa berkarya dalam diri kita.

Mau berjalan bersama Yohanes? Ini membutuhkan tiga-empat  minggunan. Perlahan dan dalam suasana doa, kita membaca satu hari satu bab. Buka hati dan budi. Beri kesempatan Roh Kudus menyapa dan berbicaara kepada hati kita. Biarkan Roh Kudus menyatakan pribadi Yesus kepada diri kita secara baru. Bisa saja kita lalu menjadi seperti Yohanes, siap mengkisahkan perjalanan pengalaman pribadi kita kepada sesama kita berjumpa dengan Yesus.

Doa: Ya Roh Kudus, bukalah hatiku untuk menerima Sabda Allah! Biarkan diriku mengalami kebaikan dan belas kasih Yesus.

Janji: ”Masuklah juga murid yang lain, ...  dan ia melihatnya dan percaya” --- Yohanes 20:8.

Pujian: Di beberapa Keuskupan sudah ada beberapa gerakan dari bawah membaca Kitab Suci, satu hari satu sampai tiga bab, dengan bimbingan lewat kelompok ‘Wa’ di ponsel.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.