EMPAT PULUH SATU TRILIUN RUPIAH
22 March 2022
Selasa, 22 Maret 2022
Daniel 3:25.34-43
Mazmur 25:4b-5b.6.7c.8-9
Matius 18:21-35
“Maka Azarya berdiri dan berdoa: “Janganlah kami Kautolak selamanya demi nama-Mu, dan janganlah Kaubatalkan perjanjian-Mu; janganlah Kautarik kembali dari pada kami belas kasihan-Mu demi Abraham, kekasih-Mu, demi Ishak, hamba-Mu, dan demi Israel, orang suci-Mu”.
Daniel 3:25. 34-35
BILA DIHITUNG dalam Rupiah, nilai utang 10.000 talenta, yang harus dibayar oleh seorang hamba kepada rajanya pada perumpamaan tentang pengampunan dalam Matius 18: 21-35 itu, setara dengan Rp. 41 triliun. Nilai itu adalah sekitar 16 kali lipat laba PT Pertamina (Pesero) tahun 2021, yang nilainya Rp. 2,6 triliun. Entah berapa juta ton beras bisa diperoleh dengan Rp. 41 triliun itu.
Dalam kisah perumpamaan Matius tersebut, utang sebesar itu dibebaskan dan dihapus oleh sang raja, karena hatinya berbelas kasih, saat hamba, yang takut dijual bersama anak istrinya dan seluruh hartanya itu, bersembah sujud dan memohon: “Sabarlah dahulu tuanku, segala utang saya, akan saya lunasi” (Mat 18:26).
Namun, pada hari yang sama itu, hamba yang baru dibebaskan dari utang Rp. 41 triliun itu, menolak permohonan kawannya yang berutang. Saat kawan itu ditagih, dan kemudian ia bersembah sujud dan berkata: “Sabarlah dahulu, utangku itu akan kulunasi”, hamba raja itu bukan hanya menolak, tetapi bahkan “menyerahkan kawannya ke dalam penjara sampai utangnya dilunasi” (Mat 18: 30). Padahal nilai utang kawannya itu hanya 100 dinar atau setara Rp. 17,1 juta!
Yesus menunjukkan banyak kontras dalam perumpamaan tersebut. Selain perbedaan nilai utang hamba kepada rajanya senilai Rp. 41 triliun, dan utang kawan hamba itu senilai Rp. 17,1 juta, terdapat pula perbedaan sikap antara sang raja yang berbelas kasih, dan si hamba yang kejam.
Sangat jelas, melalui perumpamaan tersebut, Yesus ingin mengajak para audiences-Nya untuk kembali konsekuen menghayati doa Bapa Kami: “ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12).
Kita semua telah menerima pengampunan dari Allah, maka kita juga wajib mengampuni “saudara kita dengan segenap hati”. Jika tidak, maka “Bapa di Surga akan menyerahkan kita kepada algojo-algojo, yaitu hukuman kekal” (Mat 18: 35). Pengampunan terhadap sesama memang harus dilakukan dengan segenap hati, sebab kesejatian dan ketulusan itu bersumber dari hati, bukan dari mulut (bdk. Mat 11:29; 12:34; 15:8). Inilah makna dari sabda pengajaran Khotbah di Bukit: “Karena di mana hartamu berada—maksudnya segala perbuatan dan keutamaan baik--, di situ juga hatimu berada, dan menjadi sumbernya” (Mat 6:21). (Witdarmono)
DOA : “Allah Maharahim, ajarilah kami untuk mengampuni sesama dengan tulus. Sadarkanlah kami bahwa pengampunan-Mu adalah dasar dari segala sikap dan tidakan hidup kami kepada sesama kami”.
JANJI : “Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. Dosa-dosaku pada waktu muda, dan pelanggaran-pelanggaranku, janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN”. Mazmur 25: 6-7.
PUJIAN: Dalam pengajarannya, Paus St. Yohanes Paulus II (1920-2005) selalu mengingatkan, awalilah setiap ibadat Ekaristi atau ibadat apapun dengan dengan Doa Tobat. Jangan pernah doa itu diabaikan atau diganti. Sebab, kita semua ini adalah orang yang berdosa. Saat ini, kita tetap ‘bisa’ hidup hanya karena kerahiman dan pengampunan dari Allah. Perlu kita perhatikan, terutama saat kita mulai merayakan Ekaristi atau ibadat sabda.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ