HARI-HARI RAYA
30 July 2021
Jumat, 30 Juli 2021
Imamat 23:1, 4-11,15-16, 27, 34-37
Mazmur 81:3-6, 10-11ab
Matius 13:54-58
“Inilah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, hari-hari pertemuan kudus, yang harus kami maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap.” Imamat 23:4
KITAB TAURAT ada lima. Kitab kedua, ‘Keluaran’ adalah Kitab berisi kisah yang sangat menarik, keluarnya umat Israel dari perbudakan di Mesir, sedang kitab keempat ‘Bilangan’, mengutarakan hal relasi umat dengan Allah selama berpetualangan selama empat puluh tahun di padang gurun. Sedang di antara keduanya ada Kitab Imamat. Isinya kumpulan peraturanperaturan yang menata kehidupan umat Israel sampai sekecil-kecilnya. Kalau kita membaca akan cepat terasa bosan. Tetapi bagi kita yang hidup di abad ke-21 ini tetap dapat belajar bagaimana kita menghormati Allah selayaknya, sewaktu kita membaca dan merenungkan macam-macam pengajaran yang ada dalam Kitab Imamat itu.
Dalam bacaan pertama dari kitab Imamat, disajikan, hari-hari raya yang ditetapkan untuk memuji dan menghormati Tuhan Allah. Asal-usul hari-hari raya Yahudi ini terkait erat pada ‘dua masa panen’ di Palestina, yang mengalami empat musim: Pertama, pada musim Semi, yakni sewaktu mulai panen gandum dan anak domba dilahirkan. Kedua, musim Gugur, yakni sewaktu buah anggur dan buah zaitun dipetik. Meski tiap hari raya memiliki makna masing-masing, tetapi Tuhan memberikan tata peraturan dan cara dalam merayakannya. Konkritnya, orang-orang Israel, harus berhenti dari kerja-tangan-nya, mereka perlu berkumpul untuk beribadat dan mempersembahkan korban.
Pesta ‘Roti tak-beragi’, adalah hari raya di musim Semi, di mana buah pertama dari panen dipersembahkan kepada Allah. Ini mengingatkan mereka dan kita, bahwa semuanya berasal dari Allah dan milik Allah-lah. Sebaliknya hari raya Paskah, ini mengenang saat-saat pembebasan orang Israel dari Mesir. Dan yang terakhir adalah Pentakosta. Ini terjadi setelah 50 hari berikut sesudah Paskah, yakni pada akhir panen gandum. Ini mengajak kita melihat ke depan ke panen terakhir, di mana Yahwe akan memulai masa pemerintah-Nya secara penuh atas umat Israel di Yerusalem.
Dengan kedatangan Yesus Kristus yang memulai Perjanjian Baru, pesta-pesta ibadat Israel itu mendapatkan makna baru: • Dalam 50 hari, dari Paska sampai Pentakosta, kita merayakan peristiwa raya dalam penanggalan kristiani, yakni masa Paska – wafat dan kebangkitan serta kenaikan Yesus ke surga, serta tercurahnya Roh kudus. • Berhenti dari kerja dan berkumpul untuk merayakan Ekaristi pada hari-hari suci tersebut, sebenarnya kita merayakan ‘hidup baru’ dan ‘karunia keselamatan’ yang kita terima dalam Yesus – buah-buah panen perdana – meski kita juga mengantisipasi ‘panen agung terakhir dan terlengkap’ – yakni bila Yesus datang dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya, membawa kita masuk ke Kerajaan yang kekal.
Kitab Imamat yang menyajikan hari-hari raya, menginspirasi kita untuk menghayati perayaan hari-hari agung keselamatan kita dengan pantas, bukan sekedar libur dan istirahat dari kerja. (SW)
DOA: “Ya Tuhan, Engkau penguasa masa serta musim-musim, kami selalu ingin meluhurkan Dikau, sewaktu ingat akan karya-Mu yang mengagumkan dalam hidup kami.”
JANJI: “Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat nereka. Maka takjublah mereka...” Matius 13:54
PUJIAN: Kita semua ingat, waktu dulu, dalam Doa malam bersama, sebelum meneliti batin, kita diajak dahulu mengucapkan ‘Kesepuluh Perintah Allah’ dan ‘Kelima Perintah Gereja.’ Dalam Perintah Gereja, yang pertama dan kedua, berbunyi “Rayakan Hari Raya yang disamakan dengan hari Minggu. Ikutilah Perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan hari raya yang diwajibkan, dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ