DOA ADALAH NAPAS HIDUP KITA
23 October 2022
Minggu, 23 Oktober 2022
HARI MIINGGU BIASA XXX
Sirakh 35:12-14, 16-18
Mzm 34:2-3, 17-19, 23
2Tim 4:6-8, 16-18
Luk 18:9-14
“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain adalah pemungut cukai.”
Lukas 18:10
Ada orang mengatakan dalam temu sharing bahwa dirinya berdoa sewaktu beribadah Ekaristi. Itu bagus. Tetapi apakah ia hadir di dalam misa tiap hari atau hanya seminggu sekali di hari Minggu? Ini berarti orang itu belum memahami, memaknai apa itu hidup beragama. Bagi kita orang kristiani beragama itu berarti berelasi dengan Tuhan setiap hari baik dalam ibadah maupun di luar ibadah.
Berdoa bagi kita membuka diri untuk menyapa dan disapa oleh Tuhan lewat Firmannya. Dalam berelasi ini kita berdoa pada Tuhan dengan bersyukur dan memuji Dia dan juga kita berdoa untuk sesama kita sebagai wujud cinta kasih kita kepada sesama. Sebagaimna kita bernafas setiap saat dan setiap hari demikian pula dalam berelasi dengan Tuhan adalah setiap saat dan setiap hari. Berelasi pribadi dengan Tuhan dalam doa kita tangkap sebagai bernafas. Kita berdoa bukan hanya doa-doa hafalan atau doa-doa yang ada di dalam buku puji syukur dan madah bakti. Sebagaimana bernafas kita juga berdoa spontan, teratur karena kita butuhkan sapaan Tuhan.
Sejauh mana kita sudah terbiasa berdoa setiap saat sebagaimana bernafas. Apakah kita berdoa itu merasakan sebagai wajib atau beban hidup, atau kebutuhan? Jadi kita berdoa tidak hanya doa pagi dan doa malam bukan pula doa sebelum dan sesudah makan. Kita perlu mulai membiasakan diri setiap hari sebelum tidur, kita menghaturkan kepada Tuhan apa yang telah terjadi pada hari itu baik kegembiraan maupun kesusahan dan perjalanan hidup kita kepada Tuhan. Dengan demikian kita semakin di sadarkan bahwa hidup kita itu ada dalam penyelenggaraannya, dalam doa bukan kata-kata yang penting tetapi kesadaran kita bahwa kita sedang ada di hadapan Tuhan. Surat Santo Paulus kepada Timotius juga merupakan sebuah pergulatan batinnya, ketika ia ada di dalam penjara dan bagaimana penyerahan dirinya kepada Tuhan.
Untuk membangun suasana doa yang baik kita perlu mengkhususkan waktu atau dan sengaja mencari suasana hening untuk dapat mendengarkan sapaan Tuhan lewat firmannya. Kita perlu berdoa bersama khususnya dalam keluarga dan doa keluarga hanya dapat terjadi kalau ada suasana teduh, ada suasana rukun dan kebersamaan. Doa yang terbaik sebenarnya adalah hidup kita sendiri. Hidup kita yang baik, yang kita sadari itu sebenarnya juga sudah merupakan doa. Maka bagi orang yang sudah cukup usia tidak perlu di paksakan untuk menghafalkan doa atau membaca buku-buku doa karena penghanyatan iman atau hidup beragama yang baik itu sudah merupakan doa sendiri. (SW).
DOA “Tuhan bantulah kami selalu bisa menemukan waktu untuk Berdoa.”
JANJI “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.” Mazur 34:2
PUJIAN Sewaktu kecil kita biasa seminggu sekali mendengarkan pelajaran agama lalu di tutup dengan doa malam bersama, bersyukur dan mohon berkat. Dan kebiasaan itu membuat anak-anak terbiasa berdoa sendiri, berelasi dengan Tuhan dan mendoakan sesama. Dan ini membuka jalan untuk hidup Kristiani yang baik sebab doa sudah mulai menjadi nafas hidup. Kebiasaan untuk berdoa harus di mulai dan di latih sejak kecil serta bersama.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ