HADIAH YANG PALING AGUNG
31 March 2021
Rabu, 31 Maret 2021
Yesaya 50:4-9a
Mazmur 69:8-10, 21-22, 31, 33-34
Matius 26:14-25
“Waktu-Ku hampir tiba...” Matius 26:18
DUA HARI lagi kita rayakan Jum’at Suci. Pengalaman rasa manis dan pahit dari Jum’at Agung ini, tiap tahun kita kenang dan kita rayakan, Kita akan berfokus pada ketidakadilan dan penghinaan serta kesengsaraan yang Yesus alami. Tetapi sekalgus wafat Yesus ini menyebabkan kita bersukacita bila kita berfokus pada semua berkat yang mengalir dari Salib.
Saat Yesus mengatakan ‘waktu-Ku hampir tiba”, sebenarnya Yesus mempersiapkan hati pada murid-Nya menatap ‘pengorbanan’ yang Yesus akan persembahkan bagi mereka – dan bagi kita semua. Yesus mempersiapkan para murid-Nya akan Perjamuan Akhir, di mana nanti Ia akan bersabda kepada para murid itu: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19).
Yesus juga mempersiapkan mereka akan saat di mana Tubuh-Nya menjadi kurban di Salib dan saat bila Tubuh dan Darah-Nya sendiri akan menjadi ‘roti kehidupan’ dan ‘piala keselamatan’. Ekaristi yang Yesus persiapkan ini bukanlah seperti ‘pil aspirin’ atau ‘pil vitamin’, yang akan bekerja sendirinya dalam tubuh kita.
Ekaristi bukan seperti obat yang kita telan dan kita tinggal menunggu itu akan bekerja begitu saja. Tidak! Ekaristi itu sebagai sesuatu yang sangat berharga, seperti permata yang paling mahal di dunia ini. Dalam Ekaristi yang kita sambut, Allah, sang Pencipta, hadir dalam diri kita. Ekaristi janganlah dibandingkan dengan uang, harta kekayaan, bahkan harta seluruh dunia, jabatan yang tinggi dan terhormat. Itu semua bukan bandingannya. Ekaristi adalah Roti Hidup yang menyatukan surga dan bumi.
Bila kita berbincang tentang Ekaristi, kita berbincang tentang Tuhan Allah sendiri, yang menganugerahkan segala-galanya kepada kita. Kita menerima yang sebenarnya kita tak berhak, bukan juga pahala dari hasil jerih payah kita. Pemberian itu begitu berharga sampai tak mungkin terbalaskan.
Sebentar lagi kita mengenang sengsara dan wafat Yesus di Salib. Memang saatnya sudah dekat. Kita mempersiapkan hati kita dengan merenungkannya, saat-saat suci saat yang menyedihkan dalam sejarah, tetapi sekaligus saat yang memberi sukacita. Ekaristi adalah pemberian paling agung dari Allah, yang dapat dianugerahkannya kepada kita. Dan setiap kali kita ‘Melakukan ini”, kita mengenang Dia, mengenang akan betapa kasih-Nya kepada kita. (SW)
DOA: “Yesus, tunjukkan kepadaku, bagaimana wafat-Mu membuat aku hidup. Persiapkanlah diriku memasuki saatsaat yang paling suci ini.”
JANJI: “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang daripada Ku sampai ke ujung bumi.” Yeremia 49:6
PUJIAN: Mulai besok pagi, kita memasuki “TriHari-Suci”. Kamis pagi tidak ada Misa di manapun. Hanya ada Satu Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Bapak Uskup setempat bersama para imamnya dan umat yang bisa datang, untuk merayakan Misa Krisma, setahun sekali. Bagi Keuskupan yang berdaerah luas, para pastor paroki tersebar jauh, Misa Krisma bisa diajukan satu dua hari sebelum Kamis putih.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ