EMAUS BARU

20 April 2022

?Rabu, 20 April 2022

Kisah Para Rasul 3:1-10;

Mazmur 105:1-2.3-4.6-7.8-9;

Lukas 24:13-35.


“Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia”.

Lukas 24:31

 

          SEKITAR TAHUN 166 SM (Sebelum Masehi), Yudas Makabe memimpin bangsa Yahudi melawan kekuasaan asing yang menyerbu ke negeri Yehuda. Pada pertempuran di Emaus (sekarang: Amwas), yang terletak 30 km barat laut Yerusalem, Yudas Makabe dan pasukannya berhasil mengalahkan balatentara asing itu (lih. 1 Mak 3:40-57; 4:3; 9:50). Kemenangan itu membuat Emaus menjadi tempat dan lambang dari kejayaan Messias. Kenangan mengenai Emaus zaman Makabe ini membuat bangsa Yahudi, khususnya ketika dijajah dan dibuang, tetap percaya dan punya harapan pada kedatangan Messias yang sejati di masa depan.

          Penginjil Lukas, melalui perikop Lukas 24:13-35 (bacaan Injil hari ini), menggunakan ingatan mengenai nama ‘Emaus’ zaman Makabe, untuk mengisahkan sebuah katekese mengenai iman Kebangkitan Yesus, kepada dua orang murid, salah satunya bernama Kleopas (ay.18). 

          Pada zaman dulu, banyak desa dan tempat di Palestina, dinamai Emaus, artinya, ‘mata air panas’. Emaus pada Lukas 24:13— sekarang namanya Abu Ghosh/Qiriat Yearim--, adalah sebuah dusun yang terletak 11 km sebelah Barat Yerusalem. Di Emaus ‘yang baru’ itulah, Messias yang sejati dikenal. Pengenalannya melalui sebuah proses katekese, yang diberikan oleh seorang ‘kawan seperjalanan’ kepada  Kleopas dan teman satunya.

          Pada awalnya, dua orang murid itu, diajak untuk merefleksikan kembali apa yang sudah mereka lihat dan alami saat bersama dengan Yesus. Kemudian, mereka diminta untuk menghadapkan refleksi mereka itu dengan sumber-sumber kepercayaan sejati dalam “Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi” (ay.27). Kedua murid itu diajak untuk berdialog dengan Sabda Allah. Hasilnya, hati mereka berkobar-kobar (ay.32), mata mereka terbuka, dan mengenali Yesus yang bangkit melalui perayaan Ekaristi (lih. ay.30). Messias yang sejati telah mereka temukan di Emaus ‘baru’. Dari Emaus ‘baru’ itu mereka kembali ke Yerusalem—pusat Yudaisme—untuk mewartakan Peristiwa Kebangkitan ke seluruh dunia.

          Emaus ‘baru’ adalah pangkalan dari sebuah misi untuk mengganti the culture of death, yang berbentuk perang, kerusuhan, aborsi, kebencian, ketidakadilan, dosa, dan kemiskinan, menjadi sebuah kehidupan baru yang abadi. Melalui Kebangkitan Yesus, kekuasaan the culture of death telah dikalahkan. Paulus mengatakan, “Sebab, Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi; maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab, kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah (Rom. 6: 9-10).

          Bagi kita manusia, wujud kemenangan itu harus dilakukan lewat proses ‘katekese Emaus’, di mana dialog dengan Sabda Allah dan Ekaristi menjadi inti utamanya. Mustahil ada evangelisasi yang benar tanpa Kitab Suci dan Ekaristi. (Witdarmono)

 

DOA  : “Ya Tuhan, bukalah mata dan telinga kami, sehingga mampu melihat Wajah-Mu dan mendengar Suara-Mu dalam kehidupan bersama ini”.

JANJI : “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya”.

               Mazmur 105: 4-5

PUJIAN: Bagi banyak orang Kristen, kisah Ayub menjadi kekuatan dalam menghadapi penderitaan dan malapetaka. Meski Ayub digoda untuk ‘menggugat’ Allah, namun ia tetap percaya bahwa Allah telah merencanakan sesuatu yang baik bagi dirinya. Iman dan kesetiaannya pada Allah tidak digoyahkan oleh situasi hidupnya yang sangat buruk. Fokusnya pada Allah itulah, yang menyelamatkan hidupnya. Allah menganugerahi berkat berlimpah jauh di atas kelimpahan sebelumnya. “Aku akan mencari Allah, dan kepada Allah, aku akan mengadukan perkaraku. Dia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan yang tak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya (Ayub 5:8-9)

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.