EKSORSISME

20 January 2022

Kamis, 20 Januari 2022

1 Samuel 18:6-9; 19:1-7

Mazmur 56: 2-3.9-10a.10b-11.12-13

Markus 3: 7-12

 

“Setiap kali roh-roh jahat melihat Dia, mereka sujud di hadapan-Nya, dan berteriak: "Engkaulah Putra Allah”. Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia”.

Markus 3:11-12

 

PENGINJIL MARKUS menulis, setelah dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan, Yesus mengawali karya-Nya dengan berpuasa di padang gurun, tempat di mana roh jahat berkuasa itu (Mrk 5:2). Maka, sosok pertama yang mendekati Yesus adalah ‘Satanas’, musuh langsung Allah (Mrk. 1:13). Atas dasar itu, maka warta pertama Yesus adalah: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil! (Karena) saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat" (Mrk 1:15).

Dalam semua karya Yesus, setan, iblis, atau roh jahat, apapun namanya, adalah lawan pertama yang harus diusir (Mrk 1:23-26). Dasarnya adalah kodrat setan sebagai musuh Allah yang langsung. Sebagai roh murni, setan paling mengetahui identitas Allah. Namun, pengenalan ini sekaligus juga merupakan penyangkalan. Kontradiksi batiniah inilah, yang menjadi penderitaan abadi setan. Maka, ketika setan berseru kepada Yesus: “Engkaulah Yang Kudus dari Allah” (Mrk. 1: 24); “Engkaulah Putra Allah (Mrk. 3:11), atau "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Putra Allah Yang Mahatinggi?” (Mrk. 5:7), ini bukan seruan sukacita, tetapi seruan yang membuatnya diri setan ‘bukan siapa-siapa’. Bagi setan, penyebutan ‘Nama Yesus’ selalu menakutkan, menyakitkan, dan mengancam, karena menunjuk pada ‘nothingness’-nya, kenafiannya di hadapan Sang Pencipta.

Sebagai musuh abadi Allah, maka dalam setiap ‘ringkasan karya Yesus’ (Mrk 1:39; 3: 7-12), pengusiran setan, roh jahat, iblis, menjadi sesuatu yang paling utama. Pengetahuannya mengenai “siapa itu Allah”— meski ini sangat menyakitkannya--, dipakai sebagai senjata utama untuk menggoda dan menjerumuskan manusia. Inilah yang terjadi saat Iblis menggoda Hawa di Taman Eden. Ia memulainya dengan mengidentifikasi siapa Allah dan apa perintah-Nya. Kemudian, identitas Ilahi itu diputar balik, dengan mengatakan: “Allah mengetahui, pada waktu kamu memakan buah itu, matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik, dan yang jahat” (Kej 3: 5).

Di sini, ketidaksiapan ‘manusia pertama’ untuk memahami siapa Allah, menjadi pintu dosa. Itulah yang juga terjadi pada Petrus. Meski Petrus dipuji karena menyatakan: “Engkau adalah Mesias” (Mrk 8:29), namun ia tidak siap dengan pemahaman tersebut. Ketika Yesus bicara mengenai sengsara dan kebangkitan-Nya, Petrus segera “menarik Yesus ke samping, dan menegor-Nya”. Reaksi Yesus sangat marah. Ia menyebut Petrus sebagai ‘Satanas’ yang harus dienyahkan (Mrk 8: 32-33). Pemahaman Petrus mengenai Yesus masih dipengaruhi oleh iblis, bukan berasal dari Allah! Inilah mengapa, saat mengusir roh jahat, Yesus selalu “melarang mereka bicara, sebab mereka mengenal Dia” (Mrk 3:12). Mengenal Yesus tanpa iman sejati akan seluruh ajaran dan karya-Nya, bisa sangat berbahaya, dan menjadi pintu dosa. 

Mengusir setan atas Nama Yesus, juga menjadi tugas utama perutusan para murid Yesus. Untuk itu, mereka mendapat bekal kuasa (Yun. exousia) atas roh jahat (Mrk. 6:6), yang secara eksklusif dimiliki Yesus (Mrk 1:22.27; 2:10). Bahkan, setelah kebangkitan-Nya, kepada “seluruh dunia dan semua makhluk”, Yesus menunjukkan, karya “mengusir setan demi Nama Yesus” (Mrk 16: 17), menjadi penanda utama perutusan-Nya. Maka, Gereja harus melaksanakan eksorsismesebagai tanda perutusan Ilahi.

Bila setan itu mengenal Yesus, maka kita pun harus mengenal Dia, tetapi bukan dengan cara setan, seperti peristiwa Petrus. Roh jahat itu mampu memanipulasi identitas Allah atas dasar kesombongan dalam pengetahuan dan sikap. Sedangkan kita, seperti kata St. Antonius Agung (251-356), pertapa dari Mesir, harus mengenali Yesus Kristus dengan kerendahan hati. “Kesombongan adalah godaan terbesar yang membawa kematian”, demikian ajarannya. Ia mengingatkan, “Jikalau keangkuhan datang, datang pula cemooh; tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati”(Am 11:2. (WITDARMONO).


DOA   :    “Ya Allah yang Maharahim, ajarilah kami kerendahan hati saat mengenal-Mu”.  

JANJI : “Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut”. Mazmur 56: 12

PUJIAN: Dalam riwayat St. Antonius Agung, pertapa Mesir, yang ditulis oleh St. Athanasius (296-373), dikisahkan, pertapa itu selalu digoda oleh iblis melalui sesuatu yang sangat dekat dengan hatinya. Ini adalah hukum ‘proximity’, yang dipakai iblis. Antonius digoda untuk kasihan kepada adiknya yang masih kecil yang ditinggalkannya, sementara orangtua mereka sudah meninggal. Iblis pun lalu menunjukkan imajinasi masa muda Antonius yang berlimpah kekayaan seharusnya dinikmatinya. Menghadapi godaan ini, sikap Antonius tegas, dan bahkan berani menantang iblis untuk memperlihatkan dirinya. Yang utama, Antonius selalu memohon karunia Ilahi pembedaan Roh. Di sinilah, Salib Kristus, dan bukan usaha manusiawi, beserta persatuan dengan Yesus yang bangkit, menjadi kunci meng-eksorsis dan mengalahkan setan.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.