HAKIKAT BAPA DAN HAKIKAT PUTRA
24 March 2021
Rabu, 24 Maret 2021
Daniel 3:14-20, 91, 92, 95
Mazmur T. Dan 3:52-56
Yohanes 8:31-42
“Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu.” Yohanes 8:38
ADA DEBAT panas antara Yesus dan beberapa pimpinan orang Yahudi, tentang hakikat ‘Bapa’ atau ‘kebapaan’ serta hakikat Putra ‘ atau keputraan’. Betulkah orang-orang Yahudi anak-anak Abraham – dan Abraham adalah orang pilihan Allah? Jawabannya: Ya dan Tidak!
Ada dua cara untuk memahami makna hakikat bapa atau kebapaan dan hakikat putra atau keputraan. Apa makna menjadi ‘bapa’, apa makna menjadi ‘anak’ ? Bapak dan ibu, - orangtua- bisa melahirkan anak. Dan anak itu milik mereka secara ‘biologis’. Tetapi bila anak itu tidak tinggal serumah, pola pikir dan pola hidup serta pandangan hidup tak seperti orangtuanya, anak tersebut kehilangan aspek pokok hakikat sebagai anak. Banyak pimpinan orang Yahudi – memang secara fisik keturunan Abraham – anak-anak Abraham, tetapi bukan dalam model keputraan yang kedua.
Mereka adalah anak-anak angkat Allah dan menjadi milik Allah, dan memang demikian adanya. Tetapi mereka tidak mau peduli akan Bapa mereka. Mereka kehilangan hal yang paling pokok dan intim dalam status mereka sebagai anak-anak Allah. Memang tidak semua orang Yahudi hidup seperti itu. Tetapi banyak juga merasa cukup menjadi keturunan Abraham saja, sehingga mereka tak dapat mengalami kegembiraan dan kemerdekaan sebagai anak-anak Allah. Dan kita?
Kita yang telah dibaptis, menjadi anak angkat Allah. Dan kita sebenarnya juga masih bisa menjadi anak-anak Allah, yang jauh lebih dekat dan intim dengan Allah pribadi, jauh lebih kuat dan kuasa! Kita lalu bisa juga memiliki kebiasaan-kebiasaan Bapa, apa saja yang Ia sukai, pandangan akan hidup ini. Oleh karena itu Yesus yang diutus Bapa itu tidak hanya untuk menghapus dosa. Ia datang untuk menjadikan kita-kita anak-anak Allah (Yoh 1:12-13).
Tentang hal keputraan ini, apa kata Katekismus Gereja Katolik (KGK), yang baru? “Menjadi murid Yesus berarti menerima undangan menjadi anggota keluarga Allah dan hidup seperti Dia.” (Karena) “Barangsiapa melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku, dialah saudariKu, dan ibu-Ku” (KGK, 2233).
Dalam hidup sehari-hari memang banyak sekali kesempatan untuk ‘hidup seperti Dia’. Ini memang tidak mudah, tetapi juga tidak begitu sukar. Upama saja, dapat saja kita tak ikut-ikutan ‘ bergosip ria’, mau mengampuni teman yang pernah menyakiti hati, membantu teman dalam kesukaran, bersedia menjadi ‘relawan sosial’. Tak perlu mengharapkan diri kita diketahui orang lain, apalagi dipuji. Hanya Allah Bapa yang tahu apa yang kita lakukan secara diam-diam, karena kita masuk dalam keluarga Allah. (SW)
DOA: “Ya Bapa, terima kasih atas utusanMu Roh Kudus yang mengangkat kami menjadi anak-anak-Mu. Bantulah kami untuk selalu setia pada-Mu.”
JANJI: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku.” Yohanes 8:31
PUJIAN: Sewaktu Daniel dihukum bakar bersama temannya, mukjizat terjadi; nampak ada tiga pemuda berjalan di tengah api, sambil memuji Allah. Puji-pujian mereka tercatat dalam kitab Daniel Tambahan, 3:3-90. Terdapat kata “Terpujilah, Pujilah dan bersyukurlah!” sebanyak 39 kali. Bersyukur dan memuji Allah Bapa itu hakikat anak-anak-Nya.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ