HATI - HATI DALAM MENGKRITIK!
27 February 2022
Minggu, 27 Februari 2022
Sirakh 27: 4-7
Mazmur 92: 2-3, 13-16
1 Korintus 15: 54-58
Lukas 6: 39-45
“Hai orang munafik. keluarkanlah dahulu balok yang ada di dalam matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu”
Lukas 6: 42
MUNAFIK. Itu istilah yang dipakai Yesus yang diterapkan kepada orang-orang Farisi yang berperilaku keliru dalam hidup beragama. Istilah itu, dalam bahasa Latinnya, ‘hypocrita’ yang aslinya bahasa Yunani juga ’hypocrita’. Kata kerja ‘Hypokrinomai’ yang berarti menilai, mengritik dan menghakimi orang lain.
Kita orang ‘munafik’ kalau kita berpura-pura saleh, suci dan sebenarnya kita tidak saleh dan tidak suci. Lebih jauh, kita sebagai orang yang memiliki kelemahan dan kekurangan, tetapi menganggap diri kita lebih dari kenyataannya, tidak hanya berlagak sebagai ‘yang benar’, tetapi kita lalu menilai, mengritik dan menghakimi orang lain sebagai ‘orang yang tidak benar’ . Kita mempunyai ‘kesalahan besar’ (balok di mata kita) tetapi kita tidak menyadarinya; bagaimana kita dapat melihat kesalahan kecil , dilambangkan dengan ‘selumbar’ - benda kecil- yang ada di mata saudara kita ?
Di sini Yesus tidak berkenan kalau kita berlagak sok saleh, merasa lebih saleh dari yang lain. Yesus juga tidak berkenan kalau kita mudah menilai, mengritik orang lain apalagi menghakiminya.
Hobby ‘mengritik dan menghakimi’ orang lain sangatlah merusak baik pribadi yang dikritik dan dihakimi dan juga orang sendiri yang mengritik dan menghakiminya. Yang dikritik atau dihakimi belum tentu bersalah – terlanjur tercoreng nama baiknya. Dan yang senang mengritik atau menghakimi akan dihindari orang-orang sebagai orang ‘asosial’, dihindari karena sebagai orang yang cenderung berpikir dan bersikap negatif tentang orang lain. Maka untuk tidak mudah jatuh ke dalam godaan mengritik sesama, sebagai murid Kristus, kita perlu memiliki sikap yang positif terhadap orang lain dan terhadap situasi dan keadaan yang ada dan terjadi. Kita berlatih untuk selalu mampu melihat sisi positif dari keadaan dan sisi positif dari orang-orang sesama kita. Dengan demikian kita juga lalu dijauhkan dari sikap sombong, merasa lebih superior dari yang lain, merasa selalu benar. Kita umat katolik, bisa saja rajin berdoa dan beribadat di gereja, aktif di Lingkungan dan Paroki, tetapi dapat saja kita tidak sadar bahwa diri kita memiliki kecenderungan berpikir dan bersikap negatif terhadap sesama, mudah mengritik dan sombong rohani. Waspadalah !
Kita tidak akan hidup ceria, kalau kita memiliki kebiasaan melihat sisi gelap dari apa saja, khususnya sisi gelap dari sesama. Kalau demikian kita akan cenderung mengritik dan untuk mencari kesalahan. Tepat apa yang dikatakan Yesus, “Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedang balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui. Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: ‘Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, pada hal balok yang ada di dalam matamu tidak engkau lihat ? Hai, orang munafik…”Luk 6:42 ! (S.Widjojo).
DOA : Bapa, bantulah diriku akan sabda Yesus Putera-Mu hari ini. Tolong aku menyadari bahwa sumber hidup yang aku butuhkan bukan orang yang mengingat diriku betapa banyaknya unsur jelek dalam diriku, tetapi betapa banyaknya unsur baik yang ada dalam diriku.
JANJI: “Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada Tuhan dan untuk menyanyikan mazmur bagi Nama-Mu yang mahatinggi” Mazmur 92: 2
PUJIAN : H.G. Wells, 1866-1946, seorang penulis Inggris kondang dan produktif dalam novel dan cerpen, sampai sebanyak 80 buku. Sewaktu remaja ia harus bekerja di suatu toko: bangun pukul 5 pagi-pagi, menyapu toko dan bekerja selama 14 jam, pulang larut malam. Setelah dua tahun ia mengundurkan diri, tak kuat lagi bekerja. Ia mengeluh kepada ibunya, ia memilih mati saja rasanya. Tetapi ia juga mengkisahkan keluhannya kepada gurunya sewaktu di SD. Dengan sabar, sang guru menghiburnya. Ia tegaskan bahwa ia termasuk siswa berbakatdan sukses. Dengan peneguhan sang mantan guru, ia bangkit dan akhirnya menjadi penulis masyur di Inggris di zamannya, H.G. Wells.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ