DOMBA YANG HILANG DARI MASA PANDEMI
06 December 2022
Selasa, 6 Desember 2022
Santo Nikolaus dari Myra
Yesaya 40 : 1-11
Mazmur 96 : 1-2,3,10ac,11-12,13
Matius 18 :12-14
“Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang. “ --- Matius 18:14
PANDEMI COVID-19 membawa banyak sekali perubahan, baik positif maupun negatif dalam tata kehidupan skala dunia/global, negara, sampai pada masyarakat/rakyat, keluarga dan individu. Kemunduran ekonomi, peningkatan teknologi, bergesernya skala prioritas, gaya hidup dan banyak lagi hal lainnya, salah satunya yang amat penting adalah kehidupan beragama dan penghayatan iman baik bersama-sama/kelompok maupun individu.
Tidak dapat dipungkiri, banyak diantara kita yang kehilangan orang-orang yang kita kasihi, entah anggota keluarga, sanak saudara, teman, juga para Imam kita. Kita terpaksa kehilangan mereka karena serangan virus yang mematikan. Kita tidak lagi bisa melihat, bercakap, berinteraksi dengan mereka karena mereka telah berpindah ke alam kekekalan. Kita hanya bisa merindukan dan mendoakan jiwa mereka kepada Allah Bapa. Semoga mereka didapati kelak dalam kebahagiaan kekal.
Kehilangan mereka yang telah berpulang, adalah sebuah fakta yang tidak dapat kita usahakan lagi. Final. Tetapi, saudara-saudariku, ada satu hal yang saat ini sedang kita hadapi yang harus kita perjuangkan, yaitu kehilangan orang-orang yang kita kasihi atau teman-teman. Mereka masih bersama-sama kita di dunia ini namun mereka menjauh bahkan menghilang dari kehidupan Gereja. Seolah larut dalam “eforia” covid yang sempat membuat kehidupan menggereja, aktifitas ibadah kita rayakan dalam perjumpaan virtual, bahkan kita hanya menyambut Hosti Kudus secara rohani. Demikian juga dalam komunitas-komunitas Doa ibadah, hanya beraktifitas melalui virtual. Saya sendiri merasakan kehilangan itu, dimana biasanya setiap hari Minggu adalah hari reuni yang menggembirakan dan penuh keakraban dengan keluarga besar. Seusai Misa, kami berkumpul di halaman gereja, ngobrol, bercanda dan sesekali makan bareng. Tetapi selama masa pandemi keakraban kebersamaan tersebut terhenti. Dan, sekarang, pandemi telah hampir usai, aktivitas masyarakat dalam pebagai bidang sudah hampir normal. Gereja-gereja pun telah membuka kembali aktivitas peribadatan dengan normal (dengan prokes), disinilah saya dan mungkin juga saudara-saudari dapati banyak diantara orang-orang yang kita kasihi, teman-teman kita, tidak lagi hadir di gereja untuk Ekaristi, atau di pertemuan komunitas. Mereka sehat walafiat namun tidak datang misa ke gereja., enggan pergi ke pertemuan komunitas karena sudah mempunyai kegiatan lain yang baru.
Terjadi kemunduran dalam penghayatan iman, terlihat dari bagaimana mereka merasa cukup dengan misa online, tanpa menyambut secara penuh Tubuh Darah Kristus yang adalah esensi iman kita. Mirisnya, mereka dengan ringan hati tanpa kuatir pergi ke keramaian-keramaian dunia, mal, cafe, resto, tempat wisata. Yang lebih buruk lagi, saya pun mengalami, orang yang kita kasihi tidak lagi pergi ke gereja pun tidak mengikuti Misa online. Mereka seakan tersesat selama masa pandemi dan entah belum mau, tidak merasa perlu, atau tidak tau jalan kembali ke gereja.
Firman hari ini mengatakan : “Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang “ ( Matius 18:14). Mengingatkan kita bahwa Allah Bapa tidak rela bila orang-orang yang kita kasihi itu hilang, terlepas dari keselamatan di dalam Putera-Nya. Sebagai anak-anak-Nya tentu saja sikap hati kita pun hendaknya selaras dengan hati Bapa. Dan, selama nafas kehidupan di dunia ini masih diberikan, mereka masih bisa ditemukan kembali. Apalagi Bapa melalui Roh Kudus-Nya selalu bergerak mencari orang-orang untuk diselamatkan.
Dalam keadaan jauh dan terpisah dari kawanan umat seiman, dari pembimbing rohani, dari komunitas gerejani, mereka bagai anak domba yang setiap saat terancam diterkam si jahat. Jadi, selama kesempatan masih ada, kita tidak tahu sampai kapan, marilah kita segera melaksanakan tugas perutusan kita sebagai gembala-gembala kecil, menjadi kepanjangan tangan Bapa di Sorga, mencari, meraih, mengajak mereka kembali ke dalam kehidupan menggereja.
Jangan biarkan pandemi membuat orang-orang yang kita kasihi, teman-teman kita, terhilang untuk selama-lamanya. Mari bergerak, Roh Kudus akan membimbing kita. ikut mencari mereka yang terdampak negatif oleh pandemi. (VLB)
DOA: “Allah Bapa, kami mohon kuatkanlah niat kami ,dan pimpinlah kami untuk menjangkau mereka yang kami kasihi dan mengajak mereka kembali bergabung dalam persekutuan umat-Mu sehingga mereka selalu dapat merasakan kasih-Mu dan terlindung di dalamnya.”
JANJI: “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.” - Yesaya 40:11
PUJIAN: Santo Nikolaus dari Myra, yang Gereja hari ini merayakannya, adalah seorang Uskup dari Myra di Asia kecil (Turki) yang sepanjang hidupnya peduli terhadap keselamatan tubuh dan jiwa sesama. Ia selalu bergerak cepat menolong sesama yang membutuhkan pertolongan, dan yang menjadi ciri khas karakternya adalah St.Nikolaus memberikan bantuannya dalam diam, ia sangat bahagia bila melihat orang lain tertolong oleh perbuatan kasihnya tanpa orang itu ataupun orang lain tau dialah sang penolong. Ia lebih bahagia bila Tuhan saja yang mengetahuinya. St. Nikolaus mempunyai hati seperti Allah Bapa kita, terutama terhadap anak-anak. Ia sangat mencintai anak-anak, sehingga ia dijuluki santo pelindung bagi anak-anak. Dan karena ia gemar berbagi, maka karakternya itu pun menginspirasi munculnya tokoh Santa Claus. Santo Nikolaus, yang gemar memberi kado juga gigih mempertahankan kemurnian ajaran Gereja terhadap serangan bidaah Arianisme.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ