FIRST RATE TESTIMONY

18 March 2021

Kamis, 18 Maret 2021

St. Sirilius dari Yerusalem

Keluaran 32:7-14

Mazmur 106:19-20, 21-22, 23

Yohanes 5:31-47


“Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku.” Yohanes 5:37


DI ZAMAN Yesus, Yohanes Pembaptis (YP) adalah tokoh penting. Murid-muridnya Provinsi Izmir, Turki (lih. Kis.19:1-4). Pengaruhnya sangat kuat di kalangan rakyat Palestina, hingga ikut memicu pemberontakan besar Yahudi melawan kekaisaran Roma tahun 66-73. Nama YP sejajar dengan Nabi Elia, yang dilukiskan oleh penulis Kitab Sirakh, “bagaikan api, yang perkataannya laksana obor membakar” (48:1). Seperti Elia, testimoni dari YP selalu dianggap sebagai first rate testimony.

Namun, first rate testimony mengenai Yesus itu, bukanlah dari manusia. “Segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepadaKu, supaya Aku melaksanakannya … itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa mengutus Aku” (ay. 36).

Kekuatan “pekerjaan dari Bapa”, yang dilaksanakan oleh Yesus itu, merupakan sumber sejati kehidupan abadi, seperti diungkapkan kepada Nikodemus di malam hari (lih. Yoh 3), maupun kepada perempuan Samaria di sumur Yakub (lih. Yoh.4). Namun, mengapa justru first rate testimony ini tidak bisa diterima oleh para pemimpin Yahudi?

Ketidakpercayaan kepada sebuah kesaksian biasanya dipicu oleh kesombongan, yaitu kesadaran untuk “tidak mau datang guna memperoleh kehidupan” (ay. 40).

Kesombongan adalah sebuah masalah orientasi moral terhadap kehidupan, di mana “di dalam hati, orang tidak mempunyai kasih akan Allah” (lih. Yoh 5:41). Ini berarti, segala bentuk kesombongan, baik kesombongan harta, intelektual, maupun kesombongan religius, selalu berseberangan dengan kasih akan Allah. Maka dari itu, dalam katekese Kristen awal, kesombongan (Lat. superbia), bersama dengan ketamakan, kedengkian, kemurkaan, percabulan, kerakusan, dan apatisme atau ketidakpedulian (Lat. acedia), dinamakan sebagai dosa-dosa pokok, karena berpotensi memunculkan berbagai dosa dan kebiasaan buruk lainnya (lih. Katekismus Gereja Katolik #1866).

Kesombongan membuat manusia kehilangan kontak dengan realitas kehidupan. Orang sombong hanya melihat kekuatan dirinya sendiri. Mengganti kesombongan dengan kasih, adalah inti karya Yesus melawan ketidakpercayaan. (WIT)

DOA: “Ya Allah yang Mahakuasa, jadikanlah kami saksi-saksi-Mu, yang bekerja bukan dengan kesombongan, tetapi dengan kerendahan hati dalam penyerahan kepada Rencana-Mu.”

JANJI: “Mereka melupakan Allah, yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal yang besar di Mesir.” Mazmur 106:21

PUJIAN: St. Syrillus dari Yerusalem (315-386), adalah orang pertama yang menulis buku pelajaran agama-katekismus- yang secara ringkas menguraikan Syahadat Para Rasul, dan Sakramen-sakramen. Ia tekankan, pengetahuan terbesar tentang Allah adalah mengakui cinta kasih-Nya dengan iman, dan mengenal kebenaranNya. Maka, Ekaristi Kudus, di mana Allah ‘mendatangi’ manusia, menjadi sangat penting. Tahun 350, ia terpilih menjadi Uskup Yerusalem. Seperti para tokoh Gereja masa itu, Syrillus juga banyak mengalami penganiayaan, khususnya karena ia melawan ajaran-ajaran sesat zaman itu.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.