HAL BERPUASA
02 September 2022
Jumat, 2 September 2022
1 Kor 4: 1-5
Mazmur 37:3-4,5-6,27-28,39-40
Lukas 5: 33-39
Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” --- Lukas 5:33
KRITIKAN ORANG FARISI dalam injil hari ini juga sering kita dengar dan katakan di dalam kehidupan kita sehari-hari ketika melihat orang lain tidak melaksanakan kewajiban agama atau tradisi yang dianut. Ada yang berpuasa hanya karena mengikuti tradisi nenek moyang atau mengikuti aturan agama yang dianut, tetapi ada juga yang benar-benar berpuasa untuk mencari kehendak Allah.
Berpuasa yang benar bukan soal tidak makan dan minum saja tetapi sungguh-sungguh berserah diri untuk mengetahui kehendak-Nya. Jadi ketika kita berpuasa pada hari-hari tertentu dan melihat orang lain yang tidak berpuasa, kita tidak boleh mengkritik atau menghakimi orang lain seperti tanggapan yang Yesus berikan atas pertanyaan orang Farisi di atas, jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? (Luk 5:34). Yang dimaksud Yesus bersama mempelai laki-laki itu adalah Yesus sendiri dan sudah tentu para murid sedang bersuka-cita saat itu dan tidak perlu berpuasa. Dan perumpamaan tentang “mempelai” karena Yesus tahu bahwa tradisi orang Yahudi memang melarang orang berpuasa saat perjamuan kawin karena dianggap tidak menghormati mempelai. Lalu Yesus menjawab lagi, Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Luk 5:35).
Dan sebagai pengikut Kristus, kita juga berpuasa selama masa pra-paskah dimana kita mengenang pengorbanan Yesus yang telah wafat untuk menebus dosa kita dengan sungguh-sungguh melakukan pertobatan. Kita juga tidak dipaksa untuk berpuasa hanya untuk pencitraan diri bahwa kita beragama, tetapi kita berpuasa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan berserah diri dan memohon belas kasih Tuhan atas segala kesalahan dan dosa kita dan mengerti akan apa yang dikehendaki-Nya dalam hidup kita. (LLL)
DOA: Bapa yang baik, penuhi hati kami dengan kasih-Mu agar kami tidak menghakimi siapapun di dalam kehidupan kami sehari-hari.
JANJI: Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak. - Mazmur 37:5
PUJIAN: Yohanes Fransiskus Burte dilahirkan di Rambervillers, Loraine. Ia bergabung dengan para Fransiskan di Nancy, dan mengikrarkan kaul meriahnya. Yohanes ditahbiskan menjadi imam dan berkarya di tengah ordonya sebagai pengajar teologi. Sempat juga dia memimpin biara. Atas perintah Paus Klemen XIV, provinsi dimana Yohanes berada bergabung dengan Provinsi Ordo Fransiskan Konventual. Yohanes kemudian ditugaskan menjadi kepala biara di Paris.
Saat terjadi Revolusi Perancis Yohanes memilih untuk tetap setia kepada Gereja. Ia dengan tegas menolak sumpah setia kepada negara. Hal ini membuatnya ditahan pada sebuah biara Karmel. Yohanes Fransiskus Burte meninggal dunia sebagai martir pada 2 September 1792 di Hotel des Carmes, Paris, Perancis, setelah rumah tahanannya diserbu dan para rohaniwan yang menjadi tahanannya dibunuh. Pada 17 Oktober 1926 ia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ