DINAMIKA IMAN YANG PAS

16 January 2021

Sabtu, 16 Januari 2020  

Ibrani 4:12-16

Mazmur 19:8.9.10.15

Markus 2:13-17

 

“Firman Allah itu hidup dan kuat; ia lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam,… dan sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” --- Ibrani 4:12


PENGINJIL MARKUS menceritakan, banyak orang, termasuk mereka yang dikucilkan atau disingkirkan, tertarik pada belas kasih dan rahmat Allah. Namun, Allah-lah yang menentukan panggilannya. Dan, Yesus memang memanggil orang yang paling dibenci oleh masyarakat Yahudi, yaitu seorang pemungut cukai bernama Lewi bin Alfeus.  Tindakan Yesus itu pun segera menuai kontroversi.

Para pemimpin agama Yahudi punya kebiasaan untuk membagi manusia dalam dua kelompok. Yang pertama adalah kelompok yang secara ketat menaati hukum dan aturan agama. Kelompok kedua adalah mereka yang adem ayem terhadap peraturan. Kelompok ini sering dianggap sebagai warga kelas dua.

Haram hukumnya bagi kelompok pertama untuk berkawan, berbisnis, bertukar salam, makan semeja, apalagi menikah dengan kelompok kedua. Maka tak heran, sikap Yesus bergaul, dan berbagi makanan dengan kelompok kedua itu, mendapat tantangan.

Namun, Yesus tetap menjalankan misi-Nya dengan alasan “orang sehat tidak memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk 2:17). Melalui misi tersebut ditunjukkan karakter revolusioner dari situasi baru Kerajaan Allah, yaitu sebuah masyarakat inklusif, di mana Allah menjadi pusatnya.

Melalui panggilan Lewi ditunjukkan karakter yang benar-benar baru dari Kerajaan Allah. “Firman Allah itu hidup dan kuat; ia lebih tajam daripada pedang bermata dua  manapun; ia menusuk amat dalam, dan sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita”, tulis Paulus dalam Ibr 4:12.

Begitu ampuhnya firman tersebut, sehingga ‘manusia yang lama’ pun, tidak akan sanggup untuk menerimanya. “Anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula!” (Mrk 2: 22). Inilah karakter dinamis iman Gereja yang kristiani! Dan, sejarah menunjukkan, Gereja hanya berkembang, apabila umat bersedia memakai karakter revolusioner misi Yesus, yaitu bersedia  lebih banyak memperhatikan mereka yang tersingkir, dan yang dikucilkan. Sebaliknya, Gereja akan mudah pecah, penuh konflik, dan tercerai berai, manakala yang diutamakan, adalah kemapanan.

Dalam masyarakat yang sedang berkembang secara ekonomi maupun fisik, bahaya perpecahan lebih besar bila teologi sukses lebih diutamakan ketimbang teologi salib. Salib dengan corpus memang lebih memberi ruang kasih yang tulus ketimbang salib yang polos. Itu saja! (WIT)

DOA: “Ya Allah yang Mahabaik, wabah Covid 19 telah membuat kami secara konkret tidak terlibat pada penderitaan sesama. Concern virtual tidak mengasah diri kami. Datang dan tolonglah kami ya Tuhan, agar kami tetap peka dan mampu mewujudkan kasih yang nyata pada sesama yang terdekat.”

JANJI: “Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku,dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.” --- Mazmur 19:15

PUJIAN: Wabah Covid 19 yang berkepanjangan, telah membuat banyak paroki tidak lagi memiliki dana yang cukup, bagi mereka yang paling menderita. Dari kacamata iman, Gereja hanya ‘hidup’ kalau ia selalu berbagi, bukan atas perhitungan finansial, tetapi lebih karena iman pada Penyelenggaraan Ilahi. Sebagai umat paroki, tindakan apa yang harus kita lakukan, agar Gereja lokal (paroki), tetap eksis sebagai Umat Allah yang sejati?  

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.