FIRMAN ALLAH YANG HIDUP
09 October 2021
Sabtu, 9 Oktober 2021
Yoel 3:12-21
Mazmur 97:1-2, 5-6, 11-12
Lukas 11:27-28
"Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."
Lukas 11:28
NARASI DALAM dua ayat tersebut hanya ada di Injil Lukas. Meski nama Maria tidak tertulis, tetapi ucapan seorang wanita yang mengungkapkan kekaguman akan Diri Yesus dengan tidak langsung menyebut Yesus melainkan ibu-Nya, dengan berkata “berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau”, jelas, bagi kita, yang dimaksud juga Ibu Maria.
Tetapi di situ Yesus menanggapi – dengan tidak mengatakan ‘ya benar, ibu-Ku bahagia’ , melainkan menyebut yang berbahagia ialah ‘mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya’. Yesus merendahkan Maria, ibu-Nya sendiri ? Tidak! ‘Yang berbahagia ialah dua-duanya’ ! Ya ibu-Nya, ya orang-orang yang ‘mendengarkan firman Allah, seperti apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri. seperti kata pepatah: ”Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”.
Kita tahu, pada peristiwa ‘Kabar Sukacita’, Ibu Maria mendengarkan ‘firman Allah’ lewat malaikat Gabriel, menjawabnya dengan penuh kepatuhan “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1: 38). Tetapi Yesus juga ingin menegaskan bahwa bukan hanya ibu-Nya sendiri, tetapi juga “mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya!”. Dan ini mencakup kita semua.
Tetapi ‘apa atau siapa Firman Allah itu?’ Firman Allah itu adalah “Yesus sendiri”. Karena “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yang diberikan kepada-Nya, sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1:14).
Firman Allah itu adalah Yesus sendiri yang telah menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Firman-Nya adalah ‘Peristiwa Yesus’ , yakni kisah tentang Pribadi-Nya, yakni apa yang diajarkan, dilakukan dan dialami-Nya serta pesan-pesan-Nya. Kalau dikatakan bahwa firman Allah itu perlu didengarkan dan dipelihara, artinya kita perlu membaca, mempelajari, merenungkannya dan lebih-lebih menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari, di manapun kita berada.
Firman Allah itu perlu kita pahami bukan hanya sebagai pesan tertulis yang hanya berlaku pada 2000 tahun yang lalu, tetapi ia merupakan pesan Tuhan yang hidup dan menjadi pedoman bagi kita sampai sekarang ini, pesan yang menyelamatkan kita. Jadi bila dulu yang ada hanya teradisi lisan, kemudian dibukukan, dan saat itu belum ada komputer dan internet, ini bukan berarti hal itu tidak berpengaruh dalam kehidupan manusia. Bila kita terlalu bergantung dan terikat pada buku dan komputer, maka hal itu juga berarti kita menyembah berhala !
Gereja Katolik memiliki ‘Wewenang Mengajar’ atau ‘Magisterium Gereja’ yang akan memelihara firman Allah dan memberikan pedoman-pedoman yang sesuai dengan perkembangan jaman.
Marilah kita terus membaca, mempelajari dan merenungkan firman Allah ini secara bijak, karena ia merupakan firman Allah yang hidup, dan menjadi pedoman bagi kita semua, baik pribadi maupun bersama sebagai umat. Pelajari hal itu dengan bijaksana sehingga kita dapat menerapkannya pada masa kini. Dan , karena pesan Yesus sendiri (Mat 28:19-20; Mrk 16:15) jangan lupa untuk membagikannya kepada orang-orang lain yang belum mengenal dan juga yang belum memahaminya, karena hal ini adalah tugas bagi kita semua. (DAG)
DOA:Ya Allah, biarlah firman-Mu selalu menjadi pedoman bagi hidupku, agar aku menjadi ciptaan-Mu yang setia dan dapat melaksanakannya secara konsisten.
JANJI:“TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita!” Mazmur 97:1
PUJIAN: Santo Hieronimus, yang lahir pada tahun 341, mendapat perintah dari Paus Damasus untuk membuat menterjemahkan Alkitab. Ia menerjemahkannya selama 30 tahun di Yerusalam. Perjanjian Lama diterjemahkannya dari bahasa Ibrani dan Aramik ke dalam bahasa Latin, dan Perjanjian Baru diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Latin. Hasil terjemahannya ini disebut Vulgata, yang berarti populer, dan sampai saat ini masih dianggap sebagai salah satu terjemahan resmi dan sah oleh Gereja.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ